Salamah

Hari-hari berlalu. Sebagian merasakannya berlalu dengan cepat dan sebagiannya merasa berlalu seperti siput yang merangkak. Namun, lambat ataupun cepat waktu tentulah yang lebih baik adalah yang mampu melewati hari-harinya setingkat lebih baik. Lebih dapat memaknai hidup. Sesungguhnya kita diciptakan oleh-Nya untuk beribadah pada-Nya.

Seperti halnya di saung berbahan kayu ini, tempat murid-murid kecilku belajar bersama. Canda-tawa, berteriak, bahkan pelukkan erat yang tiba-tiba merangkul tubuhku. Semua menghias tanpa terlewati setiap hari.

Dan bila suatu hari kamu membisu, aku curiga. Tak biasa sikapnya seperti itu. Ada apakah gerangan? Mengapa terpaku? Adakah keluh yang tak bisa kau katakan, Nak? Ya! Kamu selalu membutuhkan waktu untuk berkata, mencurahkan rangkaian kata tentang rasamu. Mungkin bahu ini diciptakan Allah salah satunya untuk menopang kegelisahanmu, menjadi tempat bulir-bulir bening yang mengalir dari matamu.

“Bu Hana….”

Seorang gadis berjilbab abu-abu tiba-tiba menyerangku dengan pelukan. Membiarkan air matanya membasah di pundak sesaat agar sesak sedikit hilang.

“Bu Hana, ini air puth untuk Salamah,” seorang gadis berkaca minus tiba-tiba datang memberi botol minum miliknya.

“Masyaa Allah, terima kasih Rania.”

Ini yang selalu membuat hatiku membiru. Murid-murid kecilku mempunyai hati lembut, merasakan sakit jika seorang temannya terluka. Sekali lagi aku terbuai dengan halus perasaanya yang menabur ketenangan dan menggenggam rindu padanya.

Kulihat jam tangan yang melekat di lengan kiri. Lima belas menit berlalu. Hana membutuhkan waktu tersebut. Kini tangisannya mulai reda, hanya sesekali sesenggukan yang masih terdengar dan lembab kelopak matanya mengisyaratkan jejak hatinya yang pilu. Saatnya mendengar rangkaian kisahnya pagi ini yang membuatnya menangis.

“Salamah sholiha, sekarang apakah sudah siap bercerita dengan Ibu?” Bisik lembutku pada gadis yang duduk bersila di hadapan dan hanya anggukan kepala Salamah sebagai isyarat jawabannya.

“Bu Hana, aku sedih, tadi pagi aku lihat darah mengalir di kaki Bunda, pasti Bunda kesakitan, aku kasihan sama Bunda. Terus Ayah membawanya ke rumah sakit.” Salamah bercerita suara terbata-bata.

“Innalillahi wainnailaihiraaji’uun…” kupeluk tubuhnya yang sesenggukannya mulai bernada kembali.

“Dengarkan Bu guru, sayang, insyaa Allah Bunda akan baik-baik saja, sekarang kita berdoa agar Bunda selalu sehat ya!” kami pun menengadahkan kedua tangan berdoa pada-Nya.

“Ya Allah, Salamah mohon berikan kesembuhan untuk Bunda, jangan biarkan Bundaku sakit, aku sayang Bunda, aamiin”

Mendengar lantunan doa yang dipanjat, menyimpulkan sebuah air mataku di pipi terjatuh. Kusadari bahwa pagi ini Sang Kuasa memberi sepucuk surat cinta agar aku mampu mengambil ibroh dari sebuah kisah, yaitu tentang ketulusan cinta dari seorang anak kepada seorang wanita yang melahirkan dan mengenalkan dunia untuk pertama kalinya dengan penuh cinta.

“Oh ya, tadi Salamah diantar siapa ke sekolah?” Tanyaku.

“Tadi aku diantar Engki, Bu guru,”

“Nak, yuk sekarang kita bergabung bersama teman-teman!”

Ketika aku dan Salamah sudah bergabung dengan teman-teman kecil lainnya di kelas, tetiba suara telepon genggamku bordering. Tanyapun menyelinap, siapakah gerangan yang telepon di saat jam mengajar. Selama ini keluargaku sangat paham, tidak boleh menelopon disaat jam mengajar, kecuali penting.

“Hallo, Assalamu’alaikum, Bu Hana,” suara asing seorang laki-laki terdengar di seberang sana.

“Wa’alaikumussalam, iya, Pak, dengan siapakah ini?” Tanyaku pada lelaki tersebut.

“Saya, ayahnya Salamah, bagaimana kondisi anak saya, Bu guru?” suaranya terdengar mengkhawatirkan putrinya.

“Iya, Pak, Alhamdulillah sekarang sudah tenang dan Salamah bersama teman-temannya di kelas.” Jelasku.

“Syukurlah, terima kasih, Bu guru,” balasnnya.

“Oh ya, Pak, bagaimana kondisi Bundanya Salamah saat ini?” dengan hati-hati kubertanya padanya..

“Segala upaya sudah dilakukan dokter, namun janin yang ada dalam kandungan tidak bisa diselamatkan, istri saya saat ini berada di ruang ICU karena pendaraan yang tiada henti, mohon doanya, Bu guru,” jawab pilu suaranya.

“Innalillahi wainnaillahi raaji’uun, turut berduka, Pak, insyaa Allah doa kami akan mengiringi kesembuhan Bunda Salamah.”

“Iya Bu Hana, terima kasih atas doanya, titip anak saya ya, bu.”

“Bapak tenang saja, kami akan menjaga Salamah, oh ya pak, kalau boleh tahu Ibu di rumah sakit mana?”

“Di RS.Keluarga Bahagia, Jakarta Selatan, Bu guru.”

Sebuah perjuangan dari seorang yang bernama IBU. Tak peduli sakit yang bertubi-tubi menyerangnya. Bahkan nafas yang berhempus selalu ada cinta untuk keluarga.

Salamah. Gadis cantik (special need) hatinya sungguh lembut. Ruang berdinding kayu menjadi saksi cintanya kepada sang Bunda. Daun jendela pun meredam rindu padanya dan menanti menggenggam qalbu dengan asa yang melangit.

Ya Allah…izinkan hamba melukis senyuman. Salamah di langit biru. Memahat namanya agar abadi, dan mengukir kisahnya dengan tinta cinta.

 

 

 

 

 

(Visited 40 times, 1 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply