Selendang Syurga Menghias Di Pesantren

Bagian III

Andaikan waktu dapat dipercepat mungkin aku akan melakukannya, menyulap detik ini menjadi hari Sabtu, hari di mana aku ingin bersua dengan orang tua terkasih untuk menceritakan perasaan jatuh cinta yang merasuk ke dalam jiwa.

Allahu Akbar…Allahu Akbar……

Adzan maghrib berkumandang merdu, tepat ketika aku menyelesaikan dzikir Al Matsurat sore. Aku pun menyegerakan diri membentangkan sajadah bersujud menghamba pada-Nya dan tunaikan kebiasaan yang kulakukan selesai shalat, yaitu melantunkan ayat-ayat Allah.

Malam semakin sunyi. Pun dengan penghuni 101 itu lelap di atas ranjang tidur. Aku menoleh ke arah jam yang tiba-tiba berdentum  mengagetkan. “Oh ternyata sudah jam sepuluh malam, pantesan sepi sekali,” Aku melipat mukena yang masih membalut tubuh.

Sepertinya lapar menyerangku, setelah tertidur kurang lebih satu jam setengah ketika tilawah tadi. Ku hentikan gontai kaki ketika melihat sosok wanita duduk khusu’ di ruang kerja.

“Bu lik, belum tidur?

“Eh kamu, Tari, sudah bangun toh? Iya nih, Bu lik lagi ngrampungke kerjaan, sambil nunggu Pak likmu pulang. Oh ya, wis rono makan dulu pasti kamu lapar toh? Tadi Bu lik melihat kamu tertidur pulas dengan memeluk Al Quran, makanya nggak berani bangunin.”

“Hehe… Bu lik tahu saja kalau aku lapar,” Aku tersipu karena suara perut bernyanyi di depan perempuan yang sudah kuanggap Ibu.

Beberapa hari setelah pertemuan dengan bangunan beraroma syurga itu rasa galau menyerang. Di sisi lain aku ingin pindah ke sebuah tempat yang memang kudambakan sedari dulu. Namun kasih sayang dan perhatian Bu lik Mira sekeluarga membuat bimbang.

“Bapak pasti tidak setuju kalau aku pindah dari sini, terlebih lagi Ibu, apa kata ibu nanti ya, dan bagaimana cara mengatakan ini pada Bu lik?” Pikiranku berkecamuk di ruang makan.

“Apa yang kamu pikirkan, Tari?” Suara Bu Lik Mira membuyarkan lamunanku.

“E…tidak ada, Bu lik.”jawabku gugup.

“Moso tidak ada? Ikuloh nasimu hanya diaduk-aduk dan kamu bengong begitu, sekarang bilang sama Bu lik, ada apa?” Wanita yang parasnya mirip ibu itu duduk di seberang bangku.

“Mungkin inilah waktu yang Allah siapkan, Allah bantu aku berbicara padanya dan jaga hatinya agar tidak merasa tersakiti, aamin,” gumamku sambil memandang lekat wanita tersebut.

Robbis rohlii shodrii, wa yassirliiamrii, wahlul ‘uqdatam millisaani yafqohu qoulii…

Aku akhirnya mampu menyampaikan apa yang ada dalam benak kepada Bu lik. Tak ku sangka gayungpun bersambut. Bu Lik itu menyikapinya dengan bijak. Bahkan ia sangat mendukungku untuk mengisi hari-hari dengan belajar dan menngaji di pesantren.

“Jadi kapan kamu mau menemui bapak ibu di kampung?”

“Rencana Sabtu sepulang sekolah, itu jika Bu lik mengizinkan.”

“Kalau pekan ini Bu lik masih sibuk, bagaimana kalau Sabtu depan?”

“Tidak usah repot Bu lik, Mentari bisa pulang sendiri, insyaa Allah Tari naik kapal yang jam satu siang.”

“Kalau itu Bu lik tidak setuju, ngeneh ae, besok Bu lik bilang sama Mbak Ngatinah untuk menemanimu, di sana kamu bisa menginap semalam.”

“Matur suwun Bu lik,” ku cium tangan wanita di depanku.

Percakapan di ruang makan pun berakhir, wanita berusia 36 tahun itu berlalu meninggalkaku. Aku masih bergeming, tidak menyangka Allah memudahkannya, lagi dan lagi. Beberapa menit kemudian aku baru tersadar waktu telah menunjukkan pukul sepuluh empat puluh tujuh menit, aku segera merapikan piring yang masih kotor.

Malam ini gulita bertabur benda langit bersudut runcing lima. Aku melepaskan kaca mata minus yang selalu menempel di mataku dan segera membasuh wudhu untuk tunaikan shalat sunah dua rakaat sebelum tidur. Terima kasih Allah, Engkau mudahkan niat baik hatiku tanpa rintangan. Satu hari lagi , ya esok waktu yang kutunggu untuk berjumpa dengan orang terkasih. Melampiaskan rindu yang teramat dalam, sekaligus memohon restu agar Ibu dan Bapak mengizinkan belajar di pesantren. Menyelam sambil minum sepertinya peribahasa itu cocok untukku.

Usai shalat subuh, Mentari melanjutkan dzikir Al Matsurat pagi. Dan seperti biasa sebelum berangkat sekolah, dengan cekatan menyapu dan mengepel lantai dari depan hingga dapur.

“Keponakanku itu memang rajin ya, Mbak?” celoteh ibu si kembar kepada Mbak Ngatinah.

“Injih, Bu, Mbak Mentari itu juga rajin ibadahnya, ia juga pintar,” ucap khadimat yang sudah lima tahun ikut bersamanya.

“Rumah ini pasti sepi kalau nggak ada dia?”  

“Memang Mbak Mentari mau kemana, Bu?” Tanya Mbak Ngatinah.

“Mentari pingin mondok, itu loh Pondok Pesantren Al Fatah Jaya Nihim yang di jalan Citanduy. Oh ya, Mbak, nanti siang kamu temani Mentari pulang ke kampung, naik kapal yang jam satu.” Tutur wanita yang sedikit mirip denganku.

 

 

 

(Visited 44 times, 1 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.