Nasionalisme Luhur

Membicarakan tentang nasionalisme adalah juga berbicara tentang persatuan keragaman. Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan adat istiadat merupakan negara majemuk yang tersebar dari barat sampai ke timur dan dari utara hingga selatan dengan semua keistimewaannya.

Jika merujuk pada buku Ikhwanul Muslimin tentang konsep nasionalisme, maka menjadi penting memahami nasionalisme positif seperti yang dipaparkan Dr Ali Abdul Halim Mahmud.

Nasionalisme luhur hendaknya mengutamakan keluarga, masyarakat dan bangsanya sendiri. Sehingga semuanya dituntut mencurahkan segenap daya dan upaya. Setiap kelompok diminta merealisasikan target yang telah digariskan dan pada akhirnya bertemu di terminal kemenangan. Sementara nasionalisme jahiliyah adalah nasionalisme yang sekedar berupaya membangkitkan berbagai tradisi jahiliyah lama, menghidupkan kenangan masa lalu, membuang peradaban berharga, mengagungkan ras sendiri-meremehkan ras lain, dan menghidupkan kembali nilai kesesatan sehingga mengantarkan pada kerugian yang besar.

Uraian tersebut jelas membedakan nasionalisme mana yang positif dan mana yang negatif.

Indonesia sebagai negara besar perlu membangun nasionalisme yang merujuk pada nilai dasarnya. Agama. Beragam agama di tanah air yang menyeru pada kebaikan.

Maka menurut saya agamalah yang membawa kepada nasionalisme positif yang membangun persatuan. Seperti yang disampaikan dalam HR Muslim bahwa, “Agama itu adalah nasihat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa wahai Rosulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslim, serta orang-orang pada umumnya.

Sehingga segala kemungkaran disikapi dengan perlawanan yang terpuji. “Jihad yang paling afdol adalah mengungkapkan kebenaran kepada penguasa yang zalim.” HR Abu Daud.

Pada akhirnya keimanan seseorang yang mempengaruhi tegaknya kebenaran. “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” HR. Muslim

Kang Yudha

(Visited 47 times, 2 visits today)

Kang Yudha

Menjadi guru Sekolah Alam Indonesia sejak tahun 1999. Telah berbagi materi-materi pendidikan di berbagai tempat: Medan, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Sukabumi, Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, Lombok, Wamena - Papua, (Keningau - Beaufort - Sipitang - Kundasan - Sandakan) Sabah, dan Melbourne. Sejak tahun 2013, mengelola kelas parenting Sekolah Alam Indonesia. Menjadi penggagas komunitas guru menulis (2009). Menjadi penulis sebelas buku yaitu Sekolah yang Membebaskan - Antologi cerita komunitas (Kawan Pustaka-2003), Berjuta Bintang di Langit Sekolahku - Antologi cerita kelas (Audi Grafika-2004), Misteri Bulan, Belajar Sambil Bertualang (Wahyu Media-2006), Menyusuri Sungai, Belajar Sambil Bertuang (Wahyu Media-2006), Smart Games for Kids - (Wahyu Media-2007), Creative Games for Kids (Wahyu Media-2008), Harmony in Tenacity (SAI Publishing-2009), Character Building (ProU-2013), Belajar Menjadi Pemimpin (SAI Publishing-2015), Alam Terkembang Membawa Kisah (Media Guru-2016), Menggenggam Semangat Siswa Hebat (Kata Depan-2018). Saat ini juga juga aktif di lembaga Ikatan Guru Indonesia Wilayah Depok. Menjadi Editor Media Guru. Aktivitas lainnya, terlibat lembaga swadaya masyarakat MPPO (Masyarakat Peduli Petani Organik)

Leave a Reply

Your email address will not be published.