Remaja Milenial

Mendidik dan melatihnya seperti Ismail akan membutuhkan sikap konsisten dan komitmen yang tinggi.

Pengalaman membawahi anak-anak usia remaja memang gampang-gampang menantang. Anak-anak yang masih tergolong anak milenial, juga dikenal sebagai Generasi Y. Mereka adalah kelompok demografi tidak berbatas waktu. Sebagai awal kelahiran kelompok ini, pada kisaran tahun 1980-an. Pertengahannya yang lahir pada tahun 1990-an. Sementara awal 2000-an dianggap sebagai akhir kelahiran.  (https://id.wikipedia.org/wiki/Milenial). Dilalah saya mendampingi remaja kelahiran awal tahun 2000-an. Tepatnya anak kelahiran tahun 2003 hingga 2006. Artinya, mereka tergolong remaja menurut world health organization (WHO).

Dijelaskan bahwa remaja yang dimaksud WHO meliputi pandangan kematangan seksual (pubertas). Mengalami perkembangan dalam pola identifikasi dari anak menuju dewasa. Mengalami peralihan dari sebelumnya bergantung menjadi keadaan yang cenderung lebih mandiri dan aspek ekonomi. Uniknya remaja milenial yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Kalau berbicara suka tidak jelas, tapi jika diberi kesempatan berkomentar lewat gadget paling detail. Tajam dan menguliti. Dalam dan teliti. Saya termasuk yang kejat-kejat mengikuti proses pendampingannya. Perlu berlatih cara menggali ala remaja milenial. Tidak perlu banyak bicara tetapi mengerti dengan bahasa simbol, emoticon, dan gambar.

Maka mengacu pada pendidikan Islam, khususnya membentuk tipe remaja terbaik, menurut saya perlu didekatkan pada Nabi Ismail. Beliau digambarkan sebagai pemuda berhati bersih yang diabadikan kisahnya di dalam Alquran dengan sangat gamblang. Kisah yang mengharu biru perasaan siapapun hingga kini membaca perjalanan hidupnya. Kisah legendaris abadi yang dirangkum dalam kitab suci Alquran. “Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kemudian detik-detik kisah yang mengharukan berubah menjadi kebanggaan terhadap nilai kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Mendidik dan melatihnya seperti Ismail akan membutuhkan sikap konsisten dan komitmen yang tinggi. Membangun kepercayaannya yang tidak cukup sebulan dua bulan, tapi membutuhkan waktu panjang dan teratur.

Saya berdiskusi hangat dengan seorang guru binaan mereka. Berdiskusi untuk mengeluarkan potensi remaja milenial ini, bukan memecahkan isi kepalanya. Membantunya menemukan jati diri lewat beragam kegiatan menantang. Lewat formasi lingkaran dalam evakuasi di laut lepas, solo camp, dan berkano bersama. Walaupun masih tahap awalan, tetapi saya melihat perubahannya. Setidaknya sekat-sekat itu lebih terbuka. Saya bisa baca dari tatapan mereka.

 

Kang Yudha

(Visited 118 times, 118 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

2 thoughts on “Remaja Milenial

  • November 14, 2018 at 08:12
    Permalink

    Energizing story. Top

    Reply
    • Kang Yudha
      November 14, 2018 at 11:12
      Permalink

      Terima kasih atas supportnya.

      Reply

Leave a Reply