Sekeping Rindu untuk Anakku

Semburat sinar rembulan menggoda langit gulita. Cahayanya yang temaram terlihat bercanda dengan gemintang yang berkedip malu-malu. Semua terlukis sempurna di bingkai jendela bertirai keindahan alam tanpa batas yang Allah cipta. Meski hanya potret kapal laut yang mengahantarkan anakku dan teman-temannya menelusuri setiap butiran-butiran syurga yang tersebar di bagian Tenggara Sulawesi.

Aku mengerjapkan mata. Jam menunjukan pukul dua pagi, semenitpun mata ini belum terpejam. Ya Allah, mampukan aku agar mata ini dapat terpejam meski hanya hitungan detik. Kuserahkan pelik pikiran dan emosi kepada-Mu. Setiap ayat-ayat yang kulantunkan berharap menjadikan sebuah doa pada-Mu, karena hanya Engkaulah sebaik-baik penjagaan.

“…..Ash-shalaatu khairum minan-nauum,” Adzan Subuh berkumandang membangunkan para insan yang masih terlelap di atas pembaringan.

“Oh ternyata aku tadi tertidur,” aku baru menyadari kalau tubuh ini masih terbalut mukena.

Seperti biasa setiap adzan Subuh mulai berkumandang, langkahku menuju sebuah kamar yang ada di paling depan. “Tok-tok-tok…kreeek” sosok yang kucari tidak ada. Astaghfirullah, dia kan sedang outing bersama teman-temannya, mengapa aku lupa seperti ini?

Teringat akan belahan jiwa yang semalaman sembilan jam berada di atas kapal laut yang terombang-ambing ombak dan membuat sekujur tubuh ini seperti tak bertulang, segera kuraih telepon genggam yang ada di atas tumpukkan buku.

“Alhamdulillah….terima kasih Allah atas penjagaan-Mu padanya.”

Sujud syukur berderai air mata haru ketika melihat foto yang dikirim dari seberang sana bersama sunrise dari atas kapal perairan Buton Wakatobi.

“Eh kamu sudah pulang dari masjid toh, mas.”

“Mas sengaja tidak membangunkanmu tadi, mas lihat kamu sangat terlelap,” Alhamdulillah Allah mengabulkan doa yang dipanjat agar aku bisa tidur meski dalam hitungan detik.

“Rindu dengan Alfi itu wajar, tapi tidak boleh sampai seperti ini, kasihan anak kita yang jauh di sana, sayang,” Mas Abdullah memeluk tubuhku yang masih bersimpuh di atas bentang sajadah.

“Aku tahu, mas, aku sudah berusaha untuk menahan rindu padanya, tapi apa salah jika aku mengadu pada-Nya akan rindu yang membuncah ini?” bulir air mataku tak mampu terbendung lagi dalam pelukan Mas Abdullah.

“Tidak ada yang salah, sayang, mungkin karena ini pengalaman pertama kita. Anak tunggal kita pergi jauh melewati bentangan laut yang luas dan itu tidak hanya satu-dua hari, tetapi satu pekan. Sayang, inilah waktunya kita belajar melepasnya agar Alfi menjadi pemuda Islam yang tangguh yang Rasulullah contohkan. Allah pasti akan menjaga-Nya, serahkan semua pada-Nya, Insyaa Allah semua akan baik-baik saja. Jika hati kita tenang, maka anak kita pun juga tenang.” Jelas Mas Abdul yang masih duduk di sisiku.

“Yang, kamu ingatkah satu tema perbincangan kita yang sering kita bahas?” Tanya suamiku.

“Iya, mas, mana mungkin aku lupa satu bahasan sebagai pengingat kita.” Jawabku.

“Momen ini sangat tepat untuk kita belajar berproses dengan hal tersebut,” tambah suamiku.

“Iya, mas, bantu aku agar selalu ingat itu dan jangan pernah jemu mengingatkan istrimu ini.”

“Sayang, kita sama-sama saling mengingatkan dan menguatkan ya.”

Hari ini bersama sejuknya Subuh, Aku diingatkan oleh sebuah kalimat bijak akan kekuasaan Allah SWT. Allah memberi isyarat bahwa anak yang terlahir dari rahim seorang wanita adalah bukan miliknya, melainkan dia hanya milik Allah yang saat ini sedang dititipkan kepada kita. Untuk itu sebaik-baik kasih sayang dan penjagaan adalah Sang pemilik-Nya. Kalimat ini ibarat bilah pedang yang terasah tajam siap menghunus jantungku kapan pun Allah berkehendak.

Saat ini, sejauh mana pun ia pergi. Baratkah, utarakah, atau tenggarakah, aku akan tetap melangitkan doa, agar dia mampu melewati titik-titik misteri dalam perjuangannya menjemput impian di Negeri Khalifatul Khamis.

Biarkanlah rangkaian aksara ini bagai pelipur rinduku, karena tak habis setiap huruf yang kutulis tentangmu. Walau usaha membebaskanmu itu membutuhkan senjata pengusir wujudmu yang selalu ada dalam kelopak mata. Hanya doa, ya, hanya doa senjata itu.

DOA akan membawa rinduku padamu. DOA pun akan membawa keselamatan Allah untukmu. DOA juga yang akan membawa serpihan-serpihan syurga terbentang luas padamu.

 

(Visited 105 times, 46 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply