Transparansi Komunitas

Ternyata tidak mudah loh menjaga komunitas. Setidaknya saya punya pengalaman membersamai komunitas. Hampir dua puluh tahun bergelut di sebuah komunitas sekolah dan lima belas tahun bergelut di komunitas pertanian. Seperti yang saya ceritakan pada tulisan awal tentang komunitas. Waktu tersebut bukan tergolong sebentar untuk bisa merasakan pahit getir yang namanya komunitas.

Saya bisa pastikan bahwa semangat kebersamaan dalam komunitas itu turun naik. Ya tentunya jika tidak dirawat. Pasti tidak akan lama bertahan. Sebenarnya kalau hanya dibicarakan saja memang mudah kok. Sulitnya justru saat dipraktikkan. Menurut saya, satu kuncinya adalah transparansi. Apalagi jika mengenai keuangan. Duh, ruwet urusannya.

Bicara transparansi menjadi perlu untuk membangun semangat keterbukaan. Bukan karena tidak percaya tapi organisasi yang dibangun secara terbuka memberi kepercayaan yang tulus. Transparansi menjadi satu cara untuk memastikan agar bisa mempertahankan sumber daya manusia, baik guru dan orang tua. Transparansi juga akan meningkatkan keterlibatan guru dan orang tua karena dapat mengembangkan pencapaian tujuan dan kepuasan bekerja dengan adanya kepercayaan. https://www.jobstreet.co.id/id/cms/employer.

Bayangkan, sarana dan prasarana sekolah yang terbatas mampu dipenuhi oleh komunitas. Saya masih ingat ketika kelas TK belajar tata surya. Siswa dan guru menginap di sekolah dan melihat bulan satu per satu lewat teropong pinjaman salah satu atau dua dari orang tua siswa. Padahal sekolah memang tidak memiliki sarana penunjang belajarnya.

Lain lagi ketika kelas V hendak belajar di Yogyakarta. Merencanakan pembelajaran yang tidak bisa. Napak tilas Ki Hajar Dewantara di tanggal 2 Mei. Bisa upacara “bareng” anak taman siswa kemudian dilanjutkan dengan ziarah kubur ke makam beliau. Mewawancarai anak buyutnya menjadi kegiatan pembelajaran yang “keren”. Siapa lagi kalau bukan difasilitasi orang tua-orang tua siswa yang berasal dari Yogyakarta. Orang tua yang masih memiliki sanak saudaranya di sana. Bisa mengirit biaya konsumsi dan akomodasinya.

Atau ketika kelas III belajar zoo. Guru dan siswanya merancang kandangnya. Belajar tentang herbivora, karnivora, dan omnivora. Sekali lagi kerja sama dengan orang tua siswa yang mempunyai link di kebun binatang. Betapa indahnya pembelajaran tanpa batas. Mendatangkan beberapa binatang liar ke sekolah. Kandang kelas III. Ada tiket restribusinya. Ada nilai ekonomi yang diperoleh. Ada pembelajaran kelas eksklusif karena menghadirkan kebun binatang ala kelas III.

Sekali lagi karena komunitas. Semuanya tentu harus transparan. Pembelajarnya transparan. Pembiayaannya transparan. Guru – siswa – orang tua senang.

Susahnya kalau sudah transparan masih belum paham juga. Biasanya beda frekuensi. Gigit jari saja kalau sudah begini. Padahal pada sistem transparan dalam praktiknya cukup mampu meningkatkan partisipasi orang tua terlibat secara langsung.

 

Sumber foto: https://www.google.com/search?biw=865&bih=414&tbm=isch&sa=1&ei=p-MUW8TjEpKc9QPB1b7ICQ&q=transparan+kaca&oq

(Visited 25 times, 25 visits today)
Yudha Kurniawan

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Yudha Kurniawan

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply