Sampah Bawaan

Adakah kesadaran itu bisa diterapkan di negeri ini?

Membaca kompas.com 27/11/2018, membuat malu saya terhadap teman-teman guru di Sabah. Pasalnya diwartakan sebanyak 10 meter kubik sampah atau setara dengan 10 ton sampah memenuhi pantai Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Sampah tersebut didominasi oleh plastik dan kayu. Dari mana sampah itu berada? Disinyalir sampah kiriman dari sungai-sungai di Jakarta. Sampah itu terbawa arus laut dan terdampar di Kepulauan Seribu. Salah satunya Pulau Pari yang terdekat dengan Jakarta.

Menurut Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu Yusen Hardiman, dalam sehari di saat musim hujan, volume sampah yang terdampar di Kepulauan Seribu biasanya mencapai 40 ton. 17 ton dari sampah domestik, 1,6 ton dari wisatawan, dan kiriman dari Jakarta sebanyak 21 ton. Luar biasa. Angka yang fantastik untuk produk buangan.

Sebulan lalu, ketika saya menyempatkan snorkling di Pulau Rambut memang tidak nyaman. Pulau Rambut yang berjarak 27,5 km (google map) dari Jakarta telah dikotori sampah. Saya berenang bersama sampah yang beterbaran di laut, spot snorkling yang lumayan tenar. Berbeda dengan 10 tahun lalu, birunya laut tampak jelas ke wilayah-wilayah perbatasan pulau dengan laut dalamnya. Kini batas itu seakan hilang, warna sedikit coklat muara Jakarta telah menyamarkannya.

Sedih melihat kenyataan ini. Bangsa sebesar Indonesia yang dua per tiganya lautan, rusak oleh sampah yang tidak mampu dikelolanya. Ini yang membuat saya malu ketika bertemu dengan teman-teman guru di Sabah. Mereka mampu membuat kebijakan dan memberi pendampingan. Katakan tentang 10 meter batas areal bebas dengan bibir sungai tetap terpelihara hingga kini. Bersih dan tidak ada satu pun orang yang nakal menggunakan area bebas untuk dimanfaatkan secara sepihak. Berjualan kaki lima jelas terlarang. Apalagi membuat bangunan liar. Sudah pasti kena razia. Tidak ada petugas yang siap dibayar sebagai jaminan keamanan dan kebersihan. Area bebas clear. Maka pantas saja sekotor sungai-sungai di Sabah tidak membawa kotoran sampah. Hanya kotor tanah karena lapisan tanah di badan sungai terkikis banjir. Airnya berujung di muara. Coklatnya tanah yang sebentar mengendap dan tidak meninggalkan polusi.

Adakah kesadaran itu bisa diterapkan di negeri ini? Paling tidak ada petugas yang mampu mengawal penduduk yang abai terhadap lingkungan bersih dan sehat. Petugas yang mempunyai integritas skala delapan jika belum mungkin mendapat skala sepuluh. Kalau bukan kita siapa lagi yang peduli? Kalau bukan sekarang kapan lagi diterapkan?

 

Kang Yudha

Sumber gambar: https://megapolitan.kompas.com/read/2018/11/28/08233761/10-ton-sampah-diangkat-dari-pulau-pari

(Visited 4 times, 4 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.