Slaying The Dragon

Tampil percaya diri dan menaklukkan sumber yang menakutkannya.

Cerita ini masih berlanjut. Tentu dalam rangka membangun peradaban yang kokoh dan pantang menyerah. Satu cerita yang ingin saya bagikan adalah merancang kebersamaan dalam formasi-formasi. Pertama, formasi lingkaran. Membuatnya mudah dilakukan di darat dan akan berjuang keras ketika mengaplikasikannya di laut. Dahsyat bukan.

Pengertian formasi dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah susunan atau barisan (dalam olahraga) sebagai pola penyerangan atau pertahanan, penempatan pemain. Maksudnya formasi ke arah strategi. Jadi remaja milenial ini ditantang untuk mempertahankan formasi lingkaran dalam simulasi penyelamatan di laut. Bagaimana setiap individu membentuk satu kesatuan dalam kelompok untuk saling menjaga, tidak melepaskan pegangan tangan sambil tetap mengapung di permukaan. Cak Nur, membiarkan proses diskusi di antara anak-anak sendiri hingga menyelesaikan permasalahannya sendiri.

Tantangan kedua, terjun di laut dan berenang dalam tim menuju pulau dengan formasi berbaris dalam satu garis secara sambung menyambung. Masih menggunakan teknik mengapung berenang terbalik membuat satu barisan panjang. Kaki-kaki terkait pada bagian pinggang temannya, sementara tangan berfungsi menjadi dayung pendorong. Mengayuh gelombang menuju pantai. Tantangan ini lebih sulit karena membutuhkan fisik yang prima. Kedua tim mengalami kesulitan bahkan sempat terlepas dengan beragam alasan. Keram atau kecapaian.

Mendobrak barier ketakutan terhadap air. Terutama yang tidak bisa berenang. Mengendalikan diri dengan tetap tenang tidak panik. Melawan rasa takut dengan melewatinya bukan menghindarinya. Meyakini bahwa semua itu bisa dilalui, walau berat ditempuhnya.

Saya jadi ingat cerita seorang teman yang akhirnya menggeluti dunia diving. Padahal mempunyai trauma panjang yang hampir menenggelamkan dirinya di pusaran sungai yang dilintasinya. Tanpa keterampilan berenang yang cukup tidak mampu melawan arus sungai yang kuat. Beruntung seorang temannya membantu menyelamatkan dari arus liar. Namun sayang, temannya malah terseret dan tenggelam hingga tewas tidak tertolong. Trauma ini mengendap dalam pikirannya berbuah ketakutan dan bertahun-tahun menyelimuti dirinya. Hingga akhirnya diputuskan untuk melawan ketakutan. Istilahnya slaying the dragon. Tampil percaya diri dan menaklukkan sumber yang menakutkannya. Nyatanya ia mampu melewatinya dan menghapus trauma yang mengutuki dirinya.

Membangun peradaban yang kokoh dan pantang menyerah harus dimulai dari diri sendiri. Apa saja yang membuat diri terpenjara, harus disingkirkan. Jangan takut dengan naga-naga pembunuh mental itu, tapi taklukkanlah agar bisa membusungkan dada, berdiri tegap, menatap tajam, dan siap merubah dunia. Menjadi agent of change, bertindak sebagai katalis atau pemicu terjadinya sebuah perubahan dan ini ada pada anak-anak muda. Remaja mileniallah yang akan mempelopori perubahan Indonesia dan dunia. Tidak lama lagi, sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya . dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Walaupun masih tahap awalan, tetapi saya melihat perubahannya. Setidaknya sekat-sekat itu lebih terbuka. Saya bisa baca dari tatapan mereka.

 

Kang Yudha

(Visited 33 times, 33 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply