Selayang Pandang Tentang Si Pencuri Hati

Kamis itu seperti biasa ada jadwal kegiatan out door di sekolah. Sungguh menyenangkan melakukan kegiatan satu itu, out bound  bersama bocah-bocah hebat di sebuah tanah lapang sekolah, sungguh celotehan bocah-bocah unik ini menemani serentetan kegiatan yang berlangsung. Bagiku teriakan yang keluar dari mulut mungilnya adalah suatu hal yang luar biasa. Mereka mampu mengungkapkan apa yang dirasakan.

“Ibuuuu…aku bisa, aku bisaaa…aku selamat, terima kasih Allah,” teriakannya melukiskan bahwa dunia harus tahu akan keberhasilan dia melawan rasa takut.

Entahlah, sudah berapa kali ucapan “aku bisa” terlontar darinya, namun yang pasti apresiasi ini wajib diberikan atas perjuangan melawan rasa takut yang menyelimutinya. Berhasil ataupun gagal adalah hal yang biasa dalam sebuah perjuangan. Dua kata tersebut ibarat sayap yang harus dimiliki setiap manuasia sebagai pengalaman hidupnya agar tak pernah putus asa dalam berjuang.

Rupanya pagi telah menyongsong, sinarnya begitu lembut menyelimuti penghuni bumi di bagian langit sekolah. Lihatlah para penghuni sekolah ini sangat menikmati kelembutan yang telah membungkusnya.

Qadarullah…ketika aku sedang menikmati celotehan, tangisan, dan teriakan anak-anak yang sedang berjibaku melewati two line bridge, tiba-tiba mataku beradu ke sebuah saung itu. Sanubariku pun bergerak, tatkala melihat dua orang manusia nun jauh di saung kelas tersebut sedang asyik bercengkrama. Sepertinya hati mereka masing-masing telah terikat. Canda tawa menghias dibibir mereka, entah apa yang mereka bicarakan. Bahkan bocah lelaki itu mengelap wajah seorang lelaki dewasa yang ada di depannya dengan seutas tisu putih berhiaskan senyuman.

Maa Syaa Allah pemandangan ini mendamaikan hati, dahagapun hilang, sejuk terasakan bagai teraliri Telaga Kautsar. Tersenyumlah terus, nak, bagai rembulan yang setia menemani bintang  berkelip indah di langit malam.

Sejenak diriku berdiam diri tuk layangkan sebuah doa dan rasa syukur pada Sang Pemberi Sejuk.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam mencintai-Mu…terangilah cintanya dengan cahaya-Mu yang takkan pernah padam. Terima kasih Allah, atas nikmat kelapangan dan kesejukan hati yang Engkau beri, semoga Engkau aliri jiwa ragaku ini dengan cahaya kesejukkan-Mu, aamiin.

(Visited 32 times, 32 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply