Perpecahan dan Pembangkangan

Pilihannya ikuti aturan main yang sudah ditetapkan atau mundur baik-baik.

Akhir-akhir ini saya banyak berdiskusi tentang maraknya putusnya hubungan baik di banyak lembaga. Mulanya dibangun dengan semangat kebersamaan tapi di tengah jalan harus berpisah tanpa ada kesesuaian lagi. Istri saya menjadi tempat diskusi paling asyik sebenarnya. Karena di samping pengetahuannya luas juga pendekatan dari sisi agamanya patut menjadi pertimbangan. Sering kali kami beda pendapat. Semakin beda semakin seru mencari argumen yang paling mendekati kelogisannya.

Saya ingat malam itu setelah saya pulang dari kegiatan rutin, ingin rasanya segera berdiskusi dengannya. Hanya waktu sudah menunjukkan pukul 00.15. Ternyata saya tiba di rumah sudah dini hari. Saya pikir, menundanya lebih baik. Semoga esok paginya saya masih mood.

Terus terang saya jadi gregetan dengan kata perpecahan dan pembangkangan. Saya coba membandingkan kedua kata tersebut berdasarkan KBBI online. Perpecahan adalah bentuk nomina, artinya keadaan atau perihal berpecah-pecah (berpecah-belah dan sebagainya). Jika dalam bentuk kata kerja, maka kata pembentuknya berubah menjadi terpecah. Artinya terbagi; terbelah. Sementara pembangkangan berarti proses, cara, perbuatan membangkang dalam bentuk nomina. Perubahan dalam kata kerja menjadi bangkang yang artinya tidak mau menurut (perintah); mendurhaka; menentang; menyanggah.

Jadi jelas jika ada personal membuat aturan main dalam rules yang telah ditetapkan berarti termasuk pembangkangan. Pembangkangan yang dilakukan di tataran leader akan runyam jadinya. Bisa jadi memecah belah lembaga itu. Tindakan yang tidak gentlement. Pilihannya ikuti aturan main yang sudah ditetapkan atau mundur baik-baik. Jauh dari menyisakan perpecahan.

Esok harinya setelah Subuh, kesempatan bercengkerama itu ada. Obrolan pagi pendamping breakfast tentang membangun peradaban dari cita-cita yang tidak sejalan. Terus terang saya menikmati diskusi pagi itu.

Ada identitas yang tegas, ada arah perjuangan atau cita-cita, ada agenda kerja dari implementasinya. Pasti perlu komitmen kuat. Perlu sikap konsistensi yang panjang. Maka nilai-nilai yang dibangun akan dapat bertahan hingga waktu yang tidak ditentukan. Syaratnya tentu komitmen dan konsisten, tidak bisa ditawar.

Kalau saya simpulkan, lembaga akan terpecah jika ada pembangkangan. Maka dari itu membangun sistem sangat dibutuhkan untuk memperkuat fondasi dan mensolidkan struktur bukan tergantung pada sosok manusianya. Karena pemimpin pasti akan berganti.

Saya jadi perlu berkaca pada semua lembaga yang saya ikuti. Baik formal maupun non formal. Keguyuban bukan mentolerir sistem lembaga yang amburadul tapi seyogianya memberi kesadaran bersama untuk mengacu pada sistem yang lebih baik. Transparan, mudah diakses, dan profesional.

 

Kang Yudha

 

Sumber gambar: https://pixabay.com/en/photos/pointing%20finger/

(Visited 7 times, 7 visits today)
Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Kang Yudha

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat (Medan, Palembang, Bengkulu, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, Lombok, Wamena-Papua, Keningau-Beaufort-Sipitang-Kundasan-Sandakan Sabah, Melbourne). Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis delapan buku yaitu Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - kumpulan cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), dan Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply