Saung Kayu

Kata saung berasal dari bahasa sunda yang berarti bangunan kecil seperti rumah di sawah atau di kebun (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Selanjutnya kata saung sering digunakan orang untuk penggunaan bangunan yang menunjukkan kesan tradisional, alami, atau bernuansa pedesaan Sunda. Kini banyak digunakan untuk ruang pertemuan, rumah makan bahkan lembaga pendidikan. Bentuk bangunan yang bernuansa alam kian hari kian digemari. Selain itu, gerakan back to nature juga makin diminati oleh masyarakat modern di kota-kota besar. Nuansa alami biasa dikaitkan dengan suasana kejiwaan manusia, terkait dengan ketenangan, memori indah, kearipan bahkan kebijaksanaan. Sebagian orang ketika melihat nuansa alam teringat masa lalu yang indah saat tumbuh besar di pedesaan, sebagian yang lain merasakan bahwa nuansa alam atau warna yang sering ada di alam, dapat mempengaruhi situasi hati menjadi lebih positif.

Kata saung, sangat familiar dengan kehidupan pembelajaran di Sekolah Alam Indonesia. Saung kayu adalah tempat anak-anak berkumpul, menaruh tas mereka, membuka pembelajaran setiap hari, berdoa bersama, berzikir kepada Allah SWT, tempat mendiskusikan apa yang sudah dipelajari, dan menutup pembelajaran tiap hari.  Dimana anak-anak belajar? Proses belajar dapat dilakukan dimana saja, di saung kayu, di bawah pohon, di kebun sayur, di kandang ternak, di pinggir sungai, di pematang sawah, di pabrik makanan, bahkan di bawah naungan langit cerah disinari cahaya matahari yang terang. Bisa dilakukan di mana saja. Bukankah dimasanya, Rasululloh SAW melakukan proses belajar menghasilkan para sahabat yang hebat, hanya di bawah pohon kurma yang beralaskan pasir biasa?

Bagi anak-anak, berkumpul di saung kayu akan mendatangkan keceriaan. Berkumpul di saung kayu akan menghadirkan kebahagiaan. Berkumpul di saung kayu adalah awal pembelajaran yang menyenangkan. Berkumpul dan belajar di saung terbuka juga membantu anak-anak  melihat alam di sekelilingnya. Setiap hari mereka dapat menikmati betapa indahnya pemandangan. Perlahan akan membantu mereka memahami bahwa pemandangan itu merupakan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Mendorong mereka menyadari bahwa dirinya pun merupakan bagian dari ayat-ayat Allah SWT yang luar biasa. Kita bukanlah apa-apa, hanya bagian dari kehebatan Maha Karya Sang Pencipta. Cinta dan tunduk kita hanya pada Allah SWT. Belajar di saung kayu, akan membuat anak-anak mencintai alam dan lingkungan dalam rangka mencintai dan bersyukur pada-Nya.

(Visited 71 times, 2 visits today)

Novi

Bergabung di komunitas Sekolah Alam Indonesia sebagai guru sejak tahun 2001. Mendidik telah menjadi pilihan sadar sejak kuliah di jurusan Geo Fisika, Fakultas Matematika dan IPA, Universitas Indonesia. Sering mengekspresikan gagasannya melalui tulisan singkat di masa kuliah melalui Mading, Buletin dan majalah kampus serta social media. Pernah menyusun Buku Super Mentoring, Guru Cinta dan menjadi editor di dalam Buku Character Building (Membangun Jiwa Karakter Kepemimpinan Anak. Selain itu kerap juga membuat lagu untuk pendidikan bagi anak. Terlibat dalam penyusunan tiga album lagu untuk anak bersama Green Voices Sekolah Alam Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.