Simfoni Di Atas Bukit

Sajak-sajak mengalir bagai air mengalir.
Aksara demi aksara bersenandung ceria.
Harumnya pohon pinus merasuk dalam jiwa.
Dan semilir angin berirama menjalar seluruh raga.
Sungguh terjalin harmoni memanja mata.

Oh, mungkinkah aku jatuh cinta padanya?

Di sini, di atas bukit ini.
Kulukiskan sebuah simfoni.
Sebuah keindahan yang membersamai.
Bersama penjelajah karunia Illahi.

Dan di sini, di bawah pohon pinus ini.
Kidung syukur terus mengalun indah.
Membisikkan istighfar bersulam air mata.
Memuja semua ciptaan Sang Kuasa.
Memandang tanpa jemu.
Bersujud tanpa ragu.

Oh Tuhan…
Akankah diriku mampu memeluk pulau rindu pada-Mu?

Biarlah waktu yang akan menjawab semua tanya.
Biarlah nafas cinta bersemayam dalam raga.
Melayangkan bait-bait doa.
Dan meng-aamiinkan lukisan-Mu yang kian mempesona.

Matahari perlahan mulai kembali ke pangkuan.
Langit pun kini bergaun jingga.
Bias sinarnya hangatkan sanubari
Masyaa Allah…
Semua disuguhkan Sang Illahi Rabbi.

Nikmat Allah manakah yang kita dustai?

Malam semakin pekat.
Gulita pun semakin sunyi.
Suara dari balik rerimbunan bersahutan tiada henti.
Dan desah angin malam meniupkan aroma yang kian menusuk hati.

Tubuhku lelah, terlelap sekejap.
Desah angin itu dengan mesra terus membisik.
Membangunkanku di sepertiga malam.
Tersenyum bahagia.
Hilangkan rasa yang meragu.
Mengalahkan makhluk gaib yang membisik merayu.

Oh, malam semakin larut.
Langit hitam pun semakin memayungi bukit.
Kakiku mulai melangkah melawan gelap.
Menerobos, menyentuh aral meninggi rintang yang menyelinap.
Berpacu jantung dan pikiran agar energi alam bersatu memberi mu’jizat.

Angin malam semakin menari-nari.
Bisikkan pada bumi yang kupijak tiada henti.
Mengumandangkan doa setiap nafas yang diberi.
Semua, agar nafasku mampu menjelajahi karunia Illahi.

Wahai Sang Jagad…
Izinkan aku bersujud dan merangkai sajak.
Sajak tentang pekat yang masih melekat.
Membingkai asa yang semakin rekat.
Bersama subuh sejuk di atas bukit.

Duhai Pemilik Alam…
Izinkan aku meraih karunia-Mu.
Membaca sebuah isyarat setiap kalam-Mu.
Merangkai aksara dengan tinta cinta-Mu.
Agar cinta-Mu selalu terpancar dalam ruhiku.

 

Terima kasih untuk teman-teman kecilku, siswa-siswi ISTC Sekolah Alam Indonesia. Kaulah inspirasi dalam puisi ini. Mengeja, merangkai, dan menjadi saksi betapa usahamu menembus malam di atas bukit ini. Bulir-bulir keringat yang menghantar lelahmu mencapai titik finish.
Aku bersamamu dan mencintaimu karena Allah.

#JelajahKaruniaIllahi   #JelajahInspirasiSiswaISTC  #OTFAx8

(Visited 21 times, 8 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply