Permohonan Maafku di Penghujung Oktober

Sebuah pesan singkat harus kutulis dan kukirim via guru putra pertamaku, pasalnya aku dan suamiku tertidur lelap saat menanti telepon tanda kami harus menghubungi putra kami yang sedang mengikuti kegiatan live in selama 9 hari.

Kerinduan dan rasa ingin tahu tentang kabar putra kami menyebabkan kami lelah menanti dering telepon  yang sudah dalam genggaman. Lep… terlelap sejenak seperti tersihir rasa kantuk yang merenggut penantian kami yang hanya beberapa menit saja kesempatan untuk menelpon dari waktu yang tersedia.

“ Braaak” Terhentak aku saat telepon di genggaman terjatuh. Langsung saja mata ini melihat ke arah jam dinding.“ Astagfirullah, kesempatanku harus menelepon sudah berlalu”. Pilu rasanya penantian melepas rindu lewat telepon mendengar suara putraku terlewat begitu saja. Gelisah, penyesalan dan perasaan bersalah menyerang perasaaanku dan pikiranku sebagai seorang ibu.

Sudah terbayang wajah putraku dengan genangan air mata yang mungkin ia coba untuk membendung rasa kesedihan dan kekecewaan. Bagai teriris sembilu merasakan dan memikirkan perasaan putraku yang menanti telepon dari kami tak kunjung datang.

Air mata mengalir deras tidak terbendung, suara rintihan dari isak tangis menahan kesedihan dan penyesalan membangunkan suamiku yang juga tertidur saat menanti dering telpon bersamaku.

Ia pun memenangkan hanya dengan berkata, ”Sudah…,  sampaikan saja pesan ke gurunya, bahwa kita akan menelepon besok pagi setelah shalat Subuh bila di beri izin. Dan sampaikan permohonan maaf kita”.

Sederhana buat sang ayah. Tapi cukup membantu meredakan tangisku yang kian mengguncang dada.

Dan akhirnya aku pun menuliskan pesan seperti yang dikatakan suamiku untuk guru anakku dengan melampirkan sebuah pesan khusus untuk putraku agar ia tahu apa yang terjadi dan yang aku rasakan.

“Bila kami alpa, lupa atau lalai mohon maafkan. Umi dan abi sayang Luqman. Bila esok pagi tak ada sempat bagi kami tuk menghubungimu bukan berarti kami tak merindu. Semoga Allah memberkahimu di manapun engkau berada wahai putraku. Peluk sayang umi untukmu. Doa umi abi untuk keselamatan dan kebahagiaanmu. Semoga Allah meridhoimu.”

(Visited 15 times, 15 visits today)
Diah Hutami

Diah Hutami

Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia tahun 1999. Membaca dan menulis puisi merupakan hiburan tersendiri. Mengamati dan menganalisa serta mengaitkan satu dengan yang lainnya adalah keasyikan dalam sebuah perenungannya. Tahun 2001 menikah dan kini telah dikaruniai 4 orang anak. Tahun 2015 diamanahi menjadi Litbang Sekolah Alam Indonesia.

More Posts

Diah Hutami

Diah Hutami

Bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia tahun 1999. Membaca dan menulis puisi merupakan hiburan tersendiri. Mengamati dan menganalisa serta mengaitkan satu dengan yang lainnya adalah keasyikan dalam sebuah perenungannya. Tahun 2001 menikah dan kini telah dikaruniai 4 orang anak. Tahun 2015 diamanahi menjadi Litbang Sekolah Alam Indonesia.

Leave a Reply