Selendang Syurga Menghias Di Pesantren

Bagian IV

Langit pagi ini ditutupi semburat awan abu-abu, terlihat sedikit cerah. Pendar sinar matahari terhalang kabut tipis pun mengintip di ufuk timur ketika Mentari mengayuhkan roda duanya menuju sekolah. Gontai pedalnya semakin dipercepat agar sampai di sekolah dengan tepat.

“Alhamdulillah pukul enam dua puluh menit, aku masih punya waktu sepuluh menit untuk menata hati mengikuti kegiatan belajar.” aku menoleh arah jam tangan yang menempel di lengan kiri.

Dengan langkah gontai aku menuju kelas, senyumnya sungguh indah menyapa setiap yang dijumpainya. Beberapa teman sekelasnya sudah hadir, namun sosok sahabatnya belum tertangkap. Aku sebenarnya sudah tidak sabar untuk bercerita padanya, tentang restu yang diberikan Bu lik.

Three munits again, kemanakah kamu, Bulan?” Matanya masih tertuju ke arah pintu.

Akhirnya tepat enam tiga puluh menit sahabatnya datang dan satu menit kemudian Bu Widi menyusulnya. Rembulan tersenyum geli melihat mata sahabatnya yang menyimpan banyak tanya tentang keterlambatan dirinya.

Satu jam, dua jam, tiga jam, dan tepat pukul sebelas bel berbunyi mengakhiri kegiatan belajar hari ini. Tanpa bicara banyak, Mentari segera keluar dari kelas menuju tempat di mana sepedanya terparkir.

“Tari…… Jika diizinkan ayah ibu, aku ikut ya ke desamu?” Rembulan tergopoh-gopoh berlari mengejar sahabatnya yang ada di parkiran.

“Kamu serius, Lan?”

“Aku seriuuus, masa aku tega sih tidak melihat sahabatnya berjuang demi masa depannya.” suara Rembulan membuatnya terkekeh-kekeh.

“Alaaah lebay kamu, Lan, yo wis aku tunggu di dermaga yo,” jawabku.

Terik matahari mulai terasakan, aku terus melaju tanpa menghiraukan lelah yang menyerang, yaang ada di pikiran adalah segera sampai di rumah Bu lik dan bersiap untuk ke dermaga.

“Braaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk……” sepeda yang kutumpangi terseret motor sejauh 100 meter dan aku tak sadarkan diri.

Aku mengalami kecelakaan. Sepeda yang ku gayuh tertabrak oleh motor. Kecelakaan ini cukup lumayan. Empat hari tidak sadar, bahkan ketika aku tersadar kakiku tidak boleh banyak bergerak karena ada tulang yang retak, begitu pun kepalaku masih terikat perban. Kecewa, sedih, marah, dan ingin sekali aku berteriak, Allah mengapa ini harus terjadi di saat aku…? Namun wanita yang sangat aku cintai yang ternyata sudah ada di sisi selalu menguatkan hati, bahkan sejak aku kecelakaan Ibu selalu menunggu.

“Sayang, segala yang terjadi pasti atas kehendak Gusti Allah, ini cobaan dari-Nya, ketika kamu ingin tunaikan niat baikmu, Allah uji kamu, jadi ikhlasin semua yang terjadi.” Ibu menguatkan hatiku berselimut kemarahan.

“Injih Bu, insyaa Allah Tari akan berusaha ikhlas.

Alhamdulillah di hari ke sebelas aku sudah diperbolehkan kembali ke rumah. Mobil sedan berwarna putih membawaku keluar dari rumah sakit.  Kaki masih cukup sulit digerakkan, bahkan ketika berjalan kakiku dibantu dengan tongkat. Tiba-tiba di dalam mobil bayang pesantren terlintas dalam benak. Sudahlah mungkin bukan saatnya. Mungkin baik menurutku belum tentu baik menurut Allah. Begitu sebalinya, buruk menurutku belum tentu buruk menurut Allah. Aku percaya taqdir Allah selalu baik adanya. Aku yakin, suatu hari nanti aku bisa belajar di tempat yang aku harapkan. Ia bernama PESANTREN.

“Loh, kok kita ke sini? Ini kan…” tanyaku ketika mobil yang ku tumpangi berhenti di halaman pesantren.

“Temani Ibumu dulu yo, Ibu ingin bertemu teman lama,” meski heran aku nurut saja, karena aku masih menahan nyeri pada luka di kaki, tangan, dan kepala.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumussalam…masuk-masuk rene, Mbak Dine,” Bu Nyai memanggil Ibu dengan sebutan Mbak Dine? Ah aku semakin tidak mengerti.

Oke Mentari, saat ini biarkanlah pertanyaan tersimpan dalam kepala, ikutin saja dulu arah mereka kemana. Pasang mata dan pasang telinga, aha seperti detektif saja.

Kami mengikuti langkah Bu Nyai. Memasuki tempat bernuansa putih yang beberapa hari lalu aku singgahi. Obrolan Bu Nyai dengan Ibu sangat hangat. Ternyata Bu Nyai adalah teman sekolahnya dulu. Ketika aku terbaring di rumah sakit, Bu Nyai sekeluarga datang menjenguk, itu karena Rembulan menceritakan kejadian tersebut kepada Ustadzah Nurfi. Dan yang paling mengaketkan adalah, Bu Nyai adalah teman dekat Ibu ketika sekolah. Sejak lulus sekolah, Bu Nyai nyantri ke Tebuireng Jawa Timur.

Setelah pertemuan itu, detik demi detik adalah kebahagiaan. Kesehatanku pun pulih dengan cepat, Ibu merestui aku nyantri di sini. Meraih kebahagiaan tidaklah mudah, kita harus melalui ujian yang Allah beri. Subhanallah…

(Visited 26 times, 1 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.