Ikan Mas Kuah Kental di Simposium Nasional

Wow, benar ternyata bahwa perilakunya di atas rata-rata.

Menerima undangan Simposium Guru Pendidikan Dasar yang mendadak, membuat saya surprise. Apalagi bersamanya diundang pula guru-guru berprestasi (Gupres) nasional dan guru-guru pemenang olimpiade sains nasional (OSN). Saya berpikir akan bertemu dengan guru-guru hebat seluruh Indonesia yang notabene adalah guru-guru terbaik, berdedikasi, tentu dong atitude-nya juga di atas rata-rata.

Sesaat masuk ruang lobi hotel, sudah mengular antrean peserta. Wow, benar ternyata bahwa perilakunya di atas rata-rata. Mereka dengan tertib mengatur dirinya dalam barisan panjang untuk verifikasi kesertaan dirinya dan nomor kamar yang akan disinggahi dalam beberapa hari ke depan. Saya pun tidak mau ketinggalan. Mesti baru mewakili IGI Depok, tapi kehadiran saya setidaknya menggenapkan 500 peserta yang antusias datang mengikuti simposium.

Begitu pun dengan antrean makan malam yang istimewa dengan menu spesial ikan masnya. Dimasak lunak dengan kuah kental dan beberapa pilihan lainnya yang pasti menggoda dicicipi. Guru-guru hebat ini masih tetap tertib teratur. Sabar menunggu giliran di depan pilihan menu yang disajikan. Saya memilih kudapan ringan mengingat pesan istri tentang pertambahan ketambunan saya. Benar, saya harus menahan diri tidak mengunyah karbohidrat dengan sedikit porsi protein hewani. Saya menjatuhkan pilihan pada beberapa potong ikan mas itu.

Bersyukur, duri-duri kecilnya menyulitkan saya makan. Beruntung, sehingga saya menahan banyak makan. Walau dimasak sangat lembut, tapi lidah saya kurang terampil memilah duri dan daging. Apalagi tangan saya juga tidak cekatan menggunakan garpu dan sendok ala orang-orang barat tanpa denting piring dan sendok. Maklum orang kampung, biasanya saya makan menu ini dengan tangan kosong. Merengkuhnya dan cepat dihantarkan ke mulut sambil satu-satu duri dilepehkan keluar mulut. Namun, tidak mungkin ini saya lakukan di sini. Apa kata orang, “manusia berbudaya rendah”.

Akhirnya saya memilih makan pelan-pelan sambil sesekali tersenyum kecut meladeni guru di sebelah saya menceritakan perlombaan kulinernya. Terpaksa senyum sambil melotot, lantaran duri-duri ikan menjajal tebalnya epitel mulut saya. Saat satu duri tidak mau kompromi dan menusuk dalam gusi saya, mau teriak kok tidak enak hati. Kampungan.

Aha, akhirnya berakhir sudah penderitaan saya setelah saya telan sisa daging yang membalut duri kecil-kecil. Setidaknya aman pertahanan epitel rongga mulut saya. Glek, membiarkan lambung saya mencernanya menjadi energi baru.

 

Kang Yudha

(Visited 2 times, 2 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.