Phasing

Phasing diterjemahkan sebagai penahapan.

Membersamai remaja milenial tidak sederhana. Zaman saya di tahun 80-an lebih natural. Banyak tanah lapang di kampung-kampung. Main bola, main galasin, petak umpat, panjat pohon, dan permainan fisik berlimpah. Orang tua tidak phobia jika anak-anaknya menghilang di senja hari. Pikirannya kalau tidak main layang-layang di lapangan remaja, mungkin berenang di sungai desa. Khawatir pasti ada tapi tidak melarang keras sebagaimana sekarang. Kasus penculikan hampir beredar setiap hari di dunia sosial, media cetak, bahkan menjadi pergunjingan ibu-ibu di rumah. Beritanya seseram kejadiannya. Tidak bisa dipungkiri, kita harus waspada.

Maka remaja milenial lebih indoor. Apalagi difasilitasi gadget, mengembara di dunia maya tanpa batas. Bersyukur jika di keluarganya ada aturan penggunaan yang membatasi petualangannya. Jika tidak, semua wilayah dimasuki tanpa kulonuwun. Itu pasti, karena tanpa pintu. Jendela-jendelanya terbuka dan mengundang pengunjung memasukinya sampai ke daerah privasi.

Saya harus bersabar untuk berkomunikasi dengan remaja jenis ini. Tanggapannya cenderung dingin, tanpa ekspresi, dan matanya tidak beralih dari gadget di tangannya. Namun, jika diminta komentar secara tertulis, keluar bahasa yang menguliti, dalam dan menikam.

Nah, belajar dari Mas Diduk tentang phasing menjembatani gap saya dengan remaja jenis ini. Mengatur frekuensi dan mengalihkan sedikit demi sedikit perhatiannya tidak pada gadget di saat berkomunikasi langsung, percakapan tatap muka yang menggunakan cara menatap. Dilihat matanya tapi tidak berlama-lama. Tidak perlu dalam-dalam karena mereka mudah terluka.

Saya mencoba menyelami phasing yang dimaksud Mas Diduk. Phasing diterjemahkan sebagai penahapan. Menurutnya phasing berbeda dengan mirroring. Beliau menyarankan tidak melakukan pendekatan mirroring karena akan menjiplak yang ujungnya akan menjebak ketika tidak mampu menjadi kaca sebagai refleksinya.

Jadi yang saya lakukan adalah menyamakan frekuensi bicara, duduk mendampingi bukan menghadapinya, sambil berempati menanyakan hal-hal yang dirasakannya. Itu fase tersulit, karena tidak mengulangi tapi menggali dengan pertanyaan coaching. Perlu jam terbang.

Saya menstimulasi diri sendiri, mengumpulkan perbendaharaan pertanyaan terbuka dan mulai berlatih. Tahap pertama ini saya meng-coach diri sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menghakimi tapi memancing jawaban dari dasar hati.

Hasilnya? Masih perlu latihan berkali-kali agar membersamai remaja milenial dapat bermakna.

Siapa takut….

 

Kang Yudha

(Visited 59 times, 59 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply