Merunduklah Meski Sedang Berisi

Suatu saat masyarakat di zamannya bertanya kepada Nabiyullah Musa a.s, ” Siapa yang paling pandai di bumi ini?” Ia menjawab pertanyaan dengan menyatakan dirinyalah yang paling pandai di dunia ini. Dengan ilmu yang dimilikinya Musa a.s menyangka bahwa dirinyalah yang paling pandai. Apalagi ia termasuk para rasul yang mendapat gelar ulul azmi.

Ternyata tidak benar demikian, sebab Allah SWT mewahyukan kepadanya bahwa ada manusia yang lebih mengerti darinya. Karena itu, Allah menyuruhnya melakukan perjalanan ke daerah tertentu, di pertemuan dua lautan. Maka iapun melakukan perjalanan jauh sampai merasa sangat letih. Saat itu ia berkata kepada muridnya.

” Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. ” (QS. Al Kahfi: 62)

Jika bukan karena ketundukan dan kepatuhan yang mendalam atas perintah Allah, tentu Musa a.s tak akan melanjutkan perjalanan itu. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seorang laki-laki sholih yang mempunyai ilmu penting yang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia, yaitu ke-tsiqah-an (kepercayaan) pada ketentuan Allah SWT dengan sebenar-benar pengenalan.

Dari pertemuan itu, ada tiga peristiwa yang membuat Musa a.s terheran-heran karena secara lahiriah, hikmahnya belum tampak, namun justru kelihatan sebagai perbuatan yang salah. Khidhr ternyata mampu menyingkap hikmah di balik semua perbuatan yang dilakukannya.

Belajar dari kisah ini, terkadang kita masih sering terlena dengan ilmu yang kita miliki. Akibatnya kita melupakan sikap tawadhu’ , merasa puas dengan apa yang sudah kita dapat, sehingga kita tak mau bersusah-susah mempelajari ilmu yang belum tampak hikmahnya secara lahir. Fitnah seperti ini nampak jelas dalam kisah Musa a.s bersama Khidhr. Ia lengah dan menyangka bahwa tidak ada seorangpun yang mengungguli ilmunya. Maka ketika tersadar, ia rela menempuh perjalanan panjang untuk belajar kepada Khidhr dan bersikap tawadhu’ kepadanya, sebagaimana layaknya seorang murid terhadap guru.

” Musa berkata kepada Khidhr, ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi : 66)

Bagaimana agar terhindar dari fitnah ilmu? Merunduklah meski sedang berisi, ibarat ilmu padi yang makin merunduk ketika makin berisi, maka tawadhu’lah yang menjadi bahtera penyelamat kita. Sebagaimana Musa a.s mengajarkan kepada kita,

“Musa berkata : ‘ In syaa Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.'” (QS. Al Kahfi :69)

Meski saat itu Musa adalah seorang nabi, rasul, dan ulul azmi, bahkan dia adalah kalimullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah SWT), tetaplah tawadhu’ yang menjadi kuncinya

Merunduk meski sedang berisi..

Referensi : Khawatir Qur’aniyah bab Surat Al Kahfi

(Visited 93 times, 2 visits today)
Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook

Ratih Nur'aini Lathifah

Ratih Nur'aini Lathifah

Seorang ibu rumah tangga biasa yang punya cara menumpahkan ekspresi melalui tulisan. Buku pertamanya dicetak secara indie pada tahun 2010 dengan judul "Kasih Ibu Menembus Batas". Dua tahun kemudian memenangkan lomba Mother award yang diselenggarakan oleh Adfamilia atas naskah yang ditulis dengan judul sama. Bersama temannya menghasilkan 2 buku masing-masing buku parenting dengan judul "Ya Allah Jadikan Aku Sekolah Terbaik untuk Anakku" yang diterbitkan oleh Qutummedia dan buku " Serpihan Kenangan" yang diterbitkan oleh Quanta Elexmedia Computindo. Punya keinginan mencetak penulis-penulis cilik dengan mengisi Pelatihan Penulis anak-anak bersama salah seorang temannya di Sekolah Alam Indonesia

Leave a Reply