Melangkah Menjemput Asa

Tronton satu demi satu tiba. Suara MC malam itu mengiringi para ayah dan bunda yang sedang menjemput rindu, yaitu putra-putrinya agar wajah-wajahnya tertangkap oleh netranya. Pun demikian dengan saya, sesaat dari kejauhan sebuah senyuman menyapa. Sejuk. Berdua, menaiki roda dua menembus rintik hujan yang semakin berjatuhan sebuah cerita mulai bergulir. Nah, dari situlah sebuah aksara terangkai dari salah satu siswa SL 8 yang bernama Naufal Hayan Alfiandes. Ingin tahu ceritanya, yuk kita baca, insya Allah sarat dengan pembelajaran.

Pada tanggal 12  Noveber aku dan teman-teman mengikuti kegatan OTFA susur pantai, atau biasa dikenal dengan ‘surpan’. Pagi itu, selepas shalat subuh udara masih dingin, aku mulai bersiap-siap. Sebelum berangkat,berkumpul terlebih dahulu di SAI Cipedak.

Kalau boleh jujur, dalam setiap kegiatan yang diadakan di sekolah aku sangat senang mengikutinya. Namun, ada satu hal yang paling tidak enak dan tidak nyaman, yaitu menaiki kendaraan tronton menuju ke tempat kegiatan tersebut, karena perutku rasanya seperti dikocok-kocok. Termasuk kegiatan susur pantai kali ini.  Alhamdulillah, kedua orang tuaku selalu memberi motivasi dan terapi khusus agar aku tidak muntah-muntah, apa lagi perjalanan sangat jauh, kurang lebih delapan jam perjalanan.

Setelah sampai di camp pertama yang aku lakukan adalah mendirikan tenda bersama kelompok. Tantangan ketika mendirikan tenda saat itu adalah cuaca yang mendung. Dan gerimis pun mulai turun mengguyur tenda-tenda yang baru didirikan.

Malam itu, aku tidak langsung tidur. Aku dan teman-teman asyik ngobrol, bercanda, dan tentu saja ditemani debur ombak yang tidak pernah letih menggulung-gulung sampai ke tepian pantai. Entah mulai pukul berapa mataku mulai mengantuk, tapi yang aku tahu saat itu adalah malam semakin larut, hanya suara-suara ombak kian menderu-deru.

Sampai tibalah waktu subuh. Ketika baru selesai shalat subuh, aku melihat ke atas langit yang sangat indah. Bintang-bintang bertaburan di angkasa dan hanya Allah yang mampu menciptakan keindahan tersebut. Namun, ketika pandanganku semakin jauh ke angkasa, tiba-tiba sebuah cahaya bergerak, melintas dengan cepat, hanya sekejap. Tentu saja aneh, itu bukan bintang, juga bukan pesawat. Entahlah, benda apa yang tadi aku lihat.

Pada pagi harinya perjalanan mulai menanti. Seluruh tim bersiap-siap untuk melakukan perjalan, penjelajahan pertama lebih banyak berjalan menaiki bukit dari pada di pinggir pantai. Aku jadi ingat waktu OTFA naik gunung tahun lalu, hampir sama, bahkan ini lebih extreme, itu menurutku. Bagiku, berdoa dan saling memberi support adalah sebuah kekuatan agar kita mampu menaklukkan rasa lelah yang datang.

Nah, sampai di camp kedua hujan mengguyur. Untuk kali ini tenda yang kami dirikan itu seperti di kebun. Banyak sekali serangga langsung mendirikan tenda lagi, di sanalah masak menu pertama, yaitu rending, saya dan kami sangat menikmati menu sore itu. Lahap! Pastinya, apa lagi cuacanya hujan. Dan malam itu aku kurang bisa tidur, lagi-lagi di situ banyak serangga, hingga tubuhku pun bentol-bentol.

Keesokan harinya, kelompokku memasak nasi kornet. Belum hilang rasa lelahku, aku dan teman-teman harus segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke curug, yaitu finish surpan kita. Perjalanan itu sangat melelahkan. Naik bukit, turun bukit, melewati permukaan batu-batu, dan karang. Dan rasa capek tersebut terbayar oleh pemandangan yang Allah suguhkan sepanjang perjalanan. Bahkan luka di bagian pundak sebelah kiriku tak terasa sakitnya. Padahal bisa dibilang lukaku sampai terbakar. Ini adalah ujian untukku. Ya, Allah benar-benar menguji terus, yaitu dengan hujan yang kerap menyertai. Bahkan di malam terakhir, kami tidak bisa mendirikan tenda karena banjir. Akhirnya malam itu kami menginap di saung.

Jrenng…jreng… di hari terakhir, sebelum pulang, kami pergi ke air terjun, sayangnya kami tidak boleh mencebur, karena saat itu airnya sedang deres. Ya sudah, kami hanya berfoto dan menikmati pemandangan yang Maha Indah.

Ketika aku ditanya oleh ibuku tentang hikmah yang aku dapatkan, aku hanya bisa menjawab “Hidup itu harus sabar ya, Ma, apapun yang menimpa kita, kita harus kuat dan berusaha, aku harus banyak belajar sabar lagi. Selain itu, aku harus banyak bersyukur sama Allah, karena kasih sayang Allah itu luar biasa ya, Mam”.

Penulis: Naufal Hayan Alfiandes

Siswa  : SL 8 Sekolah Alam Indonesia

Subhanallah, betapa setiap perjalanan itu membutuhkan sebuah perjuangan dan pengorbanan. Jika kita hendak menginginkan kebaikan, jika kita ingin mendapat kebahagiaan di akhir kehidupan kita, maka jawabannya adalah belajar, belajar, dan belajar.

Seperti sebuah kutipan hadits yang diriwayatkan oleh HR.Muslim, no 2690 berikut ini.

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”

(Visited 5 times, 1 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.