One Talk, All Listen

“Duduk rapi..!” terdengar suara perintah dari arah depan.

Okay friends, let’s pray to Allah..! A’udzubillahiminassyaithanirrajim, bismillahirrahmanirrahim…, dilanjutkan dengan pembacaan doa di pagi hari.

Begitulah suasana setiap pagi di sekolahku, khususnya di kelas IV SD Sekolah Alam Indonesia. Setiap pagi dilakukan sebelum memulai pelajaran. Dipimpin oleh kapten (ketua kelas) yang dipilih setiap pekannya, baik siswa putra maupun putri. Pemilihannya cukup unik, dua orang kapten yang putra dipilih oleh semua anak perempuan, begitu pun sebaliknya bagi kapten yang putri dipilih oleh semua anak laki-laki. Semua berhak memilih dan dipilih, sesuai kesepakatan bersama.

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh, hari ini Bapak akan menyampaikan beberapa hal,” usai doa kulanjutkan dengan nasihat pagi, biasanya berupa cerita yang berisi hikmah dan motivasi di dalamnya, kadang disesuaikan pula dengan kondisi kelas pada hari itu.

“Eh, semalam kamu nonton Liga Champion? salah seorang anak nampak mengobrol di antara teman-temannya yang sedang mendengarkan ceritaku.

Akhirnya kuhentikan cerita, kualihkan wajahku dan mencoba fokus mendengarkan anak yang sedang berbicara tadi. Teman-temannya yang tadi mendengarkanku ikut menyimaknya juga. Merasa diperhatikan, kemudian ia menghentikan pembicaraannya sambil tertunduk malu.

“Kenapa berhenti? saya dan teman-teman kamu mau mendengar cerita itu juga, ayo dilanjutkan..!” aku menggodanya agar ia melanjutkan ceritanya.

“Tidak Pak, udah selesai.” jawabnya dengan wajah masih menunduk ditambah rona kemerahan di pipinya.

“Beneran nih, sudah selesai? silahkan kesini cerita lagi gantiin Bapak bicara di depan.”

“Udah, Bapak aja yang cerita.”

“Teman-teman semua,” aku terbiasa memanggil semua siswa dengan sebutan teman daripada anak-anak saat berbicara di depan. “Ada saatnya kita yang berbicara, ada waktunya juga kita yang mendengarkan cerita dari orang lain. Mau apa tidak jika kita sedang berbicara, tapi orang yang jadi lawan bicara kita ikutan berbicara juga?

“Tidak..,” hampir semua menjawab dengan serentak.

“Apakah pesan yang kita sampaikan bisa terdengar oleh orang itu?”

“Tidak..”

“Jika kali ini ada orang yang berbicara bersama kita, bagaimana sebaiknya sikap kita?”

“Diam dan mendengarkan.”

Terkadang apa yang kita sampaikan belum dapat diterima dengan baik oleh siswa. Adakalanya mengulang kembali apa yang disampaikan agar semakin tertanam sikap yang baik dan menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan. Akal dan pikiran setiap anak pasti berbeda dalam penerimaan pesan. Tetapi, dengan ketulusan sikap dan perhatian yang kita berikan, insya Allah akan memberikan pengaruh positif kepada anak-anak.

(Visited 52 times, 1 visits today)

Dwi N. Priharto

Masih berusaha membenahi jiwa dan raga, membangun manfaat pribadi kepada semesta. Pernah kuliah di Lombok, NTB dalam jangka waktu maksimal (7,5 tahun) karena sambil bermain bersama anak-anak, remaja, dan orang dewasa sebagai fasilitator lembaga outdoor/pengembangan diri yang didirikan bersama teman-temannya. Saat ini mengajar di salah satu sekolah yang kegiatannya tak jauh berbeda dengan 'sambilan' waktu kuliah, yaitu di Sekolah Alam Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.