Pussyku yang Lucu

Tujuh hari telah berlalu, dia tak akan pernah kembali lagi. Meninggalkan kenangan yang begitu indah dan selalu membayang dipelupuk mata. Senja ini aku beranikan diri untuk goreskan pena tentangnya, yaitu si empunya wajah lucu dan menggemaskan. Sesaat tangan bergetar dan seperti tak bertulang, ingin sekali aku berlari mengejarnya, namun apalah daya, duniaku telah berbeda dengannya.

“Ya Tuhan… Bantu aku untuk ikhlaskan dia pergi,” bisik bathinku yang semakin menjerit.

Awal pertemuan dengan Pussy waktu itu, aku dan Zidan pergi ke pelataran masjid. Ketika kaki ini sedang melangkah, tiba-tiba terdengarlah suara yang membuat penasaran. Suara mungil dan menggemaskan sepertinya.

“Meong… Meong… Meooong,” suara itu semakin dekat di telingaku.

“Zidan, lihatlah! Itu dia ada di sana! Aku mencoba meraih tubuhnya yang terlihat ringkih dan mungil di sudut meja.

Setelah berdiskusi dengan Zidan, si mungil ini “aku memanggilnya” dibawa ke saung kelas untuk dirawat, sepertinya si mungil ini kelaparan. Entahlah, kemanakah mominya?

Iih… Apa yang kalian bawa,” suara Rayya dan Ays berbarengan yang sedanng berdiri di depan saung.

“Ssssst jangan berisik, kasihan dia sedang tertidur,” aku dan Zidan memberi isyarat dengan mengangkat jari ke bibir.

Ya, dari sinilah awal pertemuanku dengannya. Setelah berdiskusi dengan teman-teman, kami sepakat untuk merawat dan memberi nama Pussy.

21 hari berlalu dengan indah, suaranya yang menggemaskan mengiringi kami dalam belajar. Pussy tumbuh dengan sehat, bulunya yang halus membalut seluruh tubuhnya dan menambah kecantikkannya. Suaranya sering memecahkan kelas ketika kami sedang belajar. Dan tak jarang Pussy menghampiri kami yang sedang berdiskusi ataupun sedang makan siang.

Hingga suatu hari, datanglah tiga orang lelaki yang ingin mengambil Pussy dari tangan kami. Ya, hari itu adalah hari yang membuat darah ini mendidih.

Hai, kakak… Kita mau ambil Pussy! Pussy itu milik kami!” seorang lelaki bersuara dengan lantang menyebut-nyebut nama Pussy.

“Loh kenapa kamu bilang Pussy ini milik kalian? Aku yang menemukannya! Aku dan Zidan yang menemukan Pussy, dan dia sedang kelaparan, makanya dibawa ke saung kami,” Zidan mempertahankan Pussy agar tidak terbawa lelaki tersebut.

Hari berganti hari, perselisihan kami semakin riuh. Dan pada akhirnya kami bersama ketiga lelaki tersebut dipertemukan oleh Bapak dan Ibu guru. Kesepakatan telah tercapai, meskipun hatiku belum menerimanya kalau Pussy ikut bersama ketiga lelaki itu. Berat rasanya untuk melepasnya. Demi Pussy aku dan teman-teman berusaha berlapang dada, merelakannya pergi bersamanya. Yang terpenting adalah Pussy tumbuh dengan sehat.

Seminggu sudah Pussy tak bersama. Kabar yang aku terima, saat ini Pussy terlihat kurus. Aku dan teman-teman mencoba beranikan diri datang ke asrama lelaki itu. Apa yang terjadi, sungguh memilukan. Bulunya tak selebat dan sehalus dulu, badannya pun hanya tulang yang terlihat dengan jelas. Karena ketiga lelaki tersebut tidak menjalankan kesepakatan untuk merawat dengan baik, kami meminta agar Pussy kembali ke pangkuan saung kami.

Dua hari ini kami mencoba merawat Pussy dengan baik, memberinya susu dan makanan kesukaannya. Namun… Hari ini, tubuhnya semakin tak berdaya. Bergeming bagaikan tak bertulang. Kami masih mencoba sedikit demi sedikit memberi asupan susu dan air putih untuknya. Hingga siang ini, ajalnya pun datang. Pussi telah pergi menghembuskan nafasnya di saung kami. Dengan linangan air mata, kami membuat rumah khusus di serambi saung. Rumah ukuran mungil, semungil tubuh Pussy.

Pussyku yang lucu, aku ikhlas kamu pergi. Meski kamu telah tiada, kamu akan selalu terkenang.

Untuk teman-temanku semua, sayangilah semua mahluk ciptaan Allah SWT. Karena Rosululloh SAW pun mengajarkan kita untuk menyayanginya, memberi makan dan minum adalah salah satu amalan kita.

Seperti hadits berikut ini.

“Pada setiap yang mempunyai hati yang basah (hewan) terdapat pahala itu (dalam berbuat baik kepadanya)” Diriwayatkan oleh HR Al Bukhari : 2363

Semoga kita termasuk orang-orang pilihan Allah SWT, aamiin.

 

 

 

 

 

(Visited 52 times, 2 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.