Sekali (lagi) tentang Sekolah Komunitas

Seberapa sering kita mendengar cerita tentang sekolah berbasis komunitas? Semangatnya dibangun atas dasar cinta, interaksinya berlandaskan visi yang sama. Menjadi unik bila kemudian ada sekolah yang menampung aspirasi dari beragam latar belakang siswa, guru dan orang tuanya. Masing-masing membawakan cara atau metode yang berbeda sesuai dengan keyakinannya. Namun perbedaan itu sebenarnya bisa dijembatani dengan sebuah kesamaan tujuan yang hendak dicapai. Bahkan terkadang sebuah masalah yang tampak besar di kemudian hari menjadi teratasi dengan adanya kebersamaan.

Sejak pertama kali mengenal konsep sekolah berbasis komunitas ini ada sesuatu yang menggelitik hati saya untuk selalu mengangkat ceritanya. Memang tak semua anggota komunitas bergerak secara aktif di dalamnya. Tetapi mayoritas yang menginginkan perubahan pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik kemudian menjadi tergerak untuk aktif terlibat. Banyak kegiatan yang direspon secara positif dengan partisipasi aktif dari anggota komunitas, baik orang tua, guru maupun siswa sendiri. Tak sedikit pula kisah-kisah epik yang menyertainya. Beragam kontribusi positif yang tidak dibatasi jenisnya, telah menjadi ladang amal yang terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin berperan aktif dalam mencapai visi bersama.

Ada orang tua yang menginginkan mimpi besar memiliki lahan sendiri bagi sekolahnya dapat terwujud. Maka beliau secara konsisten terlibat mengawal gerakan penggalangan dana demi mewujudkan mimpi besarnya tersebut. Ada pula yang menginginkan tercapainya kesejahteraan guru di sekolahnya, maka beliau melontarkan ide membuat blog yang bisa digunakan untuk pencapaian kesejahteraan guru-guru. Ada pula yang memiliki kemampuan manajerial yang baik, sehingga beliau memberikan coaching kepada tim manajemen di sekolahnya. Bahkan yang mampu membuat hati saya selalu gerimis adalah komitmen sepasang suami istri yang menjadi sponsor pribadi, mengalokasikan dana pribadinya untuk membiayai sebuah proyek penulisan bagi guru-guru di sekolah anaknya meski anaknya telah lulus dari sekolah tersebut. Ada pula yang dengan keterbatasan ekonominya, tetapi ingin selalu berkontribusi dengan tenaga dan pikirannya.
Jika sampai hari ini segala kisah epik itu masih kita temukan, kemungkinan terbesar ada unsur cinta yang menaunginya. Rasa cinta yang terkadang sulit untuk dilogika secara terukur, namun mewujud pada amal-amal nyata. Dapat dipastikan, kalau bukan Allah yang mencurahkan rasa cinta itu, sudah tentu semua amal akan segera sirna. Semoga Allah jua yang menjadi tujuan dari setiap amal yang dikerjakan, sehingga pahala dan rahmatNya akan senantiasa tercurah.

(Visited 61 times, 1 visits today)

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.