Pejuang Tabah

Pejuang Tabah

Part I

Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan kota terlalu berat untuk mereka. Bocah-bocah yang setiap saat harus berjuang melawan kehidupan tanpa ada orangtua yang menjaganya. Di sinilah tempat setiap hari anak-anak jalanan mengais rizki, di tepi dan tengah jalan. Berjalan, berlari  berharap bisa mengumpulkan setiap sen dari pengguna kendaraan.

Dan di tepi jalan ini,setiap sepulang kerja aku selalu bercengkrama dengan beberapa pejuang tabah ini. Ya, ku sebut mereka pejuang tabah. Bagaimana tidak! kehidupannya begitu keras, berjuang mencari uang diusia belia agar perut tidak kelaparan dan tidak mendapat siksaan.

“Kak Raya…” kudengar suara bocah lelaki usia 7 tahun itu memanggilku.

“Hay Ahmad, kamu apa kabar?” salam peluk selalu kami lakukan setiap senja mengizinkan kami bertemu..

“Saya baik kak, tapi…” Ahmad tak melanjutkan ucapannya, dia hanya memelukku dengan tersisak-isak.

Aku biarkan bocah ini menangis di pelukan, meski berjuta pertanyaan berkeliaran di ujung otak. Tiba-tiba aku teringat dengan sosok belia yang selalu bersamanya.

“Ahmad, di mana Nada? Kenapa Nada? Pertanyaanku membuat Ahmad semakin pilu.

“Kemarin Nada tertabrak motor dan sekarang kakinya tidak bisa bergerak,” jelas Ahmad dengan parau.

“Ya Allah…antarkan kakak sekarang, Mad! Ajakku padanya.

“Tapi, kak, Ahmad takut.” Ahmad menggelengkan kepala.

“Jangan takut, Mad, jika Si Bawor marah, Kak Raya yang akan menghadapnya.

Bawor? Siapa dia? Ya, dia adalah sosok lelaki sadis yang selalu mengambil kesempatan keluguan anak-anak. Ahmad tidak pernah mau memberi tahu tempat tinggalnya, mereka dilarang memberi tahu kepada siapapun. Dan karena aku memaksanya, malam ini Ahmad mengantarku ke tempatnya dengan rasa takut.

“Astaghfirullah…”

“Nada…” spontan kuangkat gadis yang berbaring kesakitan di hadapannya.

“Mau dibawa kemana, Nada, Kak Raya?” Ahmad terlihat gusar ketika melihatku mengangkat tubuh adiknya.

“Ahmad, sekarang ikut kakak, kita bawa Nada ke rumah sakit! Aku tak peduli dengan ketakutan yang Ahmad rasakan.

Butiran-butiran kepedihan mengalir dari pipiku. Sungguh pilu melihat sosok gadis periang ini ada dalam gendonganku kesakitan.

“Ahmad, kamu peluk Nada dengan erat, ya,” aku terus melaju kendaraan dengan memohon perlindungan-Nya.

Adzan maghrib berkumandang dari menara lancip di segala penjuru Ibu Kota. Sesaat kuparkirkan kendaraan roda dua yang setia menemaniku kemanapun pergi. Termasuk hari ini, di rumah sakit ini. sambil menunggu Nada yang sedang dalam penanganan dokter, aku dan Ahmad menuju sebuah mushola yang ada di rumah sakit.

Ya Allah…hatiku terusik kembali, ingin kupertanyakan terus-menerus, lagi dan lagi. Sesaat setelah mendengar kabar senja ini. Bagaimana mungkin ada manusia yang tega dan tidak bertanggungjawab setelah menabrak? Tuhan, apa yang harus aku lakukan setelah ini? beri aku petunjuk…

Ahmad dan Nada adalah  dua dari delapan bocah yang hidup terkungkung dalam keganasan seorang lelaki bernama Bawor di Ibu kota Jakarta ini.

Air mineral yang menghantar perkenalanku dengan mereka. Senja, ya lagi dan lagi, senja selalu melukiskan cerita dalam hidupku. Ketika itu aku ingin membeli air mineral untuk membatalkan puasa. Dari situlah aku semakin dekat, aku penasaran dengan kehidupannya tanpa ayah tanpa ibu. Karena setahun yang lalu ibunya meninggal dunia, sedangkan ayahnya, entahlah dimana rimbanya.

Sepulang kerja aku selalu menyempatkan singgah untuk menyapa mereka dan melihatnya makan nasi sebungkus berdua yang aku bawa. Ya, mereka tidak mau makan sendiri, mereka selalu makan nasi sebungkus berdua. Katanya, nasi yang sebungkus untuk teman-temannya. Bagiku ia adalah guru, guru yang mengajarkan cara berjuang hidup dengan tabah. Meski hidup susah, mereka selalu ringan tangan untuk orang lain yang membutuhkan.

(Visited 38 times, 2 visits today)

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.