Mukena Baru Khadijah

Waktu mengalir laksana air. Sepertinya matahari akan segera menghilang di bawah garis cakrawala. Seorang gadis kecil berparas ayu terlihat asyik berbincang bersama seorang wanita bertubuh jangkung mengenakan jilbab berwarna ungu terong. Mereka duduk di bawah rindangnya pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh subur di halaman rumah. Gemericik air mengalir menambah sebuah keharmonisan alam dengan penghuni rumah tersebut. Canda tawa terdengar tulus mengisyaratkan sebuah cinta hakiki.

“Nda, masakannya banyak sekali? Kita mau bagi-bagi makanan di masjid lagi?” Meski belum begitu jelas lafadznya sosok perempuan yang di sisinya begitu memahami apa maksud pertanyaan putri tunggalnya.

“Sini sayang,” sang Bunda menjelaskan pertanyaan gadis cantik yang kini duduk di pangkuannya. Khadijah menganggukkan kepala dan tersenyum lebar.

“Berarti nanti malam kita tidak shalat tarawih di masjid lagi ya, Nda?” Ucapnya lesu.

“Iya sayang, malam nanti kita akan mengumandangkan takbir bersama,” jawab wanita berhidung mancung tersebut.

“Yaaa Khadijah sedih, Bunda…”

“Kenapa sedih, Nak?” Tanya sang Bunda penasaran.

“Rini, Khadijah tidak bisa bertemu Rini lagi.” Gadis kecil berusia lima tahun itu menangis terseguk-seguk dalam pelukannya.

“Khadijah masih bisa bertemu dengan Rini kok, bagaimana kalau nanti malam kita ke rumah Rini?”

“Benar, Nda?” Tanya Khadijah dengan rona tidak percaya.

Sungguh binar kebahagiaan yang tulus terpancar dari hati gadis kecil itu. Anggukkan sang Bunda mampu mengubah perasaan sedihnya menjadi kebahagiaan. Berbalik dengan raut wanita yang berhasil meyakinkan putrinya tersebut. Gelisah menyerangnya. Entahlah, rasa apa yang membuatnya galau.

Rini, teman seusianya yang baru dikenalnya ketika shalat tarawih di masjid Al Muhajirin yang jaraknnya seratus meter dari rumahnya. Pertemuan di masjid itu membuat kesan positif di hatinya. Sudah dua malam Rini tak terlihat, padahal si gadis kecil itu mengharapkan perjumpaan dengannya.

“Bibi, tahu kan gadis yang sering bermain dan shalat tarawih bareng Khadijah?”

O, eta mah, Neng Rini, aya naon, Bu?

“Bi Atem tahu rumahnya?”

“Kalau tidak salah teh rumahnya di belakang komplek ini, Bu,”

“Alhamdulillah, berarti Bibi tahu rumahnya?”

Henteu, Bibi teh hanya tahu kalau dia tinggal di kampung belakang. Tapi Bu, kalau Bibi boleh tahu, aya naon Ibu teh nanyain Neng Rini?” Ungkap si Bibi berselimut tanya.

“Bibi nanti juga akan tahu, tapi sebelumnya Ibu minta tolong untuk cariin alamatnya, sekarang!”

“Sekarang?” tanya si Bibi semakin tidak mengerti sikap majikannya.

“Engke heula atuh, Bibi anu geulis, sekarang teh sudah mau buka  puasa, ba’da maghrib saja.” Jawab majikannya tersebut dengan mengikuti logat sunda khadimatnya yang sudah tujuh tahun ikut bersamanya. Bi Atem pun berlalu dengan tersenyum geli mendengar sang majikan mengikuti gaya bicaranya.

Kumandang maghrib terdengar di seantero pelosok kota Jakarta, tepat pada pukul tujuh belas empat puluh delapan menit. Dan hampir semua umat muslim melakukan ritual sama. Inilah salah satu keistimewaan di bulan Ramadhan, yaitu menikmati santapan dikala adzan maghrib berkumandang.

“Nda, kapan kita ke rumah Rini?” Tiba-tiba suara Khadijah memecah keheningan ruang ibadah yang berada di lantai dua rumahnya.

“InsyaAllah nanti malam ya, Nak” jawab sang Bunda dengan lembut, tetiba si gadis kecil beranjak dari duduknya dan kembali membawa sebuah mukena baru hadiah dari sang Bunda.

“Nda, mukena ini untuk Rini ya, boleh kan?” Tanya Khadijah dan membuat sang Ibu terkejut. Terkejut karena tak menyangka putri kesayangannya berpikir sejauh itu, memberikan mukena baru yang sangat diinginkannya.

“Kalau Bunda terserah kamu, Nak, tapi kalau mukena baru dikasih ke Rini, cantiknya Bunda besok pakai mukena yang mana?”

“Khadijah pakai mukena yang lama saja, Nda.” Ucap tulusnya membuat bulir retina tak terbendung lagi. Ketulusan terpancar dari seorang bocah berusia lima tahun. Ia begitu menghargai betapa penting arti sebuah persahabatan. Rasa empati keluar dari sanubarinya, ketika ia melihat temannya menggunakan mukena yang sudah lusuh hatinya tergerak.

Rini adalah anak dari seorang pemulung yang setiap harinya berkeliling menjelajah dari tempat sampah yang satu ke tempat sampah lainnya. Khadijah mengajarkan bahwa jika kita ingin memberikan sesuatu kepada orang lain hendaknya memberikan barang yang layak. Mukena baru yang akan dipakai di hari raya ‘Iedulfitri akan diberikan kepada sahabatnya dengan ikhlas. MasyaAllah, ilmu itu tak selamanya datang dari orang yang usianya lebih tua, bahkan ilmu itu dapat kita gapai dari anak yang usianya jauh lebih muda dari kita.

Pukul tujuh malam Khadijah berjalan menyusuri jalanan setapak ditemani sang Bunda dan Bi Atem ke rumah Rini. Celotehannya mewarnai dalam perjalan itu, laksana gemintang yang bertaburan di angkasa raya menjadi petunjuk langkah Khadijah. Tujuh belas menit berlalu, akhirnya mereka tiba di rumah berbilik bambu tanpa jendela.

“Bi, kamu yakin ini rumahnya?” Tanya Bunda Khadijah tak percaya.

“Leres, ieu imahna Neng Rini, Bu,” jawab Bi Atem dan dilanjutkan mengucap salam. Seorang gadis yang dicari Khadijah bersama pemuda remaja menghampiri. Tak ayal Khadijah langsung lari memeluknya.

Rindunya terbalas dikala takbir kemenangan berkumandang. Kemenangan hati yang digoreskan oleh seorang gadis kecil bernama Khadijah Mutmainah. Ia ibarat bidadari surga yang selalu memancarkan cahaya kebaikan. Cintanya kepada sesama bersemayam di sanubari.

 

Segores kata tentang anakku

Khadijah, kau terbingkai indah dalam hati

Setiap Bunda menatapmu terlukis sebuah pelangi

Warna pelangi yang dibawa oleh malaikat pembawa cahaya

Dan karena itulah, hadirmu selalu menerangi jiwa

Khadijah, Bunda sayang kamu karena Allah                     

 

(Visited 12 times, 12 visits today)
Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

More Posts

Ariyanti Dwiantika

Ariyanti Dwiantika

Alhamdulillah tahun 2014 tepatnya bulan Oktober Allah mengijinkan saya bergabung dengan Sekolah Alam Indonesia sebagai fasilitator. Sebelumnya pernah mengajar di sebuah Sekolah Taman Kanak-kanak Tadika Ash Shofwan selama 7 tahun. Salah satu hal yang membahagiakan adalah di beri kesempatan untuk selalu bercengkrama bersama anak-anak. Karena bersama segudang ilmu bisa kita dapatkan. Hal yang pasti menghampiri kita adalah kematian, saya bercita-cita sebelum kematian menjemput, saya ingin melahirkan tulisan yang akan menjadi salah satu amalan bermanfaat untuk umat. Menyatukan aksara demi aksara agar menjadi bermakna adalah hobi dari dulu hingga kini.

Leave a Reply