Riuhnya Hujan Pertama, Berkah atau Musibah?

Pernah dengar kalimat begini, “Yaa.. hujan”, dengan mimik wajah kecewa dari si pelontar kalimat tersebut?
Atau sebaliknya ada yang mengatakan, “Alhamdulillah…, hujan”, dengan wajah yang menampakkan kelegaan dan rasa bahagia.
Pada lontaran kalimat pertama biasanya kita dengar dari orang yang hendak berniat pergi dan tiba-tiba hujan mengguyur wilayah sekitarnya. Ungkapan tersebut pertanda kecewa karena rencananya hendak bepergian menjadi gagal setelah hujan turun.
Sedangkan ungkapan kedua muncul biasanya setelah lama tidak turun hujan, cuaca terik dan kekeringan, kemudian Allah menurunkan hujan sebagai pengguyur rasa rindu akan musim penghujan yang dinanti.

Sering juga kita mendengar kalimat, “Gara-gara kehujanan, kamu jadi sakit.”

Atau kalimat menyalahkan yang terpampang besar-besar di media cetak, “Hujan yang deras jadi penyebab banjir besar di wilayah Jakarta.”

Adakah yang salah dengan turunnya hujan? Sehingga banyak orang mengenggapnya sebagai sumber musibah. Padahal ketika hujan belum turun, banyak petani yang merasa sedih karena tanamannya mati kekeringan. Banyak juga peternak yang khawatir hewannya menjadi kurus kelaparan karena tak ada rumput segar yang bisa dimakan.

Kalau kita mampu memikirkan tentang siklus kehidupan di muka bumi ini, maka kita akan mengetahui bahwa hujan adalah prasyarat penting bagi kelangsungan hidup hampir semua makhluk. Kedatangan hujan banyak dinantikan oleh hampir semua orang yang menyadari bahwa hadirnya adalah sebagai rahmat di muka bumi ini. Allah telah berfirman,
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”(QS: Az-Zukhruf : 11)

Inilah bukti bahwa Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat diperlukan oleh seluruh makhluk. Allah pula yang menurunkan hujan agar banyak orang mendapat kegembiraan setelah bertahun-tahun hampir putus asa menunggu. Karena itu, Alquran menyebut hujan sebagai rahmat dan berkah, bukan musibah.
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS: Asy-Syuura [41] : 28). Dengan mengirim hujan-lah, Allah menyuburkan tanaman-tanaman yang dibutuhkan manusia dan semua mahkluk yang hidup di bumi, menumbukan pepohonan dan buah-buahan dan biji tanaman yang dibutuhkan manusia.
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Yang dimaksud keberkahan di sini adalah turunnya hujan, lebih banyak melahirkan kebaikan (manfaat), daripada mudharatnya (keburukan). Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat memerlukannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?.” (QS. Al Anbiya’ (21) : 30).
Al Baghowi menafsirkan ayat ini, “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu.”

Referensi :
https://www.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2014/01/28/15582/datangnya-hujan-adalah-berkah-bukan-musibah.html

(Visited 5 times, 1 visits today)

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.