SENYUM SIMPUL SANG PEMUDA

Tak ada yang menarik perhatian ketika melihat foto itu. Foto seorang pemuda sehabis memanen kangkung dan memamerkan hasil panennya. Pemuda dengan senyum simpul yang menularkan kegembiraan ke orang yang melihat fotonya saat itu. Seketika itu juga yang melihatnya akan ikut tersenyum.
Hal yang membuat foto itu istimewa adalah pemuda yang memegang keranjang penuh dengan kangkung yang baru dipanennya. Pemuda itu memamerkan senyum simpulnya seolah berseru “Saya berhasil.” Foto itu bukan hanya menimbulkan senyum tetapi juga air mata bahagia melihatnya, terharu.
Pemuda itu tidak sama dengan pemuda kebanyakan, kelainan kromosom membuatnya berbeda. Kondisi yang berbeda, ini merupakan kelainan bukan penyakit. Artinya bukan sembuh atau tidak pada akhirnya tetapi berdaya atau tidakkah dia dengan kondisinya? Mampukah dia memenuhi kebutuhan dasarnya? Bisakah dia mencari makan ketika lapar? Menggunakan toilet ketika membutuhkan? Membersihkan diri dan berpakaian sesuai dengan usianya? Mengertikah dia bagaimana menggunakan uang?
Berdayanya sang pemuda memang tidak sama dengan pemuda kebanyakan. Ketika dia berdaya dalam mengurusi dirinya sendiri, hal ini sudah cukup untuk menjadi bekalnya nanti. Mungkin dia akan tetap membutuhkan bantuan dari orang-orang terdekatnya tetapi rasanya itu lumrah karena kondisinya.
Bukan hal yang mudah membuat pemuda ini berdaya. Kebesaran hati dan kesabaran orang tua, saudara dan guru-gurunya membuat pemuda ini memiliki kesempatan dan pengalaman melakukan banyak hal. Kegagalan yang berulang, kesabaran yang teruji, kekukuhan sang pemuda dengan keinginannya merupakan keseharian yang dihadapi orang-orang di sekitarnya. Emosi yang dialami oleh orang-orang sekitarnya pun beragam. Marah, sedih, khawatir, takut adalah hal yang biasa dialami bergandengan dengan senang, bahagia dan bersyukur.
Jika boleh memilih memberikan bantuan ketika sang pemuda membutuhkan merupakan hal yang akan dilakukan oleh orang-orang sekitarnya terutama orang tua. Karena hal itu yang paling mudah dan cepat. Bantuan yang awalnya mungkin dimaksudkan memudahkan ternyata merupakan bentuk lain dari fasilitas. Pertolongan yang selalu ada membuat pengalaman menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan menjadi minim bahkan tidak ada. Salah seorang ilmuan menemukan bahwa otak yang tidak pernah mengalami stres itu sama dengan otak yang terlalu banyak mengalami stres.
Otak tanpa pengalaman menghadapi stres akan kesulitan mencari referensi pengalaman ketika berhadapan dengan stres yang baru. Bagaimana menghadapi kondisi ini? Apa yang harus dilakukan? Sedangkan otak dengan terlalu banyak pengalaman stres menjadi kewalahan memilah mana yang harus menjadi referensi ketika berhadapan dengan kondisi stres yang baru. Mana yang harus dipilih untuk digunakan menghadapi kondisi ini? Apa yang harus dilakukan?
Hal ini membuat otak akan memilih 1 dari 3 hal yang dapat dilakukannya: menghadapi (fight), menghindari (flight) atau ketakutan (fright). Karena struktur otak manusia untuk bertahan hidup sama dengan mamalia pada umumnya maka bentuk menghadapinya pun sama, menggunakan fisik untuk bertahan. Memukul, mencakar, membentak merupakan beberapa bentuk pertahanan yang akan dipilih. Sedangkan jika otak memilih untuk menghindari maka bentuknya adalah menarik diri. Menghindari interaksi dengan orang lain. Lain halnya jika ternyata otak ketakutan, bentuk perilakunya akan terlihat diam saja seperti bertahan padahal otak dalam kondisi tak mampu melakukan apa-apa terhadap kondisi itu.
Seperti orang-orang sekitar sang pemuda yang memilih untuk bertahan mendampinginya dalam menghadapi kejadian-kejadian dalam hidupnya dengan memberikan ruang dan waktu tunggu baginya. Sadar bahwa tak ada garansi bahwa pendampingan ini akan mudah dan cepat, orang-orang sekitar sang pemuda tetap ada. Menjadi tempat kembali sang pemuda ketika kewalahan dan menerimanya dengan tangan terbuka. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah membuat sang pemuda berdaya atau dalam Bahasa umum dikenal dengan MANDIRI.

(Visited 160 times, 8 visits today)
Meutia

Meutia

Part-timer teacher and long life learner. Menggemari petualangan melalui karya orang lain berupa buku dan film maupun melakukannya sendiri.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

Meutia

Meutia

Part-timer teacher and long life learner. Menggemari petualangan melalui karya orang lain berupa buku dan film maupun melakukannya sendiri.

Leave a Reply