Resah Berganti Berkah

“Bu guru, Bu guru, aku tidak ikut market day, aku tidak mau!” ujar Sibarani. Ucapannya cukup membawa beberapa pasang mata teman-temannya yang duduk dalam lingkaran ke arahnya.

“Kenapa, Nak?” tanya Bu Desta kepada si pemilik rambut legam, lebat, dan lurus.

“Aku tidak mau, nanti kalau tidak ada yang beli bagaimana?” jelas Sibarani dengan logat Sumatra.

“Tidak apa-apa, Nak, kita berdoa sama-sama ya, agar jualan kita nanti banyak yang beli,” jelas Bu Desta. Dan dilanjutkan doa bersama, membaca surahtul Fatihah.

Sibarani bersama teman-temannya melantunkan surat pembuka dalam Alquran tersebut dengan khidmat. Ayat demi ayat yang dilantunkan begitu syahdu, menambah kesejukan pagi.

Pagi itu langit terlihat mendung. Awan hitam mulai bergerombol, mengintai dari celah-celah langit ke titik-titik yang akan dicurahkan oleh air hujan atas izin Sang Pemberi Rahmat.

Sudah tiga hari menjelang selebrasi Market Day di Sekolah Alam Indonesia Cipedak, Sibarani, yaitu siswa ISTC selalu berceloteh, dengan kalimat yang sama dan diulang terus menerus. Berhari-hari Sibarani larut ke dalam cangkir berisi ketakutan dan keresahan sebagai jamuan perasaannya sendiri. Hingga menjelang hari H kalimat tersebut masih diulang-ulang.

“Sibarani, kamu jangan bilang seperti itu, insya Allah jualan kita besok banyak yang beli,” ujar Salsa. Gadis berwajah oriental itu berusaha menenangkan hati sahabatnya.

“Tapi aku takut, Salsa! Nanti kalau tidak ada yang beli bagaimana?” cakap Sibarani dengan kalimat yang sama.

“Tidak apa-apa, Sibarani, besok ayah dan ibu kita pasti beli jualan kita,” jelas Salsa. “Mamaku besok juga mau beli kok, kamu jangan takut ya,” lanjut gadis cantik yang memiliki bulu mata lentik.

“Oh, mama kamu mau beli, beli semua, jualan kita habis,” ujar Sibarani. Melihat dan mendengar tutur katanya membuat seisi ruangan tersebut tersenyum. Ah, sungguh unik caranya berkomunikasi.

Inilah cara mereka belajar. Melewati proses panjang yang tidak tahu batas waktu. Namun, atas izin-Nya mereka mampu memberi warna dalam proses tersebut. Dan atas keridhoan-Nya mereka mampu melukiskan cinta dalam belajarnya yang di-aamiinkan oleh para Malaikat. Karena keresahannya adalah doanya. Dan doa yang dilangitkan telah mengantarkan pada keberkahan-Nya.

(Visited 6 times, 1 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.