Teristimewa

Melakukan perjalanan ke daerah Parahiangan yang sejuk dan menawan memberi kesan mendalam. Apalagi melihat bukit yang terjal berkontur. Beraneka rupa tanaman sayuran khas daerah pegunungan terhampar di lahan-lahan terbuka. Sungguh menawan. Saya terkesima.

Mengunjungi pesantren tradisional di tengah penduduk yang mayoritas petani, pasti kita akan berpikir tentang kehidupan santri sebagai petani. Tidak bisa disalahkan jika para santrinya berjibaku mengusahakan budidaya tanaman demi melatih kemandirian.

Saya mencoba untuk menggali informasi lebih detail. Siapa tahu bisa buat pembelajaran anak-anak di sekolah khususnya membangun karakter mandiri. Hidup di atas kaki sendiri yang di zaman sekarang sudah menjadi barang langka. Terus terang saya penasaran. Kemudian saya cari informasi melalui web pesantren. Ternyata pesantrennya sudah berusia tua. Berdiri tahun 1934 sebelum proklamasi.

Wow. Pastilah K.H Mansyur merupakan sosok pejuang tangguh. Memimpin pesantren salafiyah dengan mengandalkan pengelolaan lahan produktif. Baru tahun 1970 K.H. Fuad Affandi selaku cucu pendiri melakukan perubahan besar hingga nama pesantren dikenal masyarakat luas.

Ada pesan yang kuat tentang pemberdayaan. “Tidak ada tanah sejengkal yang tidur. Tidak ada sampah yang ngawur. Tidak ada waktu yang ngganggur.” Pemanfaatan tanah seoptimal mungkin akan meningkatkan produktivitas pertanian. Semua sampah diminimalisir hingga benar-benar diperhatikan keberadaannya. Setelah sayuran disortir, maka sayuran yang tidak masuk dalam grade satu sampai lima akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sisanya dikumpulkan kembali dan diolah sebagai pupuk hijau. Menariknya sistem pertanian terpadu dapat diwujudkan untuk menyerap asupan secara optimal.

Penjelasan Kang Arifin selaku humas dan tangan kanan Kiyai memberi manfaat yang nyata dalam pengelolaan pertanian dan pemberdayaan masyarakat. Istimewanya tetap menegakkan ibadah salat di awal waktu. Tanpa terkecuali. Mau sesibuk apapun, mau sempit waktu budidayanya, salat harus dilaksanakan di awal waktu. Mereka percaya Sang Pencipta menurunkan keberkahan dari langit dan mengeluarkannya dari bumi . Agribisnis jalan, ibadah tidak tertinggal.

Saya pikir orang kota perlu belajar di pesantren ini. Pesantren Al-Ittifaq yang telah berhasil mengawinkan pendidikan, usaha agribisnis, dan pemberdayaan masyarakat. Diharapkan bisa menjadi trigger di masyarakat perkotaan untuk hidup yang lebih harmoni.

 

Kang Yudha

(Visited 5 times, 1 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply