Rindu Kami Padamu

Gelombang cintanya begitu dahsyat, masih terasakan hingga detik ini. Bahkan bagi kita yang tak pernah bertemu wajah dengan beliau. Ingin rasanya kembali pada masa itu, saat kita bisa memandang wajahnya yang bundar menawan, berpijar seperti cahaya purnama. Warna kulitnya putih bunga, mulutnya lebar dihiasi dengan gigi yang indah. Ah, betapa inginnya kami memandang senyummu duhai Baginda SAW. Matanya lancip merekah fajar, dengan bulu mata panjang. Rambutnya berombak, tidak keriting dan tidak lurus. Pada rambutnya yang hitam, hanya sedikit uban terselip. Bahkan di akhir hayat hanya sekitar dua puluh lembar menyebar di kepala, bawah mulut dan kedua pelipis. Sebagian rambut kemerah-merahan bekas minyak wangi. Kedua kaki dan tangannya kokoh. Telapaknya luas terbuka seolah menjadi pertanda bagi keterbukaan beliau dalam menyambut umatnya. Anas, pelayannya berkata, “Belum pernah kusentuh kain sutra lebih lembut dibanding telapak tangan Rasulullah. Dan belum pernah kucium aroma lebih wangi dibanding aromanya.”

Saat membaca berita bahwa the Muslim 500 kembali merilis para tokoh Muslim paling berpengaruh dunia, ingatan saya seketika melayang pada seseorang yang pengaruhnya jauh di atas tokoh-tokoh muslim saat ini. Beliau begitu agung dan mulia, hingga Allah mengabadikannya dalam Alquran, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasul suri teladan indah bagi orang yang memendam harap pada Allah dan hari kiamat dan banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab :21)

Rasulullah SAW, Nabi terakhir yang diutus oleh Allah ke muka bumi untuk menyempurnakan risalah tauhid bagi umat manusia. Akhlaknya selalu menawan hati, bagaikan Alquran yang berjalan. Beliau berbicara seperlunya, bicaranya fasih, ringkas tapi padat. Menghargai nikmat sekecil apapun tanpa pernah mencaci. Tak pernah mencela makanan; bila suka, dimakan, bila tidak, ditinggalkan. Bila marah, beliau memalingkan muka. Bila senang, beliau memejamkan mata. Sangat santun, tak pernah berkata kotor, berbuat keji dan melampaui batas, serta berteriak-teriak di pasar. Bila menghadapi dua hal, beliau memilih yang termudah selama tidak berpretensi maksiat. Perilaku beliau sungguh mengagumkan, di rumah, beliau adalah manusia biasa yang mencuci baju, memerah susu, dan mengerjakan sendiri segala keperluannya. Raut wajahnya selalu cerah, perangainya dapat ditiru dengan mudah, lemah lembut dan ramah. Bagi yang sering bergaul dan telah mengenal baik beliau, ia akan mencintainya tanpa batas.

Berkata orang yang berusaha menggambarkan beliau, “Tak pernah kulihat orang seperti dia, dulu maupun sekarang.”
Alhamdulillah, semoga kita tergolong umatnya yang merindukan perjumpaan dengan beliau. Tiada yang pantas dipersembahkan kepada beliau melainkan shalawat dan salam semoga abadi mengalir kepada beliau, segenap keluarga dan sahabat beliau.

Referensi :
– Bilik-Bilik Cinta Muhammad, Dr. Nizar Abazhah, Serambi.
– Gambar :http://www.academicindonesia.com/bercandanya-rasulullah/cara-berguraunya-nabi-dengan-kejujuran/

(Visited 9 times, 1 visits today)

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.