Penting Mana, Proses atau Hasil?

Sore hari langit sedikit mendung, menemani perjalananku pulang kerja. Aku pulang bersama anakku yang dibonceng dengan motor tua. Di tengah perjalanan, aku melihat gerobak penjual makanan kue dongkal yang sudah jarang ditemui di Jakarta. Aku pun segera memutuskan untuk berhenti dan membelinya.
Rupanya abang penjualnya masih rapi-rapi dan belum ada kue dongkal yang siap dijual.

“Belum dimasak Pak! Ini baru diracik,” ujar abang penjualnya.

“Wah, nunggu berapa lama Bang?” tanya aku.

“Kira-kira 15 menitlah.”

“Gimana Nak, mau nunggu 15 menit? Gak apa apa ya?” tanya aku pada anakku.

“Terserah Ayah, aku sih oke aja nunggu,” jawab anakku.

Kami pun menunggu di dekat gerobak sambil terus memperhatikan apa saja yang dikerjakan abang penjual kue dongkal. Suatu kebetulan kita bisa melihat langsung bagaimana proses membuat kue dongkal itu.

Pertama-tama, abangnya mempersiapkan adonan dari tepung beras yang sepertinya sudah di sangrai, lalu sedikit demi sedikit dituangkan santan sambil terus diaduk. Lalu disiapkan dandang yang sudah diisi air dan dipanaskan terlebih dahulu. Saatnya memasukkan adonan kue dongkal ke dalam kukusan yang berbentuk kerucut, bagian ujungnya diberi daun pandan terlebih dahulu. Adonan dimasukan seperti berlapis-lapis, lapisan pertama tipis saja lalu ditaburi bubuk gula merah, lalu tepung beras lagi lebih tebal dari yang tadi dan ditaburi bubuk gula merah lagi. Demikian seterusnya sampai kukusannya terisi penuh.

Air di dalam dandang sepertinya sudah mendidih, aku penasaran ingin melihat isinya. Ternyata air di dalam dandang sudah diberi daun pandan, sehingga tercium sekali aromanya. Kue Dongkal pun sedang dikukus, kuperhatikan jam tangan dan memberitahukan kepada anakku coba hitung berapa menit kue dongkal dikukus hingga matang. Aku pikir yang dikatakan abang penjual kue sekitar 15 menit itu dari mulai menyiapkan adonan, ternyata 15 menit itu untuk mengukusnya saja.

Akhirnya kue dongkal matang juga setelah melalui proses yang cukup panjang dengan menunggu lebih dari 15 menit, hasilnya nanti akan kita cari tahu di rumah, kita makan bersama keluarga.

Perjalanan pulang pun kami lanjutkan dengan membawa kue dongkal yang masih hangat. Berharap ingin segera tiba di rumah, tetapi kami kena musibah ban motor bocor harus mencari tukang tambal ban dulu. Akhirnya kami tiba di rumah ketika adzan maghrib berkumandang.

Aku pun segera bergegas masuk ke dalam rumah untuk bersih-bersih dan bersiap sholat maghrib, sambil melihat anakku menyodorkan kue dongkal kepada ibunya. Aku pun penasaran ingin melihat komentar ibunya saat mencoba kue dongkal itu.

“Bawa apaan tuh Nak?” tanya ibunya penasaran.

“Ini kue dongkal, tadi kita beli tapi harus nunggu dulu, makanya kita pulangnya telat.”

“Oh, ibu coba ya kue nya,” kata ibunya seraya membuka kotak kuenya.

“Kok potongannya kecil-kecil sih, ini kok gak berasa garam sama sekali, ini sih enakan yang ibu beli waktu pekan lalu.” Komentar ibunya sambil mencicipi kue dongkal.

Jleb! Mendengar komentar itu, menambah lemas seluruh badan ini. Anakku sedikit kecewa dengan komentar itu tapi dia sendiri pun tidak terlalu menyukai kue dongkal. Jadi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan dan proses yang sudah kami lalui, penting mana proses atau hasil?

Hasil dari proses itu masih kurang bagus, aku sedikit kecewa. Tetapi ya sudah, proses yang sudah kami lalui itu juga penting dan menambah wawasan bahwa membuat kue tidak semudah membuat orang bahagia (Menambah pengetahuan juga deh). Begitulah aku kembalikan lagi kepada para pembaca, penting mana? Proses atau hasil?

(Visited 4 times, 4 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.