Pintu Depan

Saya masih berharap sosok pemimpin yang mampu melihat dari banyak perspektif. Siapa dia?

Masih seputar sampah. Republika.co.id, bekasi memberitakan tentang tumpukan sampah bambu selepas hujan. Tumpukan sampah itu ditemukan di daerah aliran sungai Cikeas, Kota Bekasi. Kali ini sampah ditemukan tertumpuk di Bendung Koja, Kelurahan Jatiasih Kota Bekasi. Munculnya sampah bambu dalam jumlah besar di sungai Cikeas merupakan kali ketiga dalam dua pekan terakhir.

Kembali kepada warga yang bermukim di tepian sungai tidak mengindahkan keselamatan dan kebersihannya. Perlu regulasi yang tepat sasaran dari pemerintah daerah. Menurut saya kalau perlu regulasi dari pemerintah pusat agar keberadaan sungai terjaga. Termasuk menjaga keselamatan warganya.

Saya jadi ingat beberapa tahun lalu tentang ide letak pintu utama yang menghadap ke sungai. Tidak seperti sekarang ini yang semua pintu depan membelakangi sungai. Sungai sebagai tempat kotor. Tempat pembuangan segala limbah. Baik itu limbah hajat manusia, maupun limbah rumah tangga, bahkan limbah pabrik yang notabene berbahaya. Sudah pasti jika ide tersebut diterapkan dengan tetap mengacu pada area bebas di sekitar bibir sungai, para penghuninya akan menjaga kebersihannya.

Sunatullah manusia yang ingin hidup lebih baik, memiliki lingkungan yang terjaga tidak kotor, dan nyaman. Saya berpikir kenapa tidak ide itu dicoba? Sudah tergambar dipikiran saya, sungai jadi bersih, minimal tidak ada sampah yang dibuang di depan rumahnya sendiri. Sekali lagi, tentu karena malu. Masa kotoran di buang di depan hidung sendiri.

Ah, segera saya tepiskan bayangan ideal itu. Kok seperti tidak mungkin, ya. Saya malah pesimis. Melihatnya beberapa aksi pembongkaran yang tidak tuntas. Menimbulkan kesengsaraan dan kepedihan yang sangat dalam pada penghuninya, membuat saya tidak tega. Sungguh, bukan karena ingin mendukung perbaikan kualitas kehidupan mereka dan lingkungan sungai, tapi saya belum melihat keseriusan pemerintah mengelola masyarakat di bantaran sungai.

Kalau hanya menghancurkan hunian yang tidak memiliki izin mudah-mudah saja. Namun, perlu juga dipikirkan tempat tinggal baru, lapangan kerja, tatanan sosial masyarakat yang menjadi tantangan dari setiap periode kepemerintahan kepala daerahnya. Butuh dibangun dan dirawat. Intinya hunian itu tetap manusia bukan makhluk lain yang tidak memiliki rasa. Butuh di wongke.

Saya masih berharap sosok pemimpin yang mampu melihat dari banyak perspektif. Siapa dia? Saya atau Anda? Mari kita lakukan bersama.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/18/11/26/pit2ns366-sampah-bambu-18-ton-penuhi-sungai-cikeas

(Visited 4 times, 4 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.