Perjalanan Si Bunga Tulip

INDAH. Satu kata yang kali pertama terucap jikalau bunga tersebut tertangkap dalam pandang. Bunga ini kerap dijadikan sebuah simbol kesetiaan, cinta, dan keindahan hidup. Manfaat tulip pun sangat banyak, diantaranya sebagai obat herbal untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, yaitu anemia, kanker darah, hipertensi, memar, dan lain sebagainya. MasyaAllah, di setiap ciptaan-Nya selalu berlimpah kemanfaatannya.

Siapakah Bunga Tulip yang dimaksud? Ya, dia adalah seorang gadis berusia lima belas tahun keturunan dari tanah pasundan yang kini menetap di Jakarta bersama orang tuanya. Jika menilik perjalanannya selama sebelas tahun di Sekolah Alam Indonesia sungguhlah hati membiru. Sebelas tahun bukanlah waktu yang singkat dalam perjalanan meniti sebuah ilmu. Gadis yang dulu pemalu, kini tumbuh menjadi gadis dewasa. Sholiha, penyayang, dan menguasai beberapa keterampilan

Seperti halnya bunga tulip yang indah dan menyimpan segudang kasih sayang tulus. Bunga tulip-kusebut dia-salah satu gadis siswi ISTC Sekolah Alam Indonesia Cipedak angkatan pertama.

 “Rania…ayo kita mau buka kelas,” Bu Putri menghampirinya dan baru beberapa langkah si gadis beranjak menjauh dari sumber suara yang semakin mendekatinya. Aktifitas inilah yang setiap pagi hadir tanpa absen. Berlari, mengejar, mengelilingi sebuah masjid sampai akhirnya Rania mau masuk ke dalam kelas.

Rania si pemalu, untuk berbicara dengan orang lain sangatlah membutuhkan waktu yang tidak sebentar. O, ya, tentu saja itu dahulu. Kini Rania adalah gadis hebat dan berani berbicara dengan orang lain. Para fasilitator tak pernah putus asa untuk memberikan arahan dan motivasi padanya.

Mendengar kisahnya di masa tersebut sungguh membuatku terharu dan tiada henti mengucapkan apresiasi pada fasilitator dan orang tua yang setia mendampinginya dengan penuh cinta dan kesabaran. Harmonisasi yang indah. Bagaimana tidak, butuh waktu dan perjuangan panjang mengajaknya belajar dan melewati setiap proses, baik secara individual program maupun klasikal.

Teringat kala itu. Bersama rintik hujan pagi yang menemani kami dalam kegiatan rutin morning talk.

“Assalamu’alaikum, teman-teman…”

“Wa’alaikumussalam, Bu guru,” jawab anak-anak dengan wajah cerianya. Ah, wajah-wajah yang selalu membuatku merindu.

“Hari ini, kita akan belajar menyampaikan sebuah impian atau cita-cita, oke, sekarang siapa yang ingin menyampaikannya?”

“Aku, Bu guru,” Rania berucap dengan mengacungkan tangannya dan setelah aku mengijjinkan, ia pun bercerita.

“Bu guru, suatu hari nanti, aku ingin menjadi desainer,” ucapnya dengan bangga. Tak kalah bangga dengannya, hingga aku tak mampu berkata. Dan aku percaya bahwa Malaikat telah mengamini keinginannya. Rania memang gadis yang telaten dalam urusan jahit menjahit. Untuk itulah beberapa karya telah dihasilkannya, diantaranya jilbab, rok, rompi, dan tak kalah menarik adalah membuat bunga tulip dalam jumlah besar.

“Ibu, aku ada kejutan, tapi tidak sekarang!”

“Ah, kamu, Ran, kasih tahu doong kejutannya,”

“E..kasih tahu nggak ya…?

“Mulai deh isengnya,”

“Nggak ah, ini rahasia, tunggu waktunya ya, Bu,”

Itulah sekilas percakapan yang tak terlewati di kelas. Hingga suatu hari, aku dan teman-teman fasiltator ISTC mendapatkan sebuah undangan di kediamannya. Suatu hal yang tak pernah terpikirkan olehku, ia benar-benar memberi kejutan bersama beduk maghrib berkumandang. Sebuah bunga tulip yang terangkai indah. Tiga bulan membuat puluhan bahkan ratusan bunga tulip untuk diberikan kepada kami, keluarga besar ISTC. Bening mataku tak henti mengalir tatkala aku dipanggil olehnya.

“Bu, terima kasih,” hanya kata itu yang dibisikkannya, pelukan dengan linangan air mata. Entah apa yang dirasa saat itu. Yang jelas rasa sedih karena perpisahan,. Namun, haru dan bangga tentu lebih besar membersamainya.

Rania adalah si bunga tulip dari ISTC Sekolah Alam Indonesia. Doaku, doa kami seluruh fasilitator terpanjatkan kepada-Nya, agar keberkahan ilmu selalu mengiringi dalam setiap perjalananmu, bunga tulipku.

Bunga tulip yang cantik dan penuh manfaat. Itulah kamu, Rania, semoga kecantikan budimu akan selalu melekat dalam kehidupanmu dimanapun kamu berada dan bermanfaat untuk orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

(Visited 48 times, 1 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

One thought on “Perjalanan Si Bunga Tulip

  • May 30, 2018 at 18:58
    Permalink

    Keren bu ari. Tulisan enak dibaca. Tetap terus semangat berkarya….

    Reply

Leave a Reply