Strategi dan Taktik Belajar

What we must do and how we do.

Setelah duduk beberapa saat di ruang kerja di kediaman saya, masih belum juga mendapat sinyal kuat. Sejak duduk, sinyalnya turun naik bahkan hilang beberapa menit. Alamak, saya merasa waktu ini begitu lambat, tidak efektif. Mendekati satu jam, akhirnya ada sinyal setengah. Satu naskah dari Kabupaten Agam berhasil saya unduh. Naskah tentang strategi belajar. Saya pikir akan membosankan membacanya dengan perspektif saya sebagai guru swasta yang bebas bereksperimen dan banyak melakukan kegiatan belajar di luar kelas.

Bagaimana tidak, sekolah saya memberi ruang kebebasan mengeksplor materi, metode, hingga media belajar dalam bentuk kegiatan real secara visual melibatkan langsung tiga ranah pendidikan. Kognitif, psikomotorik, dan afektif sekaligus.

Namun ternyata, saya merasa mendapat banyak pengetahuan praktis yang bisa dibahasakan dengan lebih jernih dan tegas. Contohnya saja tentang pembahasan strategi dan taktis. Sengaja saya kutip dari tulisannya yang merujuk pada pendapat Drucker (2005).

Pertama, strategi berarti what we must do, apa yang harus kita kerjakan. Sedangkan taktik berarti how we do, bagaimana kita melakukan. Kedua, strategi adalah do right thing, melakukan sesuatu yang benar. Sedangkan taktik do thing right, melakukannya dengan benar. Ketiga, strategi adalah use fight to be winner in war, menggunakan pertempuran untuk memenangkan perang. Sedangkan taktik adalah use army to be winner in fight, menggunakan tentara untuk memenangkan pertempuran.

Jadi menurut pemahaman dangkal saya tentang strategis adalah perencanaan sebelum terjun ke lapangan belajar bersama siswa untuk mencapai keberhasilan belajar bersama. Ada beberapa alternatif perencanaan. Sementara taktik adalah bagaimana memilih dan menerapkan perencanaan yang sesuai di lapangan belajar untuk mencapai keberhasilan belajar yang diharapkan.

Sebenarnya bertahun-tahun mengajar, saya pun menerapkan strategi dan taktik, walau baru tahu istilahnya belakangan. Setiap malam, saya bergantian menyiapkan beberapa alternatif kegiatan belajar dengan mengurus bocah-bocah di rumah. Keesokan harinya di sekolah, saya sudah datang pagi-pagi sekali untuk menyimpan clue agar tidak terlihat siswa dan menjadi permainan seru saat mencari harta karun atau meletakkan materi belajar di kegiatan study station seperti worksheet Matematika dan Bahasa Indonesia juga eksperimen kecil pada pelajaran sains.

Wow, beruntungnya saya karena pernah disibukkan dengan begitu banyak perencanaan yang membuat banyak alternatif pilihan belajar. Saya berharap kegiatan bersama saya masih diingat mereka yang pernah menjadi siswa saya.

 

Kang Yudha

(Visited 27 times, 27 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.