Seribu Hikmah Di Balik Cobaan

Aku suka sekali hujan yang turun perlahan dengan suara gemericik. Seperti pagi ini rintik gerimis membasahi alam raya dan membawa aura kesejukan hati siapa pun yang menikmati harmoninya. Bagiku air alami yang turun dari langit selalu membawa cerita dan harapan.

HARAPAN? Ya! sebuah harapan yang telah tertulis dalam buku kecil ejak ayang tersimpan rapi sejak aku masih duduk di bangku kuliah. Tiba-tiba aku merindunya. Astaghfirullah kenapa sosoknya muncul dalam bayang? Sosok yang dulu pernah dikenalkan Rasya padaku, setahun yang lalu.

Teng…teng…teng…dentum jam berbunyi enam kali. Oh nooo, sudah pukul enam, aku harus segera bersiap bertemu bocah-bocah yang membuat syukurku melangit. Ya Allah lindungi aku dari hal yang tidak baik dan jangan biarkan hati bermaksiat, aamiin.

“Ai, wong mandi kok byar-byur koyo ngonoh toh, nduk, koyo bebek ae.” Gumam ibu ketika melihatku keluar dari kamar mandi.

“Hehe…Ai lagi buru-buru, ibuku sayang,” tanpa izinnya kucium ibu yang sedang sibuk di dapur. Sepuluh menit selesai semua Alhamdulillah tepat perkiraan waktu yang kusiapkan. Aku pun segera meraih tas ransel dan kunci si biru yang selalu setia membawa kemanapun aku pergi.

”Hati-hati, nduk, jangan buru-buru naik motornya…”

Kalimat yang mengandung pesan ini selalu disampaikan dari orang terkasihku setiap tangannya kucium. Di luar hujan. Bismillahi tawakaltu ‘alallahi wa laa hawla wa la quwwata illaa billahi dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu dan tidak ada kekuatan selain dari-Mu.

Bersama iringan rintik hujan aku terus melaju si biru. “Tumben sekali di sini macet, kira-kira ada apa ya? Perlahan-lahan aku semakin dekat dengan penyebab kemacetan. Oh itu, sepertinya ada kecelakaan.

“What!! Sepertinya aku pernah mengenalnya, tapi siapa? Ya Allah… laki-laki itu kan…”

“Mas, kamu nggak kenapa-napa? Kamu Ismail, temannya Rasya kan? Apa yang terjadi denganmu?” Pertanyaanku yang bertubi-tubi hanya dijawab dengan senyum oleh lelaki itu.

Benar adanya, dia adalah sosok lelaki yang pernah dikenalkan padaku oleh Rasya. Entah mengapa, tetiba pagi tadi aku teringat dia dan kini sosoknya bersamaku. Mungkin ini jawabannya, Allah pertemukan kembali dengan keadaan seperti ini. Aku harus menolong membawanya ke klinik terdekat agar lukanya yang cukup parah segera diobati. Tabrak lari, manusia tak bertanggung jawab, kasihan sekali.

“Mas, keluargamu kan sudah hadir, aku pamit ya,”

“Terima kasih atas pertolonganmu, Dik,” ucap Mas Ismail.

Aku pun terus mengayunkan langkah menuju kendaraan roda dua yang terparkir. Dik? Apa aku nggak salah dengar  lelaki yang masih berbaring di ranjang rumah sakit ini memanggilku, Dik. Ah, aku berpikir apa siih…? Sudahlah aku harus segera ke sekolah, kucoba menepis kegelisahan dalam hati dan pikiran tentangnya. Pejamkan mata, tarik nafas dalam-dalam, dan biarkan sisa-sisa kesejukan menyapu untuk mempersiapkan amanah yang menanti. Allah, mampukan aku mengajar anak-anak hebat yang menjadi amanah ini. Bismillah.

“Tininininiiiit…tininininiiit…”

“Siapa nih yang telepon? Aku tak mengenal nomernya.” Karena telepon terus bordering akhirnnya kuangkat telepon tersebut. Namun, bagai disambar petir di siang bolong, aku terkejut ketika mendengar suaranya.

Pertemuan di pinggir jalan itu adalah awal dari sebuah kisah. Sebulan setelah keluar dari rumah sakit, ia meminta izin untuk menyambangi rumah. Aku mencoba melarangnya, tetapi dia bersikokoh dan beralasan ingin bersilaturahmi. Pun akhirnya aku mengizinkan di hari itu.

Hingga suatu hari, bersama terik mentari sosok lelaki itu datang, tapi tidak sendiri. Dia datang berdua, siapakah sosok wanita berjilbab yang bersamanya? Oh,mungkin istrinya, pikirku.

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumussalam,”

Salam, sapa  perkenalan. Tak mengira seorang wanita yang bersamanya adalah kakaknya. Rasa penasaran pun mulai menyerang.

“Dik Ai, aku ingin bertemu dengan ibumu, bisakah? Ucap lelaki yang duduk bersebrangan denganku.

“Bi…bisa, sebentar ya, Mas,” aku berlalu memanggil Ibu yang ada di kamar dengan banyak tanya di kepala.

“Assalamu’alaikum, Ibu,” Mas Ismail dan Mbak Nirina menyambut kedatanngan Ibu dengan salam.

“Ibu, saya datang ke sini  bersama kakak ingin meminta izin pada Ibu,” Mas Ismail berbicara dengan gugup dan aku semakin tidak mengerti.

“Biar kakak saja yang bicara, Il.” Ucap Mbak Nirina pada adiknya.

“Begini, Bu, kedatangan kami selain bersilaturahmi, sesungguhnya ingin mengkhitbah putri, Ibu.” Penjelasan Mbak Nirina membuat tubuhku seperti tak bertulang.

“Ai, piye?” Ibu memandangku seolah tak percaya putrinya ada yang melamar. Dan akupun tak mampu berkata-kata.

“Begini saja, Nak, Ai kan punya wali, yaitu masnya dan dia tidak tinggal di sini. Minta izinlah ke beliau jika memang kamu ingin menikahi Ai.” Alhamdulillah ibu memberi keputusan yang membuatku bisa bernafas lagi.

Sepekan setelah Mas Ismail datang ke rumah, ia pun datang ke rumah Mas Amar bersama keluarganya. Dan sepekan itu juga tiada hari yang kulewatkan untuk shalat istikharah.

Ya Allah, sepenuh jiwa kupinta pada-Mu, beri petunjuk agar aku bisa melangkah dengan pasti dan apakah benar dia pemilik tulang rusukku?

Semilir angin sejuk berhembus mengibarkan tirai jendela kamar. Malam ini adalah malam pertama aku sah menjadi istrinya.

“Terima kasih, Dik, kamu bersedia menjadi pendamping, Mas.”

Hari ini janji yang menggetarkan langit telah terucap, ribuan Malaikat pun turut mendoakan. Dan bersama perasaan yang mengharu biru dengan hiasan rona wajah bahagia terbesit sebuah kata, mungkinkah ini akhir kisahku? Atau awal menempuh langkah berdua? Wallahu a’alam… Doa yang mampu menembus semua itu.

Tiada hari yang terlewatkan dengan kebahagiaan. Tiga bulan setelah menikah, tanda-tanda kehamilanpun datang. Kami sangat bahagia, ada sosok mungil yang hidup dalam rahimku. Sujud menghamba pada-Mu Allah.

Meraih kebahagiaan itu butuh perjuangan. Itulah yang aku alami. Kehamilanku lumayan parah, tiada hari yang terlewatkan tanpa mual dan muntah. Bahkan hampir setiap bulan aku harus di rawat di rumah sakit. Alhamdulillah suamiku sangatlah penyabar, tiada lelah mendampingiku dengan cinta.

“Mas, perutku semakin sering sakit, sepertinya aku akan melahirkan,”

“Iya, Dik, tunggu, mas segera pulang,” jawabnya dari seberang telepon, panik.

Cepat kilat. Dua puluh menit suamiku sampai di rumah. Aku pun langsung dibawa ke rumah sakit. Seratus delapan puluh menit aku berjuang dan memasrahkan kepada Illahi Rabbi. Dan..

“Ea…ea….ea…” suara mungil terdengar, membuat bening tumpah seketika. Terima kasih Allah, terima kasih, terima kasih atas anugerah-Mu. Mas Ismail pun mencium dan memeluk hangat bersama hangatnya bulir-bulir dari kelopaknya.

“Adeeva, putriku…”

Perjuangan kami belum berakhir. Adeeva. Mungilku harus dirawat di NICU. Seminggu, dua minggu, Adeeva tak ada perubahan. Alhamdulillah di pekan ke tiga Adeeva mengalami berubahan positif, walau hanya dua  persen. Hingga pekan ke empat, kami diberi kabar untuk segera datang ke rumah sakit kondisi Adeeva kritis. Aku semakin tak berdaya, lemah tak bertenaga. Suamiku melarangku ikut ke rumah sakit bersamanya. Kuhabiskan waktu untuk berdoa berdzikir pada Sang Pemilik nyawa. Ya Allah, aku rindu menggendong putri kecilku, izinkan tangan ini mendekap menghangatkan tubuhnya yang tak berdaya.

Tiba-tiba suara ambulan yang semakin dekat dengan rumah membuatku semakin menyayat dan lebih sakit ketika tangan suamiku membawa sosok mungil yang dibalut kain.

“Innalillahi wa inna illaihi raaji’un…” Allah benar-benar mengizinkanku menggendongnya untuk yang pertama dan terakhir. Aku berjuang menguatkan sepenuh jiwa, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang sudah di penghujung hingga aku terkulai lemas.

Sungguh sulit rasanya untuk mempercayainya kalau sosok mungil yang belum sempat aku gendong telah tiada. Sabar dan ikhlas. Dua kata yang selalu dibisikkan suamiku.

“Dik, saatnya kita harus dan mampu melepas keterpurukan ini, Mas tahu ini sulit, tapi ingat, sesungguhnya Allah lebih sayang dengan Adeeva. Memang tidak mudah untuk meraihnya, butuh perjuangan untuk menggapai kebahagiaan abadi. InsyaAllah, Adeeva akan menjadi jalan kita meraih surga-Nya.”

IKHLAS… Mungkin inilah cobaan yang harus kami jalani dalam meraih cinta-Nya. Allah mampukan kami menikmati syahdu dan sejuknya hati karena ikhlas. Dan Allah hadiahkan kembali di tahun ke empat kepergiannya. Tepatnya, pada hari ke tiga ramadhan, seorang bayi lelaki terlahir dari rahimku.

Meraih cinta-Nya memang tak boleh dengan syarat, meski ribuan cobaan hadir dalam hidup. Sejatinya Allah akan menuntun kita dalam kebahagiaan yang abadi

(Visited 18 times, 8 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply