Skala Logaritmik

Membicarakan gempa bumi yang belakangan ini melanda Indonesia, terutama gempa Lombok dan gempa Palu sangat memilukan. Menjadi pusat perhatian segenap masyarakat di Indonesia. Termasuk negara rawan gempa bumi karena berada pada tiga lempeng tektonik dan rawan letusan gunung berapi karena terletak di sabuk gempa Pasifik (ring of fire).

Saya dan istri berdiskusi panjang tentang di kedua gempa itu. Besarnya guncangan dan tentu efeknya terhadap kehidupan di atas permukaannya. Kerusakan yang dihasilkan dan penanganan yang harus dilakukan.

Merujuk pada keberadaan Indonesia sebagai daerah pertemuan dari tiga lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan lempeng Pasifik yang membuat Indonesia berisiko tinggi terhadap gempa. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusa Tenggara, sedangkan lempeng Pasifik di utara Irian dan Maluku Utara.

Hasil tabrakan antar lempeng menyebabkan tumpukan energi yang lepas berupa gempa bumi. Besarnya dampak gempa bumi diukur dengan skala gempa.

Nah sampai di sini, kami penasaran dengan perbedaan Skala Richter (SR) yang tercatat dengan kerusakan yang ditimbulkan. Gempa Lombok sebesar 7.0 SR (www.tribunnews.com) dan gempa Palu sebesar 7.4 SR (pekanbaru.tribunnews.com). Namun kerusakannya berbeda sekali. Padahal hanya selisih 0,4 SR saja. Kenapa demikian?

Saya dan istri penasaran dan berusaha mencari tahu perbedaannya. Hasil pencarian pada http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/09/29/gempa-di-palu-cara-menghitung-kekuatan-gempa-makin-besar-makin-mengerikan?page=4, menemukan informasi tentang perbedaan kekuatan gempa.

Kurang dari 2,0 Skala Richter dikategorikan mikro, berdampak gempa ringan yang nyaris tidak terasa; 2,0-2,9 Skala Richter dikategorikan sangat lemah, berdampak tidak terasa tapi tercatat; 3,0-3,9 Skala Richter dikategorikan lemah, berdampak terasa tapi jarang menimbulkan kerusakan; 4,0-4,9 Skala Richter dikategorikan ringan, membuat benda di ruangan bergoyang, menimbulkan bunyi derak; 5,0-5,9 Skala Richter dikategorikan normal, menyebabkan kerusakan bangunan di area kecil; 6,0-6,9 Skala Richter dikategorikan kuat, menyebabkan kerusakan di radius 160 km; 7,0-7,9 Skala Richter dikategorikan utama, menyebabkan kerusakan lebih serius di daerah lebih luas; dan 8,0 Skala Richter ke atas dikategorikan kuat, menyebabkan kerusakan serius di area hingga ratusan kilometer.

Namun yang lebih penting adalah informasi bahwa Skala Richter merupakan skala logaritmik, bukan aritmatik. Skala Richter didefinisikan sebagai logaritma basis 10 dari amplitudo maksimum. Diukur dalam satuan mikrometer dari rekaman seismometer pada jarak 100 kilometer dari pusat gempa.

Jadi, gempa yang berkekuatan 6 SR bukan berarti dua kali lebih kuat dari gempa berkekuatan 3 SR. Karena skala logaritmik, maka gempa dengan kekuatan 6 SR itu 1.000 kali lebih kuat (106/103 = 1.000) dibandingkan 3 SR.

Nah bisa dibayangkan bukan, walau perbedaannya hanya 0,4. Menunjukkan gempa Palu 2,5 kali kerusakan gempa Lombok.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://kumparan.com/@kumparanbisnis/4-fokus-kementerian-pupr-bantu-korban-gempa-di-sulteng-1538465733605626440

(Visited 9 times, 2 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.