Resonansi Cinta

Menyimpan waktu bersamamu seperti tak ubahnya menyemai benih cinta yang semakin lama tumbuh dipenuhi kesyukuran. Meski ada kalanya kata maupun tingkah lakumu yang membuatku kecewa, begitu juga yang sering kau rasakan saat luka menganga tersebab kata atau sikapku. Usiamu yang menginjak masa peralihan terkadang memberikan banyak sentuhan kejutan bagi kami. Masa transisi, itu yang orang sebut untuk saat-saat yang kita lalui sekarang ini. Banyak kesepahaman yang semestinya kita lakukan. Dan itu yang mendewasakan kita nantinya.

Namun tahukah kau Nak, rasa kecewa dan seribu satu luka itu secara ajaib menjadi terlupakan kala kau sedang berada jauh dari kami. Semua rasa itu berganti menjadi sebuah getaran besar yang bisa menembus jarak dan waktu meski ribuan kilo jauhnya, Resonansi cinta namanya.

Ini yang berkali-kali kurasakan saat kepergianmu menyebrangi lautan, melintasi awan dan bahkan tak tersentuh oleh alat komunikasi apapun. Tawakkal dan do’a barangkali itu yang menjadi senjata ampuh untuk meredam rindu yang membuncah.
Tak terkecuali saat kau dan teman-teman memutuskan akan melakukan perjalanan ke gugusan pulau di sebelah timur Indonesia. Melepasmu melintasi jarak ribuan kilometer dengan berbekal sebuah harap dan keyakinan, Allah akan menyertaimu selama kau jaga hubunganmu denganNya.

Keindahan Buton dan Wakatobi bagai menyihirmu saat itu, membuatmu sejenak melupakan resonansi cinta kami yang terus bergema. Tak apa, dari sini kami bisa membayangkan raut kecerianmu, tawa bahagiamu bersama teman dan guru yang menemani perjalanan menuntut ilmu.

Dari hari ke hari kelelahan yang kau rasakan tak menyurutkan langkahmu untuk membersamai perjalanan mencari bekal seorang pemuda yang tangguh. Berada di lingkungan yang baru bagi anak seusiamu tentu tak mudah. Bercengkrama dengan anak-anak suku Bajo dan membagi kebahagiaan bersama mereka itu adalah sesuatu yang luar biasa menurut kami. Dan itu kau lakukan tanpa keluh kesah. Mempelajari sejarah masuknya Islam di negeri Khalifatul Khamis seolah menjadi penghapus segala jerih payah proses yang kau lalui sebelum melakukan perjalanan ini. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang telah memberikan kesempatan pada anak-anaak kami yang telah menikmati masa remajanya dengan mencari ilmu hingga jauh ke pulau seberang.

Sedangkan kami disini, tetap setia menantimu dengan penuh harap, kau akan kembali dalam keadaan sehat dan kelak menbarkan segala kebaikan yang kau dapat bagi sekitar.

Di akhir penantian, rindu ini terbayar sudah. Segelas coklat hangat dan sepotong pizza menjadi teman kita bercengkrama senja itu. Dan ceritamu mengalir tiada henti seolah menjawab resonansi cinta kita yang sepekan terbentang luas.

Barakallahu anak-anak.. atas setiap lelehan peluh yang menetes di setiap jerih payahmu.. semoga Allah memberkahi.

(Visited 114 times, 4 visits today)

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.