Tips Menjadi Ibu (yang memilih) Bahagia

Sebelum menikah dulu saya pernah bertanya pada teman yang sudah menikah lebih dulu, “Apa memang menikah itu menyenangkan?” Dengan senyum simpul teman saya menjawab, ” Saya menyesal menikah…kenapa nggak dari dulu aja”

Wah… Sebegitunyakah? Padahal yang ada di benak saya pilihan menikah itu bukan pilihan yang mudah, karena di balik pahala besar yang menanti dari urusan menyempurnakan separuh dien, pasti ada segudang pekerjaan rumah yang banyak. Apalagi saat itu, saya masih menikmati pekerjaan sebagai karyawati konsultan asing yang tentunya punya banyak sisi duniawi jauh lebih menarik-menurut saya saat itu- ketimbang mengurus rumah tangga. Apalagi saya bukanlah orang yang berpengalaman mengurus anak kecil, karena saya terlahir sebagai anak bungsu di keluarga.

Ketika saatnya seorang lelaki -insyaa Allah- sholih datang meminang, saya sempat berpikir ragu untuk memutuskan mempunyai anak lebih cepat pasca menikah. Takdir Allah berbicara lain, ternyata 4 bulan setelah akad nikah, saya mengandung anak pertama. Dan petualangan menjadi ibupun dimulai dari sini.

Kaget pastinya terutama ketika saya memutuskan -resign- dari kantor demi kepentingan keluarga. Tiba-tiba saya dihadapkan pada dunia yang benar-benar baru saya hadapi. Namun kini setelah 13 tahun memilih jadi ibu rumah tangga, in syaa Allah sayapun memilih jadi bahagia.

Mau tahu tipsnya?

  1. Ridho dengan garis kehidupan yang telah ditakdirkan Allah. Barangkali kalau mendengar kata ridho yang terbayang di benak kita adalah kesulitan atau kesengsaraan. Padahal jika kita mau menggunakan kacamata lain, maka in syaa Allah hikmah kebaikan akan kita dapatkan di sana.
  2. Ikhlaskan kemampuan diri. Barangkali karena haus ilmu, kita sering mengikuti seminar, kajian atau workshop parenting dimana-mana. Itu sebenarnya tak ada yang salah. Namun ada kalanya kita juga bisa mengukur kemampuan diri, sehingga pengaplikasian ilmu parenting yang didapat bisa menyesuaikan dengan kemampuan diri sendiri. Agar kita tak terlalu terbenani dengan keinginan menjadi ibu yang ideal.
  3. Ikhlaskan kondisi anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jangan sampai kita membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain yang tampaknya lebih baik. Karena di balik kekurangan anak, Allah pasti menyertakan kelebihan yang barangkali kita belum sempat menggalinya.
  4. Luangkan waktu untuk keluarga, diri sendiri dan masyarakat.Semua ini tentu dalam kerangka beribadah kepada Allah lho, jadi jangan berpikir ibadah hanya yang bersifat ritual saja. Pada dasarnya keseimbangan itu perlu, sehingga pembagian waktu atas diri sendiri, keluarga dan masyarakat itu juga harus proporsional. Sempatkan meluangkan waktu ‘me time’ sebagai bagian dari membahagiakan diri sendiri.
  5. Sempatkan waktu untuk menyalurkan hobby. Kadangkala kesibukan pekerjaan rumah tangga menyita waktu para ibu, terutama yang anaknya masih kecil. Namun memberi kesempatan untuk mengerjakan kegiatan yang mengasyikkan itu juga perlu sebagai penghilang kejenuhan. Pastinya hobby yang postif ya, seperti mencoba resep baru, bertanam, menulis, dsb.
  6. Banyak-banyak berdo’a untuk kebaikan anak dan keluarga
  7. Saya cukupkan poin-poin ini dulu, silakan yang punya tambahan poin lain bisa membaginya di kolom komentar. Semoga bermanfaat tips-tips dari saya.
(Visited 41 times, 1 visits today)
Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply