Bermunajat di Tepian Pantai

Ada rasa yang tak pernah berhenti berharap, yaitu kasih sayang Sang Ilahi. Di mana kaki melangkah dan ke mana pun angin membawa, cukuplah isyarat alam sebagai penolong petunjuk-Nya. Nah, puisi ini terinspirasi dari teman-teman yang mengikuti kegiatan susur pantai, yaitu siswa-siswi SL 7 – 8 Sekolah Alam Indonesia Cipedak.

 

“Bermunajat di Tepian Pantai”

Pagi itu, di hari kedua belas pada bulan November.
Awan mendung bergerombol berbaris berbanjar.
Mengintai para pemuda yang akan berjuang.
Menyusuri pantai dengan semangat juang.

Menjelang sore, telapak kakinya mulai menginjak butiran-butiran di bibir pantai.
Nyanyian gemericik rinai, lembut mengiringi.
Para pemuda berjibaku agar tenda-tenda kokoh berdiri.
Bersama debur ombak yang tiada henti memuji.

Ya Allah,
Sesungguhnya saat ini permulaan malam-Mu,
Dan berakhirnya siang-Mu,
Dan suara-suara dari orang-orang yang berdoa kepada-Mu,
Maka ampunilah aku.

Ya, malam telah tiba.
Sungguh, betapa indah gugusan bintang menghiasi langit gulita.

Pagi datang lagi.
Membangunkan para pejuang dengan kicauan burung.
Mengantarnya ke tepian pantai untuk bersujud.
Melangitkan doa, bersama untuk bermunajat.
Agar bersimbah rahmat-Nya.

Matahari mulai bersinar.
Membawa para pejuang menelusuri butiran-butiran pasir.
Tidak! Tidak hanya bulir-bulir pasir.
Para pemuda harus berjuang menapaki semak belukar.
Menyeberangi batu-batu besar.
Melewati karang-karang yang sesekali dibanjiri gulungan ombak.

Bersabar, ya bersabar! Meski langkahnya terseok-seok.
Semangatnya tak mudah terkikis hingga titik.
Tak menyerah, walau langkah melemah.
Tak menangis, walau lukanya membedah.

Hujan selalu mengiringi perjalanan.
Hujan datang selalu membawa tujuan.
Bukan keburukan, tentu saja bukan!
Melainkan kebaikan dan keberkahan.
Hanya saja, keadaan dan waktu membuat seseorang berprasangka.

Biarkanlah gemericik gerimis yang menyirami menjadikan keberkahan.
Biarkanlah tetesan-tetesan keringat menjadi saksi penantian.
Karena hanya kekuatan dari-Nya yang selalu diharapkan.
Senandung doa pun kerap ditengadahkan
Sebagai pengantar kekuatan.

Pada akhirnya perjalanan tiba pada ujungnya.
Langkah tak lagi susul menyusul.
Hanya satu tempat tujuan.
Itulah hakekatnya kehidupan.
Hidup akan terus bergulir hingga tak ada yang tetap untuk menetap di dunia.

Bersabarlah…
Sesungguhnya jika kita mampu memanjangkan rasa sabar, maka pertolongan Allah akan datang.
Bersyukurlah…
Sesungguhnya jika kita mensyukuri nikmat-Nya, maka kita sedang dicintai Allah SWT.

(Visited 20 times, 18 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.