Batu Menangis (Dikonstruksikan kisah rakyat dari Kalimantan)

Disebuah daerah Kalimantan, hiduplah dua orang perempuan, yaitu seorang Ibu dan anak. Sepeninggal kepala rumah tangga yang dicintainya mereka hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Rumah berdinding kayu dan beratapkan jerami berdiri, menyendiri, di salah satu bukit dan jauh dari desa. Semburan air yang disertai angin kerap menerobos masuk ke pojok ruangan.
“Cinta Ibu sepanjang masa dan cinta anak sepanjang galah.” Mungkin pepatah ini yang cocok untuk mereka berdua. Kesabaran dan ketulusannya mengasuh dan mencintai anak tunggalnya sungguh luar biasa. Setiap hari menghabiskan separuh waktunya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja demi memenuhi kebutuhan sang anak.
Hari berganti hari dan bulan pun berganti tahun. Anak satu-satunya tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Seorang Ibu pasti bahagia jika melihat anak-anaknya tumbuh sehat. Pun demikian dengan perempuan bernama Enon, ia sangat bahagia melihat putrinya tumbuh sehat dan cantik. Namun, kecantikan yang dimiliki putrinya bertolak belakang dengan hatinya.
“Uma, kenapa lama sekali kamu pulang? Aku sudah lapar nih, tidak ada makanan!” teriak Bungeh ketika melihat sang Ibu berjalan menuju pintu.
“Tadi Uma harus membawakan belanjaan orang dulu, Nak,” jelas wanita yang dipanggil dengan sebutan Uma itu.
“Ah! Sudah sana masak, aku lapar!” bentak Bungeh. Ia tak peduli betapa lelahnya sang Ibu. “Oh ya, mana uangnya? Bedakku sudah habis,” lanjut Bungeh, uang yang ada dalam genggaman sang Ibu diambil tanpa permisi. Segala permintaannya pun harus dituruti.
Setiap malam yang dilakukan Enon hanya bisa menangis dan mengadu pada-Nya. Memohon agar Allah memberi cahaya pada hati putrinya.
Suatu pagi bersama hangatnya mentari memeluk bumi, kedua perempuan itu turun ke desa untuk membeli kebutuhan yang sudah habis. Enon meminta putrinya untuk ikut bersamanya. Tetapi dengan tegas Bungeh memberi persyaratan kepadanya.
“Oke, aku ikut Uma ke desa, tapi Uma harus jalan di belakangku! Dan ingat, jangan dekat-dekat!” persyaratan tersebut pun diiyakan Enon. Betapa hatinya menangis. Ia rindu memeluk putrinya, ia rindu melihat senyum hangat sang putri padanya, dan ia rindu bergandeng tangan dengan buah hatinya.
Mereka berdua pun berjalan. Bungeh terlihat cantik sekali. Ia sengaja bersolek dan memakai kaus berwarna merah cabai agar para lelaki tertarik padanya. Lain halnya dengan wanita yang berjalan di belakang. Pakaiannya terlihat lusuh, tangannya memegang sebuah tas yang terbuat dari anyaman bambu buatannya sendiri. Dan dalam perjalanan Bungeh bertemu dengan teman-temannya.
“Hey Bungeh, mau ke mana?” tanya salah satu temannya.
“Aku mau belanja nih,” jawab Bungeh. “Ngomong-ngomong kalian dari mana?” tanya Bungeh.
“Kita dari pasar, nih belanjaannya,” jawab teman-temannya serentak sambil menunjukkan barang-barang yang dibawanya. “Oh ya, wanita tua yang di belakang kamu itu siapa? Itu Ibu kamu ya?” tanyanya.
“Bukan! Dia bukan ibuku, mana mungkin aku punya Ibu yang jelek seperti dia! Dia hanya seorang pembantu!” jelas Bungeh sambil mendorong tubuh ibunya hingga jatuh.
“Bungeh! Seharusnya sikapmu tidak seperti itu padanya, siapa pun dia!”salah satu temannya terlihat geram akan sikap Bungeh yang semena-mena kepada wanita yang didorong hingga terjatuh.
“Bukan urusan kamu! Ayo bangun, jangan manja seperti itu,” Bungeh menarik tubuh ibunya yang masih meringkuk di tanah. Teman-temannya hanya menggelengkan kepala.
“Uma! Ini semua gara-gara kamu, teman-teman jadi marah sama aku!” lagi-lagi Bungeh mendorong ibunya sampai terjatuh dan terluka. Ia sudah tidak tahan akan sikap putri satu-satunya, seketika itu sang Ibu berdoa dengan derai air mata.
“Ya Allah, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandungku begitu tega memperlakukanku semena-mena. Hukumlah dia, jika itu dapat membuatnya sadar,” dengan derai air mata yang terus mengalir, tiba-tiba suara petir terdengar menggelegar. Sedangkan Bungeh tiba-tiba kakinya tak dapat digerakkan. Mematung seperti batu. Bungeh berteriak histeris dan masih menyalahkan ibunya. Beberapa pasang mata yang melihat kejadian itu mengumpat gadis itu, termasuk dengan wanita pemilik warung makan tempat Enon bekerja.
“Kamu itu harus meminta maaf sama ibumu, ini hukuman Allah atas sikapmu yang durhaka padanya! Lihat! Lihat ibumu, pandang dia lekat-lekat, Bungeh! Apa pernah dia menyakitimu? Ingat! Surgamu ada di telapak kaki ibumu, Bungeh,” mendengar kalimat dari majikan ibunya itu, Bungeh semakin menangis dan tiba-tiba memanggil ibunya.
“Uma, Umaaa, ampuni Bungeh, Uma, maafkan atas sikap Bungeh selama ini, ampuni, Umaaa,” gadis cantik yang tak bisa bergerak itu terus menangis memohon ampunan pada ibunya.
Enon adalah wanita yang berhati tulus. Melihat putri kesayangannya seperti itu, ia pun mendekap dan membelai wajah putrinya. “Maafkan Uma, Nak, Uma memaafkanmu,” mereka berdua pun berpelukan, bersimbah air mata. “Nak, mohonlah ampun pada-Nya, Uma pun akan memohon ampunan untukmu,” bisik Enon dan dibalas dengan anggukkan kepala putrinya.
“Ya Allah, sesungguhnya hamba memaafkan kesalahannya, ampunilah dia untuk hamba,” perlahan kaki Bungeh dapat digerakkan, sungguh ini adalah mukjizat dari-Nya.
Atas izin dan ampunan dari-Nya, kini mereka berdua hidup bahagia. Kerinduan Enon sebagai seorang Ibu memeluk anak gadisnya terkabulkan. Pun demikian dengan Bungeh. Ia semakin dewasa dan sangat menyayangi ibunya. Tak segan ia meminta ibunya untuk mengajari memasak dan mencuci baju yang benar. Sesekali dalam tawanya, mata mereka saling berkata “Aku sayang kamu.”
Masyaa Allah, sesungguhnya hanya Allah yang mampu membolak-balikkan hati seseorang.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.