Warisan Doa Kakek Buyut

(Lantunan Doa)

Gelisah gundah penuh sesal yang menyesakkan dada.

Merenung akan lalai dan khilaf yang telah terjadi.

Akankah ampunan akan diperoleh.

Dalam kegelapan dunia yang baru saja dipijak.

Dunia yang luas pun teras sempit, sesempit hatinya.

Membayangkan murka yang menimpanya.

Permohonan maaf dan ampunan pun mengalir bagai air bah.

Mengalun lantunan doa penuh harap akan penerimaan.

Rabbanaa dzollamna anfusanaa wa inlam tagfir lanaa

wa tarhamnaa lanakunanna minal khosiriin

Hingga tobat yang dijalankannya pun mendapat jawaban.

Rabb yang Maha Kasih menerimanya.

Dan dunia pun menjadi lapang selapang perasaan dalam dadanya.

Dunia kini mulai terasa terang seterang pikirannya.

 

Membaca kisah para utusan Allah tidak pernah bosan, tidak pernah habis hikmah yang bisa didapatkan. Mungkin beberapa kali kita membaca atau mendengar kisah-kisah para nabi, bahkan mungkin ada yang sampai puluhan kali, namun setiap membacanya seringkali ada nuansa yang berbeda dan kita seolah diarahkan pada satu hikmah dari banyaknya hikmah dalam kisah tersebut seperti misalnya saat membaca kisah Nabi Adam Alaihi Salam , saya seolah fokus pada fragmen kisah tobatnya manusia pertama ini.

Hal yang menarik adalah suasana hati dan pikiran yang digambarkan dengan kata sempit dan gelap saat menyadari kesalahan dan dosa yang telah dilakukannya. Dan bagaimana cara mengatasi suasana perasaan dan pikiran dalam kondisi demikian. Sehingga saat kepasrahan dan pengharapan pada puncaknya, seolah-olah cahaya datang dan membuka sumbatan-sumbatan dalam perasaan dan pikiran kemudian jadilah terang pemikiran dan menjadi lapang perasaannya. Jalan keluar pun dapat dilihat.

Dan yang terpenting dari kisah ini adalah doa yang tulus sepenuh jiwa dan raga, yang terdokumentasikan.  Doa Nabi Adam Alaihi Salanm ini adalah warisan terindah yang baginda Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam sampaikan, sehingga tatkala para cucu Nabi Adam ini melakukan kehilafan dan kelalaian atas pesan dan amanah Allah, bisalah merujuk pada pengalamannya dan bisalah melantunkan doa yang sama dengan harapan yang sama yaitu peneriamaan kembali dari Allah yang telah menciptakan kita dan memilih kita dengan misi penciptaannya.

(Visited 14 times, 1 visits today)
Diah Hutami

Diah Hutami

Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia tahun 1999. Membaca dan menulis puisi merupakan hiburan tersendiri. Mengamati dan menganalisa serta mengaitkan satu dengan yang lainnya adalah keasyikan dalam sebuah perenungannya. Tahun 2001 menikah dan kini telah dikaruniai 4 orang anak. Tahun 2015 diamanahi menjadi Litbang Sekolah Alam Indonesia.

More Posts

Diah Hutami

Diah Hutami

Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia tahun 1999. Membaca dan menulis puisi merupakan hiburan tersendiri. Mengamati dan menganalisa serta mengaitkan satu dengan yang lainnya adalah keasyikan dalam sebuah perenungannya. Tahun 2001 menikah dan kini telah dikaruniai 4 orang anak. Tahun 2015 diamanahi menjadi Litbang Sekolah Alam Indonesia.

Leave a Reply