Penawar Ajaib

Warna langit pagi ini sama seperti kemarin, cerah dan hangat. Setiap cahaya mentari mulai menghangatkan bumi anak-anak tiba di sekolah. Berjalan menyusuri lorong kecil dan berseragam sepatu boots menuju kelas. Bergerak melewati tempat yang sama, pada waktu bersamaan. Akan tetapi ekspresinya tak pernah membosankan. Sapa berhiaskan lukisan lesung pipit dan jabat tangan bersatu, daun berbentuk hati milik setiap insan yang dijumpainya akan tumbuh subur, Ibarat sang bayu selalu mengaliri dahaga. Mengikat dan terikat, dari mata jatuh ke hati karena parasnya itu sama segarnya seperti kuncup-kuncup pepohonan yang ada di sekitar sekolah, sejuk mewangi.

“Wah, itu ada Miss Qia! Miss Qi…” dari balik saung terlihat seorang gadis berpakaian ala gadis Jepang, hanya saja gadis ini kepalanya terbalut hijab berwarna merah jambu. Ia bergegas menuruni anak tangga dan mencium punggung tangan ibu gurunya yang baru tiba.

Seruan itu pun semakin gemuruh ketika beberapa pasang mata yang sedang bermain di atas rerumputan mulai berteriak memanggilnya. Miss Qia… Miss Qia… suaranya semakin berirama cepat menyatu dalam dekap.

“Sembunyi! Sembunyi! Cepat!” Kenzo dan Radit berlagak seperti pahlawan yang sedang mengintai musuhnya. Ah gayanya itu sungguh membuat orang yang melihatnya mengembangkan tawa. Pun dengan Miss Qia, gelak tawa  tatkala melihat tingkah dua bocah lelaki yang bersembunyi di balik semak pohon daun pandan di plataran kelas.

“Dor…dor…dor…” aha, si pahlawan yang bersembunyi di balik semak itu akhirnya muncul, berlari kejar-kejaran mengelilingi rerumputan yang masih terlihat segar, sepertinya Mang Ikin baru memandikan si hijau daun itu.

“No…no…” tetiba dari pojok play ground seorang bocah laki-laki yang memiliki rambut ikal berteriak histeris, berdengung menggetarkan indera pendengaran.

“Za, kenapa?” Miss Qi menghampiri Za yang masih menangis.

“No… sakit…”

“Iya, mana yang sakit?”

“Rumah sakit! Sabar! Sabar!” teriak Za yang semakin meronta.

“Iya, sabar…” Miss Qi terus memeluknya, mencoba memahami apa yang dirasakan Za dan mencari benang merah yang membuat pilu hatinya.

“Hiks… maaf-maaf,” bulir bening semakin tumpah di pangkuan Ibu gurunya, sesekali ia mereda. Tetapi tak lama mengeraskan lagi tangisannya. Seakan kesedihannya itu enggan pergi, bersama deraian yang terus menyusuri retinanya.

“Maaf…” kata maaf keluar lagi dari mulut Za. Tapi, kali ini dengan sesenggukan, setidaknya kata maaf yang terlulang-ulang sedikit menenangkan hatinya.

Tiga puluh lima menit berlalu. Teman-temannya pun sudah mulai masuk kelas, berdoa bersama memulai rangkaian kegiatan belajar. Sedangkan Za dan Miss Qia berada di lain tempat, yaitu di ruang UKS. Sedari tadi Za menginginkan ke rumah sakit dan mengajaknya ke ruang UKS dapat menggantikan hal tersebut.

“Teng… teng… teng…” detak jarum jam berputar tanpa henti. Za sudah mulai tenang. Benang yang tadi kusut kini mulai terurai lurus. O-o, ternyata keisengan yang dilakukan oleh kedua temannya tadi melukainya. Tak ada luka yang menggores tubuhnya, tapi kata maaf dan sabar dari teman-temannya itu adalah obat hatinya yang lara, serta pelukan hangat sang guru menjadi penawar murungnya.

(Visited 9 times, 9 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply