Senyum Tingkat Dewa

Tingkatan senyum berdasarkan kepuasan peserta terhadap kegiatan akbar ini.

Pernak-pernik Simposium Guru kali ini tidak lepas dari senyum bebas dari para pesertanya. Saya mengkatagorikan level senyuman yang saya kenali di simposium tersebut. Tingkatan senyum berdasarkan kepuasan peserta terhadap kegiatan akbar ini. Senyum menyeringai, senyum setengah, senyum malu-malu, senyum simpul, dan senyum lebar.

Ini adalah level senyuman yang saya tangkap di Simposium Guru 2018 ini. Mulai sejak masuk ruang pertemuan utama, mendengar informasi panitia, menyimak para pemateri super dahsyat, sampai tingkat perkenalan sok akrab peserta kepada peserta lainnya. Ops, bukan sok akrab tapi membuka diri dengan senyum membangun suasana persahabatan. Ini yang paling tepat.

Senyum tingkat pertama adalah senyum menyeringai. Senyum setengah senti kiri-kanan lebar bibir. Senyum perkenalan tanda mengamati suasana. Senyuman yang merefleksikan perasaan belum puas. Menunggu proses berikutnya. Semoga ini cuma perasaan saja, selanjutnya berharap memberi dampak positif.

Lain lagi dengan senyum tingkat kedua. Senyum setengah yang diidentifikasi satu senti kiri-kanan lebar bibir. Lebih mengembang dibanding level pertama. Senyum yang ditampilkan untuk menunjukkan kesopanan. Tentu komunitas guru, apalagi guru hebat versi pemenang olimpiade sains nasional (OSN), guru berprestasi (Gupres) nasional, dan guru pemenang Inobel (lomba karya inovasi pembelajaran) sangat menjaga santun satu sama lain. Guru hebat kualitas negeri ini.

Nah masuk pada level ketiga adalah senyum malu-malu. Senyum karena bangga tapi tidak mau ditunjukkan secara lepas. Biarkan audiens yang menilai. Biarlah menjadi misteri kebahagiaan yang sedang dialamainya. Oh Tuhan, betapa hamble-nya manusia ini. Siapa lagi kalau bukan guru mumpuni bangsa Indonesia.

Senyum tingkat keempat adalah senyum simpul. Senyum yang tidak memperlihatkan gigi. Menutup rapat kedua bibirnya yang menyiratkan sesuatu yang sedang dipikirkan. Intinya, tidak mengumbar perasaan terlalu jauh. Merefleksikan rasa percaya diri seseorang tapi tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Terakhir, senyum tingkat dewa. Senyum tingkat kelima. Senyum lebar tanpa mengeluarkan suara. Namun, tidak digolongkan tertawa. Senyum  dengan bibir terbuka lebar bahkan terlihat gigi-giginya. Senyum yang memberikan ketulusan yang sangat berarti. Senyum kehangatan dan memberi energi positif.

Nah aneka senyum dari para peserta Simposium Guru kali ini, saya rasakan semuanya.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://www.nihaoindo.com/4-cara-senyum-yang-tulus-biar-menjadi-pribadi-yang-baik/

(Visited 6 times, 6 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.