Ashabul A’raf. Siapakah Mereka?

Surat Al A’raf diturunkan pada situasi dan kondisi yang menggambarkan persaingan antara hak dan bathil. Sesungguhnya kondisi demikian merupakan sunnah yang berlaku terus menerus dan berlangsung sejak Allah menciptakan dunia hingga kiamat tiba. Surat ini dimulai dengan mengungkapkan persaingan atara Nabi Adam dengan Iblis pada awal penciptaannya. Kemudian, dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai perbincangan antara penduduk surga dan neraka.

Yang menarik, ternyata diantara surga dan neraka terdapat batas  sebagai tempat ketiga bagi segolongan manusia. Batas ini untuk memisahkan golongan surga dan neraka selama-lamanya. Batas inilah yang menjadi sebab penamaan surat Al A’raf.

Dan diantara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas,dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.(QS. Al A’raf : 46)

Lalu siapakah yang dimaksud dengan Ashabul A’raf itu? Dalam kitab Khawatir Qur’aniyah disebutkan bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang kebaikan dan keburukannya sama. Mereka adalah orang-orang yang tidak menentukan sikap dalam kehidupannya.  Karena sesungguhnya pahala itu tak akan tertukar, semua bergantung kepada jenis perbuatan yang dilakukan. Pada hari kiamat, golongan ashabul A’raf ini kelak ditempatkan di sebuah tempat yang tinggi (yang diberi nama Al-A’raf) yang berada diantara surga dan neraka. Dengan demikian, mereka dapat menyaksikan dua tempat sekaligus. Orang yang ragu-ragu mencakup beberapa kelompok dari manusia, maka demikianlah yang terjadi pada Ashabul A’raf, mereka itu jumlahnya banyak.

Sebagai orang tua tentu yang kita inginkan adalah seluruh anggota keluarga masuk dalam golongan ahli surga, tanpa pernah mencicipi api neraka terlebih dahulu. Kitapun kelak tak ingin menyaksikan ada diantara anggota keluarga yang menjadi Ashabul A’raf. Sehingga sedari dini kita berusaha mengajarkan kebaikan dan menanamkan prisnsip-prinsip kebenaran itu dalam diri anak. Batasan antara hak dan bathil tak perlu ragu lagi kita berikan pada anak. Sementara pada anak usia pra baligh, pendidikan yang utama dari orang tuanya adalah keteladanan serta konsistensi. Dimana anak akan melihat cermin yang memantul dari lingkungan terdekatnya, terutama orang tua dan guru.

Tak perlu khawatir bila anak tak mengikuti arus kebanyakan, hanya karena menegakkan kebenaran. Tak perlu juga risau dengan segala godaan selagi anak teguh dalam menempuh jalan yang Allah ridhoi.

Semua berpulang kepada kita, semoga Allah mudahkan segala niat baik dan ikhtiar kita di dunia hingga pada akhirnya berkumpul di surgaNya.

(Visited 719 times, 42 visits today)

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.