Kontras

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Masih ingat dengan berita beberapa tahun lalu, saat Indonesia kehilangan puluhan pulau kecil karena kerusakan alam? Datanya ada 20 pulau di perairan utara Jakarta tenggelam. Sedih jika membaca prediksi yang dilakukan para ilmuan internasional tentang dampak global warming, khususnya yang terjadi di Indonesia. Dua ribu pulau akan hilang di tahun 2030. Informasi jurnal ilmiah menyatakan, temperatur udara di Indonesia naik mencapai 0,8 derajat celcius. Artinya terjadi kepanasan yang tidak biasa di wilayah Indonesia. Penguapan terjadi lebih banyak dari biasanya. Bisa jadi curah hujan di suatu daerah meningkat, tetapi di daerah lain mengalami kekeringan, tergantung angin mengarahkan dan awan yang terbentuk. https://www.boombastis.com/

Nah, kini sudah terjadi walau masih bisa dalam skala lokal. Misalnya yang diberitakan http://pekanbaru.tribunnews.com/  20 rumah warga di Desa Muara Fajar Barat, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, terendam banjir. Hal ini terjadi akibat hujan lebat yang mengguyur Kota Pekanbaru sejak Selasa sore yang berlanjut hingga malam hari.

Sementara, krisis air bersih dampak kemarau berkepanjangan di Sragen terus meluas. Bahkan kekeringan tahun ini tercatat sebagai kekeringan terpanjang dan terparah sepanjang sejarah Sragen. Data yang tercatat di PDAM Sragen, permintaan droping meluas di 10 kecamatan dari 20 kecamatan yang ada di Sragen. Saking parahnya, permintaan droping air bersih tahun ini mencapai angka 1.000 tangki lebih. https://joglosemarnews.com/

Ada kontradiksi antar wilayah di Pulau Sumatera dan di Pulau Jawa pada bulan yang sama, padahal masih dalam satu negara. Saya menduga global warming telah berdampak di negara Indonesia. Daerah khatulistiwa yang dikenal masyarakat dunia sangat aman dari bencana kelaparan karena kekeringan, karena curah hujan tergolong tinggi. Terletak di antara dua benua Asia dan Australia yang anginnya bersahabat, membawa awan hujan sepanjang tahun. Baca juga di http://www.kelaskayu.com/curah-hujan-yang-bersahabat/ dan http://www.kelaskayu.com/keberkahan-yang-diwaspadai/

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Memberi peringatan sekaligus penyadaran bahwa sepotong negeri yang dihadiahkan Sang Pencipta adalah berkah yang harus dijaga bukan dieksploitasi. Dirampas dan dirusak. Disia-siakan, pengelolaannya tidak diurus dengan baik, berkesan tidak bersyukur.

“(Allah) yang Maha Pengasih, Yang telah mengajarkan Al Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya). Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan). Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya), di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman: 1-13).

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://www.google.com/search?q=kekeringan&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjK08Pi58XeAhXLpI8KHWdDD1UQ_AUIDigB&biw=979&bih=469#imgrc=7K91qPoDeW0baM:

(Visited 11 times, 11 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply