Pasukan dari Langit

Maka Kami kirimkan kepada mereka tofan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

Membaca berita dari Tribunjabar.id-Bogor, rasanya berdebar-debar. Berita tentang angin puting beliung yang menyasar kawasan Bogor Selatan dan Bogor Timur kemarin, Kamis 6 Desember 2018. Masalahnya mengakibatkan kerusakan yang tidak kecil. Puluhan pohon tumbang dan merusak ratusan rumah sekitarnya. Sapuan angin bahkan mengakibatkan korban jiwa.

“Di Kecamatan Bogor Selatan dan Kecamatan Bogor Timur angin puting beliung mengakibatkan satu orang meninggal dunia, 20 pohon tumbang, lima kendaraan rusak tertimpa pohon, 848 rumah warga rusak berat dan ringan,” kata Kompol Fajar Hari Kuncoro, Kabag Ops Polresta Bogor Kota. http://jabar.tribunnews.com/2018/12/07/angin-puting-beliung-di-bogor-akibatkan-kerusakan-dahsyat-ini-daftar-kerusakannya

Saya selalu khawatir ketika kecepatan angin mulai menguat. Masalahnya tidak bisa diprediksi akan mampir ke mana. Beberapa tahun belakangan terjangan angin di wilayah saya bermukim, Depok, menjadi bulan-bulanan. Walau hanya bersifat lokal saja. Beberapa atap rumah yang terbuat dari asbes pernah terbawa dahsyatnya angin. Belum lagi menumbangkan pohon-pohn yang batangnya menjuntai ke langit. Sudah pasti si empunya pusing bukan kepalang manakala angin besar menerjang. Khawatir roboh menimpa rumahnya atau yang lebih menakutkan jika tumbang merusak rumah tetangganya.

Saya mencari tahu tentang puting beliung yang membuat semua mata dan pendengaran orang-orang di wilayah saya jadi waspada. Padahal mungkin sang angin sedang rindu saja. Menyapa masyarakat yang tidak menyiapkan kehadirannya. Menurut informasi dari https://id.wikipedia.org/wiki/Puting_beliung, puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum lima menit. Angin puting beliung sering terjadi pada siang atau sore hari di musim pancaroba. Angin ini dapat menghancurkan apa saja yang diterjangnya, karena dengan pusarannya benda yang terlewati terangkat dan terlempar.

Orang awam menyebut angin puting beliung sebagai angin leysus. Dinamankan angin bohorok di Deli, angin kumbang di Cirebon, angin gending di Pasuruan, angin barubu di Makasar, angin wambrau di Biak, dan angin puyuh di Sangir Talaud. Ada juga angin jenis lain dengan ukuran lebih besar yang ada di Amerika, yaitu tornado yang mempunyai kecepatan sampai 320 km/jam dan berdiameter 500 meter.

Saya tertarik dengan proses terjadinya angin puting beliung yang menerjang wilayah saya. Menurut website ilmu geografi, terjadinya puting beliung ada kaitannya dengan fase tumbuh awan cumulonimbus. Awalnya, ada arus udara yang naik ke atas dengan tekanan sangat kuat. Hujan belum turun karena titik air serta kristal es masih tertahan oleh arus udara yang bergerak naik menuju puncak awan. Kemudian sampai pada titik jenuh, titik air sudah tidak bisa lagi ditahan oleh udara yang naik menuju puncak awan. Menyebabkan adanya gaya gesek antara arus udara yang naik dan turun. Saat arus udara naik dan turun, menimbulkan arus geser yang memutar lalu membentuk pusaran. Lama kelamaan arus udara semakin cepat dan membentuk sebuah siklon di bumi. Saat itulah angin puting beliung muncul.

Sementara, saya meyakininya sebagai pasukan dari langit, yang siap menghalau kemungkaran atau sekadar memberi peringatan dari Tuhannya.

Nah jika sampai pada titik terbentuknya angin puting beliung, saya menyarankan kita harus banyak berzikir. Mengingat Allah, Sang Pencipta Alam. Mengingat keagungan-Nya, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Tidak bisa menyombongkan dirinya di hadapan Tuhan. Pada saat itu kita hanya bisa bergantung kepada-Nya. Seperti dalam Alquran, Surat Al-A’raf ayat 133, Allah berfirman, “Maka Kami kirimkan kepada mereka tofan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”

Semoga kehadiran angin puting beliung mengingatkan kita kembali untuk tidak membusungkan dada terlalu tinggi karena kesombongan kita, tapi merendahlah pada kuasa-Nya.

 

Kang Yudha

Sumber gambar: http://jabar.tribunnews.com/2018/12/07/angin-puting-beliung-di-bogor-akibatkan-kerusakan-dahsyat-ini-daftar-kerusakannya

(Visited 40 times, 40 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.