Peluang Itu Datang (Keikhlasan Hati Bagian Ke-4)

Tak lama Nita pun keluar dan siap pergi bersama ayahnya yang juga berjalan menemani Dayat menyusuri jalanan gang yang sempit. Hingga mereka pun tiba di pinggir jalan raya, tak jauh dari sana ada mobil mercy hitam parkir di pinggir jalan dengan seorang laki-laki yang agak kurus namun sigap begitu melihat kami langsung turun dari mobil itu. Rupanya itu sopir pribadinya Pak Dayat yang dari tadi setia menunggu majikannya.

Dayat pun menawarkan Didi dan anaknya untuk naik mobilnya dan diantarkan sampai ke tujuannya. Didi menerima tawarannya, sepanjang perjalanan mereka masih bisa berbincang dan bernostalgia. Nita hanya mendengarkan perbincangan ayah dan temannya dengan sesekali tersenyum.

Hari yang melelahkan, tetapi menjadi moment yang penuh kebersamaam Nita dengan ayahnya. Langit pun semakin memerah mengantarkan matahari untuk tenggelam di ufuk barat, Nita dan ayahnya sudah tiba di rumah dengan membawa belanjaannya.

Setelah Sholat Maghrib, Didi selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dengan keluarganya, bisa dengan mengaji bersama atau cuma berbincang-bincang santai saja.

“Gimana tas nya, Nit?” tanya ibu

“Alhamdulillah dapat Bu!”

“Aku dibeliin tas juga dong Yah!” Diki iri dengan kakaknya yang baru dibelikan tas baru.

“Iya, kamu bulan depan aja ya, kan tas mu masih bisa dipakai”, Didi segera menenangkan anak bungsunya.

“Kita harus banyak bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang ini nak, tidak sedikit di luar sana keluarga besar tapi susah sekali untuk kumpul bersama walaupun hanya untuk makan malam bersama di rumah. “

“Tapi, Yah! Teman ayah itu orang kaya ya, mobilnya bagus, ac nya adem bener, pokoknya nyaman deh”, Nita kembali buat Diki iri.

“Iih Kakak enak banget diajak jalan-jalan pake mobil mewah”, Diki kembali menggerutu.

“Bukan jalan-jalan, kita tadi cuma nebeng kok, kebetulan arahnya sejalan dengan Pak Dayat. Tadi pulangnya kita naik kopaja kok. Udah ah gak usah ngiri-ngirian gitu, kan tadi ayah udah bilang kita harus banyak bersyukur”, Didi kembali menenangkan.

“Iya, tapi bagaimana pun aku gak mau seandainya jadi anak Pak Dayat”, Ujar Nita.
“Kenapa Nit? Kok ngomongnya gitu?”, tanya Ibu.

“Iya sih kaya, tapi gak asyik gak ada waktu buat nemenin anaknya sendiri. Masa anaknya lagi ada kegiatan di sekolahnya gak mau hadir, lagi libur lagi. Terus ibunya malah sibuk jalan-jalan”, Nita sedikit sewot.

“Wah kamu nguping ya”, sela Didi.

“Gimana gak denger, orang ayah sama Pak Dayat ngobrolnya keras banget di dalam mobil”
“Ayah juga pernah gak menghadiri acara pentas seni di sekolahanmu”.

“Iya tapi kan itu jarang-jarang, lagian ayah memang gak bisa datang karena ada acara rapat yang gak bisa ditinggal”, Nita tetap pada pendapatnya.

Mendengar perkataannya Nita, Didi malah merasa lega dan bahagia mempunyai anak yang mengerti kerjaan ayahnya, tapi apa benar bahagia sesederhana itu?

“Kalau aku sih gak masalah ayah gak datang, yang penting fasilitasku terjamin. Mau apa aja langsung disediakan”, Diki ikut nimbrung berpendapat.

“Huuh, kamu Dik, mikirnya matre banget sih”, timpal Nita.

“Udah ah gak usah ngomongin orang lain. Gak Baik”.

“Oh iya, Diki udah harus bayar untuk study tour ya, kapan terakhir harus bayar, Dik?”
“Besok Yah”, Ibu bantu jawab.

“Hmm…kata kepala sekolah, Diki boleh bayarnya nyicil kok Yah”, Diki jadi teringat kembali perkataan kepala sekolahnya saat Diki mau pulang.

“Gak apa apa Diki, bayarkan saja biaya study tournya sekaligus, besok ayah siapkan. Ayah gak mau kamu dibeda-bedakan dengan teman-temanmu hanya karena ayahnya guru juga”.

“Alhamdulillah rejekinya masih ada. Do’akan saja ya Diki, Nita, biar ayah ini banyak rejekinya”.
“Aamiin…!’ Nita dan Diki serentak.

Masih bersambung….

(Visited 11 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.