SAMPAIKAH PESANKU?

Ketika murid-murid SMA itu bermain pesan gambar, sang pengantar pesan mencoba untuk mencari cara bagaimana gambar di hadapannya dapat dia jelaskan dan teman-temannya menangkap pesan yang tepat dan menggambarkan ulang di kertas masing-masing. Hingga pada salah satu gambar, dia menyebutkan benda itu dalam Bahasa Jepang karena dia kesulitan mencarinya dalam Bahasa Indonesia. Itu menimbulkan ekspresi bingung dan memunculkan tawa setelahnya.
Ensiklopedia Britannica mengatakan bahwa komunikasi adalah pertukaran pesan antar individu melalui sistem simbol yang biasa. Artinya proses komunikasi terjadi ketika murid-murid SMA itu bermain pesan gambar. Penyimpangan atau distorsi saat berkomunikasi tidak dapat dihindari pada proses itu. Dengan segala ceritanya pesan yang berusaha disampaikan oleh pengantar dapat diterima. Walaupun pesan itu diterima tidak sesuai dengan awalnya.
Bagaimana jika komunikasi itu gagal? Siapa yang salah? Sandwell, Communication Aids Center di Inggris mengatakan bahwa “ketidakmampuan komunikasi tidak hanya milik individu. Kegagalan itu milik seluruh lingkungan dimana individu itu menjadi fokus.” Ini artinya jika seorang anak mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain, kesalahan bukan hanya dari sisi sang anak tetapi juga pada lingkungan dan orang-orang sekitarnya. Termasuk jika anak mengalami keterlambatan bicara.
Selain karena kelainan lahir atau kelainan anatomi pada organ, keterlambatan bicara bisa terjadi karena kesempatan dan pengalaman anak yang kurang dalam menggunakannya karena bicara digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Ada yang memulai dan ada yang merespon, proses ini terjadi berulang kali hingga ada pola yang anak dapatkan dari situ. Pola bagaimana memulai, mempertahankan dan mengakhiri percakapan dengan orang lain. Respon dari orang lain yang beragam akan membuat anak punya ketrampilan bagaimana merespon kembali.
Kesempatan anak untuk memulai percakapan berawal dari ketika anak meminta pertolongan. Ketika kata belum dikuasai, anak akan menggunakan tangisan dan bahasa fisik seperti mencolek, menarik hingga memukul untuk mendapatkan respon balik dari orang lain. Ketika dapat mulai bicara dengan kata, kesempatan menyampaikan pesan secara utuh atau hanya sepenggal agar dapat dimengerti oleh lawan bicara menjadi hal yang penting. Dapat menyampaikan pesan secara utuh walaupun dengan segala keterbatasannya akan membuat anak punya pengalaman memulai dan menyelesaikan. Ketika pesan hanya sepenggal seperti “num”, orang dewasa dapat membantu mengembangkan bahasa anak dengan menambahkan “minum” atau “mau minum?”
Beberapa teknik tidak langsung dapat dilakukan dalam membangun kemampuan bicara anak, seperti:
– Self-talk: menarasikan apa yang sedang dilakukan
– Parallel talk: menarasikan apa yang sedang anak lakukan
– Imitasi: mengikuti apa yang anak ucapkan
– Ekspansi: mengulangi dan menambahkan lagi bahasa
– Recast: mengulangi apa yang anak katakan dalam cara yang berbeda dan benar
Mengulang kata yang anak ucapkan secara tidak tepat sebaiknya tidak dilakukan karena akan membuat anak bingung. Proses pengeluaran kata yang belum sempurna ini salah satu hal yang membuat anak mengucapkan dengan tidak tepat, bukan dari proses yang terjadi di otak. Contohnya seperti ketika anak berkata “keta pi” dan orang dewasa merespon “Itu bukan keta pi. Jangan bilang keta pi. Kamu harus ingat kereta api.” Pada proses itu ada 2 kata salah yang diulang dan 1 kata benar, yang membuat anak akan merekam kata yang salah lebih banyak. Hal yang bisa dilakukan jika anak berkata “Tuka stobei.” Orang dewasa dapat merespon dengan “Aku suka stroberi juga. Stroberi enak. Es krim stroberi. Jus stroberi.” Anak akan merekam kata yang benar sebanyak 4 kali tanpa ada kata salah yang diucapkan.
Hal yang juga penting untuk dilakukan adalah konfirmasi ketika pesan yang kita tangkap kurang jelas sehingga kesalahan dalam komunikasi dapat diminimalisir. Jadi, sampaikah pesanku?

(Visited 50 times, 5 visits today)
Meutia

Meutia

Part-timer teacher and long life learner. Menggemari petualangan melalui karya orang lain berupa buku dan film maupun melakukannya sendiri.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

Meutia

Meutia

Part-timer teacher and long life learner. Menggemari petualangan melalui karya orang lain berupa buku dan film maupun melakukannya sendiri.

Leave a Reply