Tukar Kado

Hari ini adalah hari yang mendebarkan bagi Ridwan, pasalnya dua hari yang lalu ibu guru meminta seluruh siswa membawa kado untuk kegiatan saling bertukar hadiah dalam bentuk kado. Kado yang dibawa akan diberikan kepada kawan dari hasil undian berpasangan . Seperti arisan ibu – ibu, nama nama yang di tulis di secarik kertas kemudian di gulung dan dimasukkan ke dalam kelas yang kemudian dikocok dan dikeluarkan. Dua nama yang keluar adalah pasangan bertukar kado.

Kegiatan bertukar kado bagi Ridwan yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas tiga  adalah hal yang baru sehingga terasa begitu istimewa. Ridwan mempersiapkan kadonya dengan sungguh sungguh, dibelinya dengan menggunakan uang jajan jatah dua hari. Sambil memegang kado pikirannya melayang menerka-nerka tentang siapa kawan yang akan menjadi pasangan bertukar kado.

Saat pengundian pun dimulai, degup jantung Ridwan terasa semakin cepat. Pasangan nama pertama dibacakan, “Ah, ku kira namaku disebut, ternyata bukan” Ridwan penuh harap.

Sepasang nama yang keluar dari gelas undian terus dibacakan, namun nama Ridwan tidak kunjung keluar. Ridwan pun semakin penasaran, tubuhnya pun mulai bergoyang- goyang menandakan ia mulai cemas. “Ah, jangan-jangan namaku tak ada dalam gelas undian itu, masa sedari tadi namaku tidak keluar keluar.” Rasa curiga mulai menghantui pikirannya.

Gulungan kertas undian berikutnya pun di bacakan ibu guru, “Ridwan dan Andi” .

“Yeee, aku ada” teriak Ridwan sambil berdiri dan mengangkat kadonya dengan kedua tangan saat namanya dibacakan. Ridwan pun langsung melemparkan pandangannya ke tempat duduk Andi.

Perlahan-lahan  kegembiraan Ridwan  memudar, berganti kecewa, karena ia tidak menemukan Andi di tempatnya. “Bu Guru, Andi tidak ada. “ kata seorang murid .  Ridwan pun tersadar ternyata pasangan bertukar kadonya hari ini tidak hadir, akhirnya Ridwan  duduk kembali, sambil menundukan pandangan menyembunyikan kekecewaan dalam hatinya.

“Baiklah, karena Andi tidak hadir hari ini maka Ridwan bertukar kadonya menunggu Andi masuk ya, dan kadonya disimpan saja di lemari kelas,” kata ibu guru kepada Ridwan.

“Tidak Bu, Saya akan antarkan  hari ini setelah pulang sekolah,” jawab Ridwan  yang tidak mau menunda hari pertukaran kado.

Bagi Ridwan menunggu sampai Andi masuk berarti memperpanjang rasa penasaran untuk melihat ekspresi Andi saat menerima kado istimewa darinya dan tentang hadiah apa yang akan ia dapat.

Selepas pulang sekolah Ridwan bergegas pergi ke rumah Andi.Bagai pembalap memburu hadiah utama, dikayuhnya sepeda dengan kekuatan penuh.

“Brak” suara sepeda membentur batang pohon di depan rumah Andi. Setengah melempar Ridwan menghempaskan sepedanya ke arah pohon jambu biji sambil berlari menuju depan pintu rumah Andi yang terbuka lebar.

“Assalamualaikum” dengan suara yang masih tersengal-sengal  Ridwan mengucapkan salam sambil matanya memandang Andi yang sedang sibuk mengurusi ke – 4 adiknya yang masih kecil – kecil.

“Wa ‘alaikumusalam. Eh, Wan , silahkan masuk“ Andi sedikit kaget melihat kedatangan Ridwan.

“Andi bagaimana keadaanmu?, Kenapa kamu tidak masuk sekolah?” Tanya Ridwan sambil mengusap keringat yang masih saja mengalir di dahinya.

”Aku baik baik saja, hanya ibuku hari ini sedang kurang sehat, jadi aku harus menjaga adik adik.” Andi menjelaskan sambil menunjuk adik adiknya yang sedang berebut mainan.

Sesaat terlintas dalam benak Ridwan kalaulah Andi tidak masuk karena tidak memiliki uang untuk membeli hadiah. Masuk sekolah pun pasti malu kalau tidak membawa hadiah untuk acara tukar kado. Pikirannya berkecamuk,  Ia membandingkan kehidupan Andi dengan dirinya.

Ridwan menghela nafas. Ia tidak menyangka kalau kehidupan kawannya sangat sederhana hingga bila ibu atau ayahnya sakit terpaksa tidak sekolah karena harus membantu menjaga adik-adiknya. Ridwan melihat kawannya begitu kerepotan menjaga adik-adiknya. Ada haru menyelimuti pandangannya yang sesekali mengamati kondisi ruangan rumah dan adik adik Andi yang bermain riang di lantai tanah beralaskan tikar pandan.

“Oh iya, Andi ini ada hadiah, he he he tidak seberapa, tapi mudah mudahan kamu suka” sambil tersenyum Ridwan menyerahkan bungkusan yang dibawanya. Hadiah yang ia persiapkan untuk acara bertukar kado di sekolah kini telah ia bawakan ke hadapan pasangan bertukar kado tanpa berharap mendapatkan kado balasan.

Adik- adik Andi pun serta merta mengerubungi kado yang telah berpindah tangan dari Ridwan kepada Andi. Terjadi keriuhan, Adik adik Andi Saling berebut  dan ingin mengetahui isi dari bungkusan kado. Keributan kecil terjadi yang mendorong Andi untuk segera membuka hadiahnya.

“Wan aku buka ya!” kata Andi sambil tersenyum antara malu melihat kelakuan adik-adiknya dan senang mendapatkan hadiah dari Ridwan.

“Oh silahkan“ sahut Ridwan tersenyum puas melihat sekelumit kebahagiaan Andi dan adik adiknya menerima pemberiannya. Hadiah yang telah ia persiapkan dari uang jajannya selama dua hari untuk hari istimewa, hari bertukar kado.

Ridwan merasakan kebahagiaan dan kepuasan yang tiada tara saat melihat Andi dan adik adiknya menikmati isi hadiah berupa  satu bungkus permen dan biskuit. Sekali lagi ini hari istimewa bagi Ridwan,  Ia memberikan kado dan Ia mendapatkan kebahagiaan dari kebahagiaan kawannya saat menikmati hadiah yang ia berikan.

(Visited 74 times, 19 visits today)
Diah Hutami

Diah Hutami

Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia tahun 1999. Membaca dan menulis puisi merupakan hiburan tersendiri. Mengamati dan menganalisa serta mengaitkan satu dengan yang lainnya adalah keasyikan dalam sebuah perenungannya. Tahun 2001 menikah dan kini telah dikaruniai 4 orang anak. Tahun 2015 diamanahi menjadi Litbang Sekolah Alam Indonesia.

More Posts

Diah Hutami

Diah Hutami

Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia tahun 1999. Membaca dan menulis puisi merupakan hiburan tersendiri. Mengamati dan menganalisa serta mengaitkan satu dengan yang lainnya adalah keasyikan dalam sebuah perenungannya. Tahun 2001 menikah dan kini telah dikaruniai 4 orang anak. Tahun 2015 diamanahi menjadi Litbang Sekolah Alam Indonesia.

One thought on “Tukar Kado

  • Amir
    September 25, 2017 at 09:28
    Permalink

    Kebahagiaan itu paling enak di akhir cerita, bahkan bisa meneteskan air mata kebahagiaan

    Reply

Leave a Reply