Pemuda Sontoloyo?

Di keremangan petang menjelang Maghrib,sulungku bercerita,”Ummi,tadi kami dikira sudah jadi siswa SMA lho.”
“Oh,ya? Ada apa sebabnya?” Aku terpengarah mendengar pembuka ceritanya sore itu.
“Masa’ sih Ummi, kami tadi nekat banget datang ke kampus UI cari literatur tanpa punya kartu perpustakaanya. Dan kami di sana gak tahu apa-apa, hanya bermodal judul skripsi yang harus dicari.”
Demi mendengar ceritanya, aku terharu. Antara tega melepasnya dan perasaan ingin melatih kemandirian serta keberaniannya. Mereka -anakku dan dua temannya- sedang menembus batas masa kanak-kanaknya menuju kedewasaan. Di titik yang sama ketika remaja lain disibukkan dengan berbagai judul film dan game online, para pemuda ini mendapatkan tantangan yang berbeda. Di semester ini, mereka -siswa Sekolah Lanjutan kelas 8- mendapatkan tugas mengadakan penelitian dalam bentuk ‘problem solving’. Sudah barang tentu, peran orang tua direduksi, sehingga para siswa mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya.
Pengembangan kemampuan berkolaborasi dalam satu tim juga menjadi bagian yang ditampilkan. Sehingga proses pembelajaran menjadi seorang pemimpin tak sekedar wacana dari referensi yang mereka baca.
Dalam kesempatan kali ini, si sulung dan kedua temannya mengambil tema penelitian,’Menetralisir Formalin dengan Lidah Merrtua’.
Bagi kami orang tuanya, hasil akhir bukanlah sebuah penentu keberhasilan dari kegiatan ini. Tetapi yang terpenting adalah proses yang dilaluinya bersama teman-teman sekelompoknya.
Jika harus mencari hikmahnya, maka ini tentang bagaimana mereka menghadapi kesulitan-kesulitan,mengatasinya bersama-sama. Mengenal lingkungan baru yang sebelumnya asing bagi mereka.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika suatu saat siswa kelas 8 sudah harus berjibaku dengan bahan-bahan kimia di laboratorium UI.
Juga tak pernah terpikirkan bagaimana nantinya mereka harus mempresentasikan hasil penelitiannya di depan kami orang tua, guru serta teman-temannya.
Ah, rasanya tak ada kata yang terucap selain syukur alhamdulillah atas kesempatan yang Allah berikan.
In syaa Allah pemuda-pemuda ini bukanlah pemuda sontoloyo. Sebab di umurnya yang cukup muda, ada perannya memberi manfaat bagi sekitar.

(Visited 18 times, 19 visits today)
Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply