Sensasinya Begitu Berbeda

Meski dalam diam, dapat kurasakan cintamu nyata adanya
kulihat melekat pada titik-titik peluh yang menetes di dahimu
juga sebidang bahu untuk mendekap erat jiwaku
kedua telinga lebar yang selalu sedia mendengar celoteh riang kami
Ayah,
Kaulah sebait syair yang mengajariku
tentang sebentuk kehidupan
dan teladan kedewasaan seorang lelaki bersikap

Bersamamu ayah,
rinduku tak pernah larut dalam buaian angan
Untukmu ayah,
in syaa Allah cinta penuh kesyukuran akan terus bersemi

Salam takzim dari ananda.

Kalau boleh mengurai rasa rindu seorang anak pada ayahnya, barangkali puisi itu bisa mewakilkan apa yang ingin diucapkan oleh ananda. Dalam sebuah keluarga, Allah telah menciptakan suami istri, ayah ibu berpasangan untuk saling melengkapi. Di setiap perannya dapat ditemukan sentuhan kasih sayang yang berbeda antara ayah dan ibu. Pada ketegasan ayah dalam menerapkan peraturan, terdapat kelembutan ibu untuk memahami perasaan anak. Ketika ayah mengeluarkan kebijakan untuk menyelesaikan masalah, maka diperlukan empati ibu untuk membasuh luka hati anak.
Semua tak sama, namun setiap anak memerlukan sentuhan yang proporsional dan berimbang dari ayah dan ibu.Karenanya peran itu semestinya tak dapat diwakilkan satu sama lain. Jika ada peran yang hilang, ibarat sebuah puzzzle, maka ada keping yang terserak dari hati seorang anak. Hatta seorang Rasul yang yatim, tetap memerlukan peran laki-laki dewasa dalam hidupnya yang itu digantikan oleh kakek dan pamannya.
Kebutuhan quality time orang tua dan anak juga akan terasa sensasinya cukup berbeda antara yang diberikan ayah dan ibu. Anak tetap membutuhkan waktu bicara dari hati ke hati dengan ayah juga dengan ibunya dalam waktu yang berbeda. Sebisa mungkin – meski hanya beberapa menit saja- kita berdialog dengan anak untuk mengetahui permasalahannya, bicara dari hati ke hati. Bahkan jika memungkinkan mengajaknya pergi berduaan untuk me-recharge tanki kasih sayang yang sedang kosong. Dengan niat menggapai ridho Allah, semoga jalan menuju kebaikan ini dimudahkanNya.

(Visited 16 times, 16 visits today)
Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply