Televisi Masa Kini

“Umi, ayo sini, acara sudah dimulai,” teriak seorang anak laki-laki berdarah Jawa dan Betawi sambil melipat kain sarung yang belum dilepasnya seusai menunaikan shalat dzuhur.

“Iya, sebentar lagi, Nak” jawab sang ibu yang masih sibuk menyiapkan bahan-bahan menu masakan untuk berbuka puasa.

Singkat cerita. Selepas menyiapkan bahan masakan yang akan dimasak sore hari, sang ibu beserta anak semata wayangnya menonton tayangan di layar kaca favoritnya.
Ya! Sudah beberapa tahun ini, setiap hari dan pada waktu yang sama di bulan ramadhan, salah satu stasiun telivisi menayangkan sebuah acara edukasi yang sarat dengan pembelajaran, yaitu bertajuk “Hafiz Quran Indonesia”.

Kalau dilihat dari kaca mata saya sebagai orang tua, acara ini berpengaruh  positif untuk anak-anak dan orang dewasa. Setiap alunan ayat yang dikumandangkan oleh bocah-bocah bermata tulus mampu menyiram dahaga ketika terik matahari membersamainya. Bahkan, kecerdasan dari anak-anak tersebut yang mengetahui persis letak ayat dari setiap halaman yang ditanyakan oleh para juri. Para penonton dibuat takjub olehnya.

Selain itu, mendengar kisah  perjuangan dari para orang tua hebat yang putra-putrinya mengikuti kompetisi pun sangat menginspirasi. Tetesan air mata kerap tak mampu terbendung ketika mendengar bagaimana mereka berjuang dalam mendidik anak-anaknya untuk mencintai Alquran, meski dalam keterbatasan.

Nah, sesungguhnya acara-acara seperti inilah yang harus dikembangkan lagi di dunia pertelevisian, terutama pertelevisian Indonesia. Karena  televisi adalah salah satu media yang mampu mengerutkan dunia terlihat menjadi lebih kecil dan mampu menyebarkan informasi atau gagasan lebih cepat.

Tidak dipungkiri bahwa dewasa ini, televisi saat ini sudah kehilangan fungsinya. Yang seharusnya memberi hiburan untuk membangun akhlak malah sebaliknya mengemas sebuah tayangan untuk dijual ke publik dan mencari rating. Dengan kata lain televisi dapat menjadi teman baik manusia,  sekaligus menjadi musuh bagi manusia.

Untuk itulah, mari kita bersama menjadi orang tua pintar memilah tontonan yang pantas untuk si buah hati dan tentu saja tidak membiarkannya menonton sendiri.

Dapat kita bayangkan jika setiap menit, bahkan detik, anak-anak dijejali asupan tayangan yang menggeserkan moral, naudzubillah.

(Visited 2 times, 1 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.